Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sosok Gus Muhammad Manbaul Hikam, Pondok Pesantren Kramat Kraton

Ronald Fernando • Sabtu, 30 April 2022 | 17:44 WIB
LANJUTKAN PERJUANGAN: Gus Muhammad Manbaul Hikam dalam suatu kesempatan.
LANJUTKAN PERJUANGAN: Gus Muhammad Manbaul Hikam dalam suatu kesempatan.
Usianya masih sangat muda. Namun, Gus Muhammad Manbaul Hikam sudah harus meneruskan perjuangan abahnya di jalur dakwah. Cukup menantang memang. Apalagi jamaah yang dihadapi notabene berusia jauh lebih tua darinya. Namun, ia membuktikan dirinya mampu.

 

IA lahir dan besar di lingkungan pesantren. Abahnya, Gus Ahmad Nurhasan selalu membimbingnya sedari kecil. Hingga masa remaja, Gus Hikam menimba ilmu di Pondok Pesantren Sidogiri. Di sana pula, ia menempa diri.

“Abah selalu berpesan supaya saya tidak canggung bila terjun ke masyarakat,” kata Gus Hikam. Wajar saja, sebagai ulama memang harus dekat dengan umat. Sehingga jalan dakwah yang ditempuh benar-benar melekat dan mudah diterima.

Karena itu,sejak remaja, Gus Hikam sudah seringkali dilibatkan dalam berbagai kegiatan keagamaan. Seperti manakib, tahlil, hingga pengajian kitab. Memang, usianya yang masih sangat muda, seringkali membuatnya gugup. Lebih-lebih, jamaah yang dihadapi bukan hanya dari kalangan anak muda.

“Lebih banyak yang usianya jauh di atas saya. Tentu saja, ketika baru mengawali pasti ada rasa gugup, wajar,” ungkapnya.

Bahkan, Gus Hikam juga terang-terangan mengakui dirinya dulu boleh dibilang pendiam. Bahkan, cenderung menjadi pemalu. “Makanya, butuh mental yang kuat ketika menghadapi masyarakat,” katanya.

Ia merasa beruntung. Sebab, saat di pesantren dulu, sempat mengikuti Jamiyah Mubalighin. Sebuah program yang memang dikhususkan bagi santri untuk mampu berdakwah. Hal itu juga atas arahan abahnya. Sejak itu Gus Hikam mulai menekuni metode berdakwah.



“Ibaratnya anaknya harimau juga harus punya taring yang tajam. Jadi kalau abahnya bisa ceramah, anaknya masak nggak bisa,” kata generasi kelima dari Kiai Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Kramat itu.

Sekitar setahun lamanya Gus Hikam mengikuti program Jamiyah Mubalighin di Sidogiri. Pembelajarannya pun dikolaborasikan antara materi dengan praktik. Pembimbingnya hanya menentukan tema besar yang mesti dijadikan bahan dakwah.

“Misalnya birul walidain. Jadi itu yang harus kami kembangkan. Sepekan kemudian presentasi,” jelasnya.

Di samping belajar metode dakwah di pesantren, Gus Hikam juga banyak belajar dari abahnya sendiri. Hanya saja, abahnya lebih menekankan metode berpidato di depan banyak orang, di depan jamaah. Termasuk bagaimana seorang pendakwah harus menghormati siapapun yang diajak bicara.

“Prinsipnya dari abah harus menghormati sesama, apalagi yang lebih sepuh. Dan bagaimana supaya bisa berdakwah, satu-satunya dengan langsung praktik,” ujarnya.

Karena itu, saat masih Aliyah, Gus Hikam sudah beberapa kali diajak abahnya untuk memimpin majelis. Di usianya yang sekarang menginjak 21 tahun, Gus Hikam sudah aktif mengajar Ibtidaiyah dan Tsanawiyah di pondok pesantren yang didirikan mbah buyutnya itu.

Tak hanya itu, Gus Hikam bahkan aktif berdakwah di sejumlah tempat. Ia kini juga kerap mewakili abahnya memimpin Majelis Al Karim. Bersama pamannya, Gus Muhyidin. Majelis itu dirintis oleh kakeknya, Kiai Abdul Karim bin Thoyyib. Jamaahnya tersebar. Karena itu, lokasi digelarnya majelis juga berpindah-pindah. (tom/mie) Editor : Ronald Fernando
#penerus pesantren #pesantren di pasuruan #gus milenial