Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Inilah Asal-usul Desa Kertosono di Gading

Fandi Armanto • Sabtu, 7 Agustus 2021 | 17:39 WIB
MBAH RAMAH: Makam Mbah ramah, keturunan dari bapak Kerta dan Ibu Sana, pembabat Desa Kertosono. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
MBAH RAMAH: Makam Mbah ramah, keturunan dari bapak Kerta dan Ibu Sana, pembabat Desa Kertosono. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
Banyak legenda yang tersimpan tentang asal usul berdirinya sebuah daerah. Termasuk Desa Kertosono, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Nama Kertosono diyakini warga setempat berasal dari dua nama. Yakni, Kerta dan Sana yang kemudian dalam ejaan Jawa menjadi Kerto dan Sono.

 

KARTA dan Sana dipercaya sebagai pembabat alas atau orang yang pertama kali tinggal di Desa Kertosono. Keduanya adalah pasangan suami istri (pasutri) dari Madura pada masa Kerajaan Majapahit. Masyarakat sekitar menyebutnya Bapak Kerta dan Ibu Sana.

“Dalam bahasa Jawa Kemudian menjadi Kerto dan Sono. Maksudnya ya Pak Kerta dan Ibu Sana,” terang Kasim, warga Desa Kertosono, Gading.

Memang, tak banyak referensi yang mengisahkan tentang kehidupan Kerta dan Sana. Namun, setelah menetap di Kertosono, mereka memiliki keturunan yang hidup sampai sekarang. Termasuk Kasim adalah anak keturunan Kerta dan Sana.

“Di Dusun Ramah, RT 2 itu masih ada cicit dan canggahnya (anak keturunan, red),” ujar pria yang juga Sekretaris Desa Kertosono ini.

Ada juga beberapa keturunan Pak Kerta dan Ibu Sana yang sangat dikenal di Kertosono sampai saat ini. Bahkan, kuburannya juga ada. Yakni, Mba Melik, Mbah Ramah atau biasa disebut Bujuk Ramah, Mbah Ombut atau biasa disebut Bujuk Ombut dan Mbah Tole.

“Saya ini anak keturunan Bapak Kerta dan Ibu Sana dari Mbah Ombut. Keturunan yang lain juga banyak. Kami menyampaikan garis keturuan kami ini secara turun temurun,” tuturnya.

Mereka memiliki kelebihan masing-masing saat masih hidup. Mbah Ramah misalnya, merupakah tokoh agama Islam di Kertosono. Sementara itu, Mbah Ombut dan Mbah Tole memiliki kelebihan di bidang supranatural.

Mereka juga memiliki kesaktian lebih dibandingkan manusia bisa. Ia mencontohkan Mbah Ombut yang saat meninggal kuburannya tidak pernah bersih, meski sudah dibersihkan.

“Misalnya dibersihkan sore hari, paginya rerumputan kembali rimbun. Ombut diambil dari bahasa madura artinya rumput yang rimbun. Itu merupakan isyarat bahwa tidak boleh ada orang yang datang ke kuburan. Jadi makamnya tidak pernah bersih,” ujarnya.

Lalu, Mbah Tole dikenal dapat menyembuhkan beragam penyakit. Sehingga pada masanya, banyak warga yang berobat pada Mbah Tole.

Dengan kesaktian mereka, beberapa tahun silam banyak orang yang tirakat atau semedi di makam mereka. Namun, kini sudah tidak ada.

“Dulu banyak yang tirakat di makam keturunan Bapak Sana dan Ibu Kerta. Baik di makam Bujuk Ramah maupun lainya. Namun, saat ini sudah tidak ada. Mungkin karena zamannya sudah berubah,” ujarnya.

Mereka yang tirakat biasanya berharap kesaktian dan keberkahan hidup. Namun, tidak sembarang orang yang bisa mendapatkannya.

“Beberapa orang yang tirakat ada yang didatangi dalam mimpi dan Mbah menyebut katanya been benne tang toron (kamu bukan keturunanku, red). Ada juga yang isyarohnya bermimpi diberi kertas, tapi kertasnya kosong. Artinya, mereka bukan anak keturunannya,” ujarnya. (agus faiz musleh/hn)

 

Bedug Jadi Saksi Cerita

Selain nama Desa Kertosono, nama dusun di desa itu juga dipercaya berasal dari nama keturunan Kerta dan sana. Misalnya Dusun Ramah diambil dari nama Mbah Ramah selaku pemuka agama di desanya.

Kasim juga menceritakan, dulu di dekat makam Mbah Ramah ada pohon jati dengan tinggi 250 meter. Saking tingginya, pohon jati tersebut terlihat dari Kraksaan yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Kertosono. “Terlihat dari Kraksaan, sebab tingginya sekitar 250 meter,” ujarnya.

Namun, pohon jati tersebut ditebang dan kayunya dijadikan surau. Masyarakat dulu menyebutnya surau besar dan berdiri di atas sisa pohon yang telah ditebang.

“Saking besarnya pohon jati itu, hanya sebagian kecil saja kayu yang digunakan untuk surau. Bangunannya full dari kayu jati,” ujarnya.

Namun, beberapa tahun silam surau besar itu dipugar oleh keturunan Mbah Ramah dan menjadi masjid An-Nur. Namun, masih ada bedug yang berasal dari surau itu.

Photo
Photo
BEDUK: Beduk di Masjid An-Nur, sisa dari pohon jati yang memiliki panjang 250 meter dan terlihat dari Kraksaan. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

“Cukup besar beduknya dan kayunya utuh, tidak ada sambungan. Kayu yang dipakai itu sisa dari pohon jati tersebut. Untuk membuat beduk ini konon hanya diambilkan kayu cabang oohon jati,” ujarnya.

Kini, makam Bapak Kerta, ibu sana dan Bujuk ramah berada di tengah-tengah pemukiman. Di mana warga pemilik rumah di sekitar makam adalah keturunannya.

“Untuk makan Mbah Melik, Mbah Ombut dan Mbah tole ada di timur jalan,” ujarnya.

Kasim mengatakan, keturunan para Mbah tersebut masih rutin setiap minggunya datang untuk selametan di makam leluhurnya tersebut. Tidak hanya dari keturunan yang ada di kertosono, namun keturunan yang dari luar kecamatan juga datang. Seperti kecamatan Leces.

“Biasanya yang dari luar kecamatan itu rombongan datang dan mendoakan leluhurnya. Para embah ini juga biasanya disebut untuk didoakan saat selametan desa,” ujarnya. (agus faiz musleh/hn) Editor : Fandi Armanto
#kecamatan gading #desa kertosono #asal-usul desa