Kondisi makam Ki Ageng Penanggungan itu sangat bersih. Suasana di sekitarnya juga rindang dan sejuk. Makam itu berada di bangunan joglo beratapkan genteng dengan lantai keramik. Tidak jauh dari makam itu, ada makam lima muridnya.
“Makam yang di tengah itu, yang ada tirainya, itu makam Ki Ageng Penanggungan. Lalu lima makam lainnya di sebelah barat adalah murid-murid beliau,” terang Kepala Dusun (Kasun) Penanggungan Efendi Arianto.
Makam itu sendiri sudah lama ada di Dusun Penanggungan. Bahkan, sejak zaman kakek nenek mereka belum lahir, sudah ada makam itu. Namun, awalnya memang tidak diketahui makam siapa itu. Warga hanya mengenalnya sebagai makam Ki Ageng Penanggungan. Sama dengan nama dusun tempat warga tinggal.
Dulu, nisan di makam itu hanya satu. Setelah diketahui makam itu merupakan makam seorang wali, akhirnya nisan dilengkapi. Lalu, areal makam dipagar bambu. Namun, tanpa ada bangunan.
Baru pada tahun 2017, dibangun joglo di makam itu. Warga sekitar pun merawat makam itu tiap harinya. Sehingga kondisinya selalu bersih.
“Kalau menurut cerita leluhur kami di dusun ini, semua hewan yang lewat di atas makam pasti mati. Seperti kucing, ayam, dan burung. Akhirnya diketahui Ki Ageng Penanggungan ini seorang Waliyullah,” katanya.
Adapun nama Sayid Yahya diketahui saat datang peziarah dari Jawa Tengah ke makam itu. Yaitu, Habib Lutfi. Habib Lutfi yang kemudian memberitahu warga makam itu milik siapa.
“Warga tahunya itu makam Ki Ageng Penanggungan. Ternyata menurut Habib Lutfi yang pernah ziarah, nama aslinya Sayid Yahya,” ujarnya.
Berdasarkan cerita turun temurun di dusunnya, Ki Ageng Penanggungan datang dari Kerajaan Mataram. Dia berkelana ke puncak Gunung Penanggungan di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Sebelum akhirnya menetap di Dusun Penanggungan, Desa Kejapanan.
“Nama dusun ini mengambil dari nama beliau, yaitu Dusun Penanggungan. Beliau masih kerabat Sunan Ampel. Banyak yang mengatakan masih pamannya,” cetus Efendi, sapaan akrabnya.
Kewalian Ki Ageng Penanggungan pun dikenal hingga keluar jawa. Tidak heran, banyak peziarah yang datang ke makamnya. Bahkan, ulama besar pun banyak yang datang.
Antara lain, Habib Lutfi dari Pekalongan. Kemudian almarhum Gus Dur, almarhum Mbah Dul, juga almarhum KH. Ali Mas’ud dari Sidoarjo. Termasuk KH Ali Mashuri atau Gus Ali dari Tulanggan, Sidoarjo. Dan ulama besar atau terkenal lainnya.
“Beliau-beliau pernah ke sini semua, ziarah ke Makam Ki Ageng Penanggungan. Kalau masyarakat umum, tiap hari selalu ada yang ziarah. Paling ramai Kamis malam Jumat,” terangnya.
Mereka datang dari berbagai daerah di Pulau Jawa, hingga Kalimantan. Mereka yang dari luar Jawa Timur biasanya bermalam hingga beberapa hari. Mereka istirahat di paseban, juga di masjid dekat makam.
Setahun sekali, juga ada haul Ki Ageng Penanggungan. Peziarah yang datang saat haul biasanya ramai sekali, ratusan sampai ribuan orang. Tahun ini, haulnya Februari kemarin dan untuk tahun depan di bulan Januari.
“Para peziarah lebih banyak datang dari luar daerah. Kalau sekitaran Pasuruan ada, tapi tidak terlalu banyak. Karena di luar daerah sangat dikenal,” ucapnya.
Mayasari, warga lainnya menuturkan, Ki Ageng Penanggungan adalah tokoh ulama penyebar agama Islam. Masih memiliki hubungan saudara dengan Sunan Ampel di Surabaya.
Saat Radar Bromo datang ke makam Ki Ageng Penanggungan, beberapa warga sedang berziarah. Ada yang datang naik motor, juga ada yang mengendarai mobil.
Karena lokasinya terjangkau, mobil bisa masuk mendekati areal makam dan parkir di luar. Lalu, jarak dari Balai Desa Kejapanan hanya 100 meter, dari jalan raya nasional jurusan Surabaya–Malang 150 meter saja.
“Saya rutin datang ke sini Jumat pagi, sebulan sekali. Tujuannya berziarah sekaligus ngalap berkah,” tutur Hendra dari Sidoarjo. (rizal fahmi syatori/hn) Editor : Jawanto Arifin