RABU (10/2) sekitar pukul 12.00, seorang lelaki sedang berada di sebuah sudut di kelenteng Tjoe Tik Kiong Kota Pasuruan. Ia seorang diri. Tangannya dengan cekatan membersihkan sejumlah peralatan musik.
Ada tambur, gong, simbal, pengketuk, dan kenong. Ada juga ular berkepala naga atau liong dan sebuah barong berkepala singa atau biasa disebut barongsai atau sai.
Dialah Yudi Dharma Santoso, 50, pelatih kesenian barongsai di kelenteng tersebut. Hari itu, Yudi sedang membersihkan semua peralatan barongsai yang selama ini disimpan.
"Saya pelatih barongsai di sini," katanya saat menyambut Jawa Pos Radar Bromo di kelenteng Tjoe Tik Kiong.
Sambil berbincang, Yudi pun membersihkan semua peralatan dengan bersemangat. Maklum, sudah bertahun-tahun dia menekuni kesenian khas Tionghoa itu. Jiwa pun seolah sudah menyatu dengan kesenian itu.
Walaupun selama pandemi Covid-19 terjadi, kelompok barongsai di kelenteng Tjoe Tik Kiong harus ‘istirahat’. Bukannya tidak ada job, tetapi memang pihaknya tidak menerima. Bahkan, sudah tak terhitung jumlah undangan yang ditolak selama pandemi terjadi.
Sebab, semua jenis kesenian memang tidak boleh tampil selama pandemi. Tujuannya, agar tidak timbul kerumunan dan tidak menjadi klaster penyebaran Covid-19.
Maka, selama masa pandemi semua peralatan barongsai di kelenteng Tjoe Tik Kiong pun disimpan saja di gudang. Lalu setiap tiga bulan, peralatan itu dibersihkan.
"Semua peralatan disimpan di gudang ini. Khusus barongsai disimpan di lemari kaca biar awet,” terang lelaki yang juga pengurus kelenteng Tjoe Tik Kiong itu.
Karena tidak lagi tampil, praktis tidak ada kegiatan sama sekali yang berhubungan dengan barongsai. Latihan rutin pun diliburkan.
Menurut Yudi, kelompok barongsai di kelenteng itu berjumlah sekitar 40-an. Namun yang aktif separonya saja atau sekitar 20-an. Mereka rata-rata para pelajar SMP, SMA, mahasiswa, dan pekerja swasta.
Di hari normal, mereka rutin latihan. Namun selama pandemi tidak ada lagi latihan. Beruntung, tidak ada satu pun anggota kelompok barongsai yang menjadikan kesenian itu sebagai pekerjaan utama. Karena itu, tidak ada masalah walaupun kelompok barongsai itu lama tidak tampil.
“Mau bagaimana lagi, kami harus menghindari kerumunan. Sebab, jika ada pertunjukan, maka akan ada kerumunan,” lanjut Yudi.
Tidak hanya menolak banyak undangan, perayaan Imlek tahun ini pun harus dilakukan sederhana. Tanpa pertunjukan barongsai yang menjadi tradisi Imlek.
Saat suasana normal, pertunjukan barongsai selalu menghiasi perayaan Imlek. Memang tidak wajib ada pertunjukan barongsai, namun bagi warga Tionghoa akan lebih baik kalau Imlek menampilkan barongsai.
Menurutnya, barongsai setiap Imlek digelar dua kali. Yaitu saat malam perayaan Imlek dan setelahnya. Bisa esok harinya, bisa seminggu kemudian. Sementara puncak perayaan Imlek dilakukan dua minggu setelah hari H Imlek.
Menurut Yudi, setiap perayaan Imlek kelompok barongsai kelenteng Tjoe Tik Kiong Kota Pasuruan selalu banyak job. Bukan hanya di Pasuruan, tetapi juga di luar Pasuruan. Seperti Surabaya, Malang, dan Kota Batu.
Namun lagi-lagi tahun ini pihaknya menolak semua undangan. Walaupun ada yang sampai memaksa. Sebab, pandemi belum berakhir.
"Kami tidak menerima job. Sebenarnya banyak undangan untuk Imlek. Kadang kami tiga hari melakukan pertunjukan di Taman Safari," ungkapnya.
Dia pun harus legawa karena tidak tampil, demi kebaikan bersama. Karena itu, di peringatan Imlek tahun ini Yudi pun berdoa agar pandemi segera berakhir.
"Tentunya kami ingin segera berakhir pandemi ini. Agar kehidupan kembali berjalan normal," jelasnya. (sid/fun)
Editor : Fandi Armanto