Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Keren, Warga Wonomerto Ini Melukis dengan Kopi

Ronald Fernando • Rabu, 31 Agustus 2022 | 16:47 WIB
UNIK : Muhammad Hafidul Kamil melukis wajah KH. Maimun Zubair menggunakan kopi. Hasilnya mirip dengan aslinya dan juga unik. (Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
UNIK : Muhammad Hafidul Kamil melukis wajah KH. Maimun Zubair menggunakan kopi. Hasilnya mirip dengan aslinya dan juga unik. (Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
Bagi Muhammad Hafidul Kamil, 28, secangkir kopi bukan sekadar untuk diminum. Lalu dibuang ampasnya. Kopi baginya media yang mampu menghasilkan karya lukis bernilai.

----------------------------------------------------

ACHMAD ARIANTO, Wonomerto, Radar Bromo

----------------------------------------------------

 SUARA rekaman kicau burung siang itu terdengar merdu. Sambil mendengarkan suara rekaman itu, Muhammad Hafidul Kamil sedang fokus menyelesaikan sebuah lukisan di sebuah ruangan.

Kali ini, dia melukis wajah KH Maimun Zubair pada selembar kertas berukuran A4. Sepintas gambar yang dilukis hampir sama seperti lukisan lainnya. Namun, saat dilihat dari dekat, ada yang istimewa dari lukisannya.

Hafid panggilannya, melukis dengan menggunakan secangkir kopi. Menjadi media pengganti cat air atau cat minyak.

Dicelupkannya kuas kecil ke cangkir berisi kopi itu. Lalu, kuas disapukannya ke kertas A4 yang jadi media gambarnya. Begitu terus menerus. Hingga membentuk guratan wajah Kiai Maimun yang karismatik itu.

Sesekali dirinya menunggu goresan dari cangkir kopi itu kering. Sambil lalu, ia pandangi lukisan di depannya untuk memastikan titik yang harus disempurnakan.

“Ini gambar yang cukup saya suka. Sebab, objeknya adalah kiai yang jadi panutan umat. Karena itulah saya gambar semirip mungkin,” terang warga Dusun Gedangan, Desa Sumberkare, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, ini.

Hafid mulai melukis dengan menggunakan kopi sejak dua tahun lalu. Dirinya tergerak memanfaatkan kopi untuk melukis karena sering melihat sisa kopi di gelas.

Hafid lantas iseng mengambil sebuah kuas kecil dan selembar buku gambar. Lalu, mulailah dia meluksi wajah dengan media tersebut. Tak disangka, bukan hanya karya seni yang dihasilkannya. Dari sana, Hafid merasakan kepuasan tersendiri. Karena itu, dia pun terus melukis dengan menggunakan kopi.

“Dari kopi cair pada kuas, ketika diaplikasikan pada kertas hasilnya cukup unik. Jadi saya tertarik. Kemudian otodidak belajar melukis dengan kopi,” tuturnya.

Secara umum melukis dengan kopi memiliki teknik yang sama seperti melukis menggunakan cat air atau minyak. Bedanya, melukis menggunakan kopi menghasilkan gambar dengan nuansa monokrom atau warna tunggal. Hanya memiliki gradasi satu warna dasar yang tidak bercampur dengan warna dasar lain. Yaitu, warna cokelat.

Justru karena hasil monokrom ini, membuat Hafid semangat mengasah teknik melukis dengan kopi. Sebab, untuk setiap goresan kopi memerlukan racikan khusus.

Untuk memainkan pola warna gelap atau tebal, bubuk kopi harus diseduh dengan sedikit air. Sementara untuk mendapatkan warna yang cerah, kopi diseduh dengan air yang lebih banyak.

“Kopi yang saya gunakan adalah bubuk kopi tanpa ampas. Jadi saat diaplikasikan pada kertas tidak menimbulkan efek kasar. Cukup halus, layaknya cat,” bebernya.

Intinya, perpaduan air dan kopi harus imbang. Sebab, jika terlalu encer, warna yang dibutukan tidak diperoleh. Sementara saat lebih banyak kopi daripada air, maka tidak bisa diaplikasikan ke kertas. Jika dipaksakan hasilnya akan pecah.

Sama seperti media yang lain, menggunakan bubuk kopi juga bisa melukis semua objek. Mulai pemandangan, hingga gambar realis. Namun, Hafid lebih sering menggambar potret wajah. Mulai tokoh nasional, hingga kiai.

Hasil lukisannya kemudian ia upload di media sosial yang dimilikinya. Dari sana, sejumlah pesanan pun diterimanya.

“Banyak yang tidak percaya kalau lukisan yang saya buat menggunakan kopi. Karena unik, ada beberapa yang meminta saya untuk membuatkan lukisan. Tetapi, paling banyak lukisan ulama. Seperti Habib Luthfi bin Yahya, KH. Maimun Zubair, dan beberapa ulama lainnya,” katanya.

Hafid yang juga piawai menggambar dengan pensil ini mengaku, saat melukis wajah ulama kerap menemukan kedamaian di hatinya. Sampai-sampai ketika menggoreskan kopi pada kertas tak terasa bacaan Salawat keluar dari mulutnya. Sementara tangan yang memegang kuas tetap menggoreskan kopi. Dia pun berulangkali mengecek lukisannya agar mirip dengan wajah aslinya.

“Ada perasaan bangga saat lukisan disukai orang lain. Apalagi saat menerima pesanan lukisan ulama. Selain menyalurkan hobi dan bakat, mudah-mudahan dapat barokah dari objek yang digambar,” katanya tersenyum. (hn) Editor : Ronald Fernando
#seniman probolinggo