TAK sempat dibayangkan. Ketika masih asyik kuliah, usia masih muda, Gus Muhammad Miftahul Huda harus mengurus pesantren. Bukan menjadi pengurus biasa, melainkan memegang tampuk kepemimpinan. Menjadi pengasuh sekaligus ketua yayasan.
Padahal, saat itu, pada 2016, usianya masih 26 tahun. Ia juga masih duduk di bangku kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Namun, amanat itu harus diterima. Ayahandanya, K.H. Ridho Yasin, selaku pendiri sekaligus pengasuh pesantren kala itu meninggal dunia.
Gus Huda –panggilan Gus Muhammad Miftahul Huda- pun harus meneruskan perjuangannya. Pesantren yang telah banyak mendidik putra-putri umat itu harus tetap eksis. “Tahun itu, masa berat bagi saya dan tak mudah. Setelah abah meninggal, saya meneruskan abah menjadi pengasuh ponpes yang beliau dirikan,” ujarnya.
Menjadi pengasuh, tak lantas membuat pendidikannya di bangku kuliah putus. Gus Huda berusaha membagi waktunya antara mendampingi santri dan menambah ilmu pengetahuan di dunia kampus. Bahkan, ia bisa tetap fokus menamatkan strata dua di kampus yang sama. “Lulus kuliah S-2, saya lebih fokus di pesantren. Alhamdulillah diberi kelancaran sama Allah SWT,” ujar bapak seorang anak ini.
Sama dengan mayoritas pesantren, Gus Huda yang tak melupakan kitab-kitab klasik. Melalui kitab kuning ini ia berusaha berbagi ilmu dengan santrinya. Usai salat Subuh, ia mengampu sejumlah pengajian kitab. Mulai tafsir, nahwu, dan fikih.
Di luar itu, ia juga menekankan santrinya bisa mandiri. Serta, mempunyai skill dan cakap dalam berogranisasi. “Seorang santri tidak cukup hanya pintar ilmu keagamaan. Tapi, juga harus mandiri serta terampil. Minimal punya skill, serta cakap berorganisasi,” ujarnya.
Meski masih muda, Gus Huda berhasil menjadi eksistensi dan mengembangkan pesantren peninggalan orang tuanya. Katanya, hal itu berkat pengalaman yang didapat dari berbagai pesantren serta bangku kuliah. Gus Huda memang pernah nyantri di sejumlah pesantren di Jawa Timur. Salah satunya di Pesantren Tanwirul Hijaa Bangil.
“Alhamdulillah, dulu juga pernah mondok dan menjadi santri. Juga kuliah hingga S-2. Ini modal penting bagi saya sebagai pengasuh ponpes,” tuturnya.
Di luar pesantren, Gus Huda juga memiliki sejumlah kesibukan. Ia juga aktif di Karang Taruna, KNPI Kecamatan Pandaan, dan HIPMI Kabupaten Pasuruan. Bahkan, tercatat sebagai Ketua Rijalul Ansor Pandaan dan Bendahara Rijalul Ansor di PC Ansor Bangil.
“Meski sibuk dengan kegiatan di luar, ngurus santri dan pondok tetap fokus serta jalan terus. Keluarga sangat mendukung apa yang saya lakukan selama ini. Terutama istri,” ujar suami Ning Faiqotul Himmah tersebut. (rizal fahmi syatori/rud) Editor : Ronald Fernando