Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Inilah Lembah Dieng, Wisata yang Berada di Bekas Tambang di Gempol

Fandi Armanto • Jumat, 22 Januari 2021 | 15:09 WIB
HIJAU: Lembah Dieng, lahan seluas 10 hektare bekas tambang PT Sertu Jaya di Dusun Dieng, Desa Jeruk Purut, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Saat ini lokasi ini viral dan banyak didatangi warga untuk wisata swafoto. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Ra
HIJAU: Lembah Dieng, lahan seluas 10 hektare bekas tambang PT Sertu Jaya di Dusun Dieng, Desa Jeruk Purut, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Saat ini lokasi ini viral dan banyak didatangi warga untuk wisata swafoto. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Ra
Lembah Dieng yang ada Dusun Dieng, Desa Jeruk Purut, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, mendadak terkenal di dunia maya. Lahan bekas tambang itu banyak didatangi warga karena dinilai indah.

 

HAMPARAN hijau sejauh mata memandang, dengan sejumlah lembah di beberapa titik. Itulah Lembah Dieng di Dusun Dieng, Desa Jeruk Purut, Kecamatan Gempol.

Saat ini tempat itu mendadak viral di dunia maya. Mulai Instagram, facebookI, dan YouTube. Banyak warga datang ke sana. Sekadar untuk menyaksikan         hijaunya rerumputan di atas lahan seluas 10 hektare.

Namun siapa sangka, tempat ini dulu bekas tambang. Karena itu, walaupun tanahnya ditumbuhi rumput hijau, namun kontur tanahnya tidak rata. Di sekelilingnya terdapat beberapa cekungan mirip lembah dengan kedalaman 10-30 meter. Bahkan, ada yang lebih.

Justru, kondisi itulah yang mampu menarik perhatian banyak warga. Sehingga, mengundang mereka datang untuk menikmati keindahannya.

Pengunjung pun menamainya Lembah Dieng. Bahkan, ada pengunjung yang menyebut tempat ini mirip Grand Canyon di Amerika. Walaupun, tentu saja sangat jauh berbeda.

“Awalnya tempat ini viral di Instagram, facebook dan YouTube. Akhirnya menjadi terkenal seperti saat ini. Sudah dua pekan terakhir ramai warga datang ke sini,” cetus Wakid, 43, warga Dusun Dieng.

Untuk menuju ke lokasi, warga bisa menggunakan motor, mobil, dan minibus. Dari jalan raya nasional jurusan Surabaya – Malang, warga bisa melalui Desa Bulusari dan Karangrejo sejauh 3,5 kilometer.

Setelah itu, warga akan tiba di pintu masuk yang sangat sederhana. Terbuat dari kayu dan bambu ala kadarnya dilengkapi umbul-umbul dibuat oleh warga sekitar sebagai penanda.

Selanjutnya, hanya motor dan pejalan kaki yang boleh masuk ke Lembang Dieng. Sedangkan mobil dan minibus diminta parkir di halaman rumah warga atau di tepi jalan desa. Murah, hanya ditarik parkir Rp 10 ribu.

“Mobil dan sejenisnya tidak boleh masuk. Sebab, lokasi itu eks tambang dan rawan. Hanya pejalan kaki dan motor yang boleh masuk ke Lembah Dieng,” katanya.

Saat ini, menurut Wakid, tidak ada tiket untuk pengunjung yang masuk. Mereka hanya diminta memasukkan uang secara sukarela ke kotak yang terbuat dari kaleng roti.

“Uang yang didapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial dan kegiatan pemuda di dusun. Lainnya untuk keperluan makan, minum, rokok, dan lain-lain,” cetusnya.

Setibanya di Lembah Dieng, pengunjung atau wisatawan bisa berswafoto dengan pemandangan yang menawan, juga hamparan rumput yang menghijau.

Hawanya lumayan sejuk dengan ketinggian sekitar 350 meter dari permukaan air laut. Tempat ini makin semilir karena berada di kaki Gunung Penanggungan.

Di tempat itu, sejumlah warung milik warga sekitar berdiri. Mereka berjualan aneka makanan dan minuman. Memanfaatkan keberadaan Lembah Dieng yang kini viral dan ramai dikunjungi orang.

“Di beberapa titik, kami pasang papan peringatan hati-hati. Juga ada pagar terbuat dari bambu dan kayu, serta tali rafia. Tujuannya, mengingatkan pengunjung agar tidak terlalu menepi saat melihat pemadangan maupun foto selfi. Karena tepiannya curam,” tuturnya.

Photo
Photo
MASIH BARU: Pintu masuk ke Lembah Dieng di Gempol. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo

Kini, tiap hari banyak pengunjung berdatangan ke tempat ini. Mulai dari sekitaran Pasuruan, Malang, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto. Ada juga dari Kediri, Probolinggo, dan sampai pulau Madura.

“Paling ramai Sabtu dan Minggu. Yang datang bisa sampai ratusan orang dari pagi sampai sore hari. Di luar hari itu, mentok hanya puluhan orang,” ujarnya.

Kades Jeruk Purut Slamet menyebut Lembah Dieng adalah lokasi eks tambang milik PT Sertu Jaya. Dan sekitar 10 tahun terakhir ini, tidak ada aktivitas pertambangan di lokasi tersebut.

Di luar musim hujan, kondisinya kering dan tandus. Sehingga, pihaknya sendiri sempat kaget saat tempat itu viral dan banyak dikunjungi warga.

“Itu bukan wisata desa, tapi lokasi eks tambang milik perusahaan. Tidak layak sebenarnya jadi tempat wisata, karena curam dan tanahnya labil. Tapi karena viral, banyak yang datang ke lokasi. Prediksi saya ini hanya sebentar. Lain lagi ceritanya kalau masuk kemarau,”  bebernya.

Salah seorang pengunjung, Yunita dari Surabaya mengaku sengaja datang ke Lembang Dieng bersama rekan-rekannya. Mereka naik motor berboncengan.

Yunita sendiri mengetahui Lembah Dieng dari media sosial. Karena pemandangannya bagus dengan rumput menghijau, dia dan teman-temannya pun sepakat datang ke Lembang Dieng.

“Cocoknya tempat ini untuk wisata selfi, lumayan luas. Lokasinya juga cukup mudah dijangkau. Biar tidak penasaran, saya ke sini. Sekaligus menikmati alam sambil foto bareng dan selfi,” katanya.

Yunita mengaku tertarik datang karena Lembang Dieng menurutnya mirip Ranu Manduro di Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Ranu Manduro juga lokasi bekas lahan tambang yang sempat viral beberapa tahun lalu. Namun, Ranu Manduro lebih luas dari Lembah Dieng.

“Dibanding Ranu Manduro, pemandangannya lebih bagus Lembah Dieng. Juga lebih murah dan tidak ada karcis,” tuturnya. (zal/fun) Editor : Fandi Armanto
#lembah dieng di eks gempol #wisata baru pasuruan #wisata pasuruan