Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Suaiba, Siswi MAN 1 Pasuruan Juara Menulis Seni Kaligrafi Jepang

Jawanto Arifin • Sabtu, 13 November 2021 | 23:05 WIB
MEMBANGGAKAN: Suaiba (tengah) didampingi Kepala MAN 1 Pasuruan, Bustanul Arifin dan Fauziah, guru Bahasa Jepang MAN 1 Pasuruan. Dia menunjukkan senigrafi Jepang karyanya yang memenangi lomba tingkat nasional. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
MEMBANGGAKAN: Suaiba (tengah) didampingi Kepala MAN 1 Pasuruan, Bustanul Arifin dan Fauziah, guru Bahasa Jepang MAN 1 Pasuruan. Dia menunjukkan senigrafi Jepang karyanya yang memenangi lomba tingkat nasional. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)
Keterampilan menulis seni kaligrafi Jepang atau biasa disebut shodo mengantarkan prestasi membanggakan bagi Suaiba, 17. Pelajar MAN 1 Pasuruan di Bangil ini berhasil menyabet juara pertama dalam lomba shodo tingkat nasional yang digelar Universitas Diponegoro Semarang pada Oktober 2021.

-------------------

GADIS 17 tahun itu begitu bersemangat saat diminta menceritakan pengalamannya memenangi lomba shodo tingkat nasional pada Oktober 2021. Dengan antusias ia menjabarkannya.

Ia pun mengaku tak menyangka bisa menjadi juara pertama. Karena dalam bayangannya, bisa meraih juara dua atau tiga sudah bagus untuknya.

“Saya baru ikut lomba shodo pertama kali ini. Ini kejuaraan nasional. Jelas tidak percaya. Apalagi bisa menjadi juara pertama,” kata Suaiba menggebu-gebu, Kamis (11/11).

Pelajar kelas XII Ilmu Bahasa dan Budaya ini menceritakan awal mula ia bisa mengikuti lomba. Ketika itu, ada pelajaran Bahasa Jepang di madrasahnya. Ia dan teman-temannya diminta mengerjakan tugas menulis seni kaligrafi Jepang, shodo oleh sensei Fauziah.

Saat melihat hasil karyanya, sensei Fauziah cukup terkesima. Karya Suaiba itu dinilai bagus. Ia pun dianggap memiliki bakat.

“Waktu itu sekitar bulan September. Saya diminta ikut seleksi untuk lomba shodo di Undip Semarang,” ungkap putri dari pasangan Akhiyat dan almarhum Parmi ini.



Semula ia ragu. Maklum, ia memang kurang menyukai shodo. Tapi, setelah memotivasi diri, ia pun berpartisipasi.

Ada kurang lebih delapan siswa yang ikut seleksi. Hingga akhirnya, ia dan adik kelasnya yang dipilih. Mereka kemudian dilatih untuk menghadapi kompetisi.

Latihan tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga pekan. Selama itu pula, rutinitas latihan harus dilakukan. Ia juga harus latihan keras untuk membawa harum nama sekolah.

“Latihan tidak hanya di sekolah. Setiap ada waktu luang di rumah, saya berlatih. Tidak mudah. Karena, tangan masih kaku. Pegang kuas saja masih susah karena tidak mengerti tekniknya,” aku kelahiran 12 September 2004 tersebut.

Coretan demi coretan shodo dibuatnya. Awalnya, hasilnya tak memuaskan. Karena, banyak kesalahan. Kurang rapi. Masih banyak goresan di luar tulisan.

Berlembar-lembar kertas dihabiskannya. Bahkan, ia sempat merasa putus asa. Lantaran tak kunjung bisa. “Memang kelihatannya gampang. Tapi, setelah terjun, sulit sekali. Saya sampai merasa putus asa, karena tidak kunjung bisa,” curhatnya.

Tapi, semangatnya kembali membara setelah orang-orang di sekitarnya memotivasinya. Ia bangkit dan terus berusaha.



Upayanya membuahkan hasil. Karya awal bertuliskan Aki/Autumn atau musim gugur pada babak penyisihan, mampu membuatnya lolos ke babak berikutnya. Babak penyisihan ajang lomba Edukasi “Original Event of Japan in Indonesia (ORENJI) 2021” tingkat SMA/SMK/MA sederajat itu sendiri, berlangsung 4 Oktober sampai 10 Oktober 2021.

Memang ia tidak ke Semarang. Karena, lombanya digelar secara online. Ia mengirimkan karyanya ke panitia. Baik hasil karya tulisan dan video penulisan kaligrafi Jepang.

“Saya tidak percaya bisa menembus 10 besar dan masuk final,” timpalnya.

Final lomba shodo itu dilangsungkan 17 Oktober hingga 21 Oktober. Sama dengan babak penyisihan, ia harus mengirimkan karya via google form. Baik karya tulisan hingga video penulisan shodo.

Kali ini, ia menuliskan Atarashii yang berartikan baru. Hasilnya, diumumkan 25 Oktober 2021. Ia mendapatkan notifikasi. Semula, ia mengira hanya juara dua atau tiga. Tapi, setelah dicek, ternyata juara pertama.

“Saya kaget dan tak menyangka. Sampai nangis saking senangnya,” tuturnya.

Guru Bahasa Jepang MAN 1 Pasuruan Fauziah mengaku, prestasi tersebut benar-benar sebuah hal yang tak disangkanya. Maklum, Suaiba baru pertama kali belajar. Tapi, sudah bisa menyabet juara pertama.



“Saya agak menyesal juga, kok tidak dari dulu-dulu memilih dia untuk ikut lomba,” paparnya.

Sebab, sejumlah lomba shodo pernah diikuti pelajar MAN 1 Pasuruan. Tapi, tingkatannya baru Provinsi Jatim. Untuk nasional, baru pertama dan berhasil meraih juara pertama.

Kepala MAN 1 Pasuruan Bustanul Arifin memandang, apa yang diraih santriwatinya tersebut sebuah hal yang membanggakan. Karena, tidak banyak anak yang memahami dan mengerti bahasa Jepang. Apalagi seni shodo yang merupakan kaligrafi bahasa Jepang.

Tentu, prestasi tersebut tidak hanya mengharumkan nama madrasah. Tetapi juga, nama Kabupaten Pasuruan.

“Semoga, prestasi tersebut bisa menginspirasi siswa lain. Baik prestasi akademik ataupun nonakademik. Kami juga mengapresiasi peranan Bu Fauziah yang akhirnya bisa mengantarkan anak didiknya meraih prestasi,” tandasnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#kaligrafi jepang #man 1 pasuruan