FUAD ALYZEN, Probolinggo, Radar Bromo
MISNADIYANTO awalnya bingung, kenapa bakso dagangannya tidak laku. Padahal, biasanya warung bakso miliknya itu selalu ramai. Baksonya laris manis. Hampir tiap hari tidak pernah tersisa.
Namun, beberapa minggu belakangan warungnya makin sepi dan sepi. Nyaris tidak ada pembeli. Pendapatannya pun jadi turun drastis.
“Saat itu, pendapatan warung bakso saya langsung turun. Pemasukan berkurang terus. Sedangkan pengeluaran tetap. Termasuk pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari dan anak,” terang warga Dusun Lori, RT 12/RW 3, Desa Sumurmati, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.
Untuk biaya sekolah misalnya, butuh biaya tidak sedikit. Anak pertamanya sedang kuliah di perguruan tinggi. Sedangkan anak keduanya masih SMP.
Karena penasaran, lelaki 48 tahun itu pun bercerita pada seorang penjual daging sapi yang selama ini jadi langganannya. Setelah mendengar penjelasan penjual daging sapi itu, barulah dia paham.
Rupanya, saat ini banyak orang yang enggan makan daging sapi. Sebab, wabah PMK sedang menyerang hewan berkuku belah, terutama sapi.
Itulah mengapa, banyak orang kemudian menghindari makan daging sapi atau produk olahannya. Termasuk bakso yang bahan dasarnya daging sapi. Dan warung Misnadi di Sumurmati pun jadi terkena imbasnya.
Di desanya sendiri, menurut Misnadi, pernah ada pihak yang menyampaikan bahwa semua daging sapi sudah kena PMK. Warga pun percaya begitu saja. Sebab, mayoritas sapi milik warga di sekitar rumahnya memang terserang PMK.
Ada yang kuku kakinya lunak sampai copot. Ada juga yang mulutnya mengeluarkan air liur berbau busuk.
Karena kondisi itu, warga pun enggan membeli bakso. Alasannya jijik dan takut tertular PMK dari pentol bakso yang dimakan.
“Jangankan makan bakso, makan rawon hajatan saja enggan. Mereka bilang begini, anapah ngakan deging sapeh? Merengis. Apapole ngakan bakso. (Ngapain makan daging sapi, jijik. Apalagi makan bakso),” ujarnya.
Misnadi pun panik. Dia memutar otak untuk mendapatkan penghasilan selain dari menjual bakso. Sebab, warung baksonya saat ini sedang tidak bisa diandalkan. Padahal, hanya itu profesinya selama 26 tahun terakhir.
Dia pun bertanya sana sini, terutama pada warga sekitar. Hingga akhirnya, Misnadi menemukan ide. Dia memutuskan untuk menutup sementara warung baksonya. Dan beralih profesi berjualan mi ayam.
Namun, tentu saja Misnadi membutuhkan biaya untuk persiapan dagangan barunya. Seperti gerobak, bumbu, sayur, dan lainnya.
Di sisi lain, tabungannya menipis. Apalagi selama wabah PMK menyerang, dia nyaris tidak bisa menabung. Malah tekor.
Mau tidak mau, Misnadi pun meminjam uang ke bank. Tak apalah menurutnya sebagai modal awal.
“Dengan begini, saya bisa jualan lagi. Kalau bisa cepat normal lagi. Kalau sudah normal, saya akan jualan bakso lagi. Dan tetap jualan mi ayam juga,” katanya.
Hal yang sama dilakukan Ulil Amri, 46, pedagang bakso asal Kecamatan Gading. Sudah seminggu lebih tidak lagi jualan bakso. Sebab, pembeli sepi sejak wabah PMK menyerang. Bukan untung, malah Ulil jadi rugi. Sebab, modalnya tidak kembali.
"Saya jualnya keliling. Baru bulan kemarin saya jualan bakso. Tapi, kok setiap hari pembelinya sepi. Akhirnya modal lama baliknya, bahkan rugi. Jadi saya balik lagi menjadi buruh tani," tutur bapak dua anak ini.
Ulil memang beralih profesi dari petani menjadi pedagang bakso. Itu dilakukannya karena desakan kebutuhan keluarga yang setiap harinya terus bertambah.
Dia pun menyiapkan modal sekitar Rp 1 juta untuk memiliki usaha sendiri. Dan pilihannya yaitu menjual bakso. Namun, rupanya Ulil memulai di saat yang tidak tepat. Saat wabah PMK sedang menyerang sapi. Akibatnya, jualannya justru tidak laku.
"Jadi penjual bakso niatnya biar nggak panas-panasan di sawah terus. Ternyata tidak jalan. Ya jadi buruh tani lagi. Meski tidak seberapa, yang penting pemasukan ada," tuturnya. (hn) Editor : Ronald Fernando