Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Begini Sejarah Wisata Bermi Eco Park di Bermi, Krucil

Jawanto Arifin • Selasa, 29 Desember 2020 | 19:45 WIB
MENAWAN: Sejumlah pengunjung menikmati sepeda air di Bermi Eco Park. Sepeda air dengan memanfaatkan embung merupakan salah satu wahana yang ada di Bermi Eco Park.
MENAWAN: Sejumlah pengunjung menikmati sepeda air di Bermi Eco Park. Sepeda air dengan memanfaatkan embung merupakan salah satu wahana yang ada di Bermi Eco Park.
Wisata Bermi Eco Park di Desa Bermi, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, terus menggeliat. Wisata edukasi yang mengusung konsep konservasi alam (nature conservation) ini berhasil mengerek ekonomi warga setempat. Di balik itu, tempat wisata ini memiliki sejarah menarik.

JAMALUDIN, Krucil, Radar Bromo

Jarum jam menunjukkan pukul 10.35. Mendung pekat menggelayut dengan manja di langit. Begitulah suasana di Desa Bermi, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo. Sepanjang hari adalah pagi.

Beberapa saat kemudian, air hujan tumpah. Meski tak lama, namun membuat jalanan basah. Sejurus kemudian, kabut turun dan menyebar, membuat suasana semakin dramatis. Cuaca dingin pun mulai terasa.

Pemandangan serupa juga tersaji di Bermi Eco Park, sebuah wisata edukasi yang ada di desa setempat. Meski musim hujan, wisata yang mengusung konsep konservasi alam ini terlihat ramai. Sejumlah pengunjung yang sebelumnya ngiyup di gazebo kembali berpencar menikmati suguhan pemandangan indah yang ditawarkan Bermi Eco Park.

Selain berjalan-jalan, mereka asyik berswafoto dengan ceria, mengabadikan tiap sudut yang didatangi. Maklum, Bermi Eco Park memang dipenuhi berbagai tumbuhan endemik atau tumbuhan lokal. Termasuk berbagai macam bunga.

Photo
Photo
SUNGAI SI NYONYA: Embung yang dimanfaatkan sebagai wahana sepeda air ini berasal dari aliran sungai Si Nyonya. Salah satu dari 12 aliran air dari lereng pegunungan Argopuro yang masih aktif.

Sejumlah pengunjung juga menikmati sepeda air di embung setempat. Keindahan Bermi Eco Park semakin terasa dengan dibangunnya dua jembatan ikonik.

Namun, siapa sangka untuk menikmati indahnya Bermi Eco Park, pengunjung tidak ditarik biaya masuk alias gratis. Sebab, Bermi Eco Park dibangun dan dikembangkan sebagai lokasi konservasi. Keberadaannya juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya edukasi tentang konservasi.

“Sampai kapanpun, pengunjung yang datang ke sini tidak akan kami tarik karcis masuk alias gratis. Wisata dan ramainya pengunjung yang datang selama ini kami anggap sebagai efek domino dari konservasi yang kami lakukan di Bermi Eco Park ini,” ujar Ketua Bermi Eco Park Purwanto Raharjo.

Meski gratis, menurut Ipung –sapaannya-, pengunjung yang membawa kendaraan tetap dikenai biaya penitipan kendaraan. Tidak mahal tentu saja. Sepeda motor Rp 3 ribu, sementara mobil sebesar Rp 7 ribu.

“Dan bagi yang ingin merasakan sensasi wahana sepeda air di embung ini, cukup membayar biaya perawatan Rp 10 ribu,” ungkapnya.

Sebagai tempat konservasi, sejumlah tanaman endemik terus dibudidayakan dan memenuhi lokasi setempat. Berbagai macam jenis tanaman hias juga tumbuh subur. Di antaranya, krokot, bunga tapak dara, tanaman sikat botol, dan tanaman hias lainnya. Bahkan, di lokasi setempat juga ditanam dua jenis pohon yang hampir punah.

“Namanya pohon Surian dan pohon Arum. Pohon Surian ini langka karena kayunya bagus untuk bangunan. Dan sebagai edukasi, setiap tanaman itu kami beri keterangan nama. Harapannya pengunjung bisa mengenal nama-nama tanaman endemik tersebut,” lanjutnya.

Saat ini pembangunan Bermi Eco Park memasuki tahap kedua. Sejauh ini, lahan yang dimanfaatkan untuk konservasi sekitar 5 hektare.

Pada zaman penjajahan, menurutnya, lahan yang digunakan ini merupakan lapangan golf. Lapangan ini dibangun oleh orang-orang Belanda untuk tempat olahraga, sekaligus rekreasi.

“Dan itu dibuktikan dengan seringnya pekerja yang menggarap lokasi ini menemukan bola golf ketika mengeruk tanah,” katanya.

Di lahan tersebut juga melintas aliran sungai Si Nyonya. Si Nyonya merupakan salah satu dari 12 aliran air dari lereng pegunungan Argopuro yang masih hidup atau aktif. Aliran air Si Nyonya itu mengalir ke embung yang digunakan untuk kebutuhan irigasi lahan pertanian warga Desa Bermi dan Desa Krucil.

“Dulu sungai ini sering dimanfaatkan oleh nonik-nonik Belanda untuk mandi. Karena itu, sejak dulu disebut aliran sungai Si Nyonya. Di lokasi ini juga ada aliran air Si Kopi untuk irigasi lahan pertanian warga Desa Bermi sendiri,” katanya.

Saat ini meski embung yang berasal dari aliran sungai Si Nyonya dimanfaatkan untuk wahana sepeda air, pihaknya tetap memperhatikan fungsi embung. Bahkan, embung tersebut lebih terawat saat ini.

“Fungsi embung kita normalkan kembali. Dulu embung ini sering dipakai untuk mandi dan cuci motor,” katanya.

Bermi Eco Park memang masih dalam tahap pengembangan. Meski begitu, wisata edukasi yang diresmikan pada 15 Januari 2019 ini berhasil menarik animo pengunjung. Bahkan, saat hari libur pengunjung yang datang bisa mencapai 1.500 hingga 3.000 orang per hari.

“Pengunjung itu datangnya bertahap. Mulai pagi, siang, hingga sore. Bermi Eco Park buka mulai pukul delapan pagi sampai lima sore,” katanya.

Keberadaan Bermi Eco Park juga turut mengerek perekonomian warga setempat. Sejauh ini, di sekitar Bermi Eco Park berdiri 12 warung permanen yang tergabung dalam pasar desa BUMDes setempat. Ditambah pedagang nonpermanen yang buka tiap Sabtu–Minggu.

“Imbasnya juga pada penjual bunga, duren, hingga rumah susu. Bahkan, juga turut mendongkrak harga jual tanah di sini,” sebut Ipung.

Ipung mengungkapkan, Bermi Eco Park dikembangkan melalui dukungan CSR PT Jawa Power – PT YTL Jawa Timur. Dalam pengembangannya, pihak desa menyiapkan lahan untuk konservasi. Kemudian, pengelolaannya dilakukan oleh divisi pariwisata pada BUMDes Bermi Indah, Desa Bermi.

“Rata-rata pengurus Bermi Eco Park anggota Koala, singkatan dari Pecinta Air dan Lingkungan Lereng Argopuro,” katanya.

Saat ini, menurut Ipung, Bermi Eco Park sedang menyelesaikan pembangunan labirin. Yaitu, tempat yang didesain khusus dengan banyak jalan berliku-liku. Labirin itu terbuat dari tanaman jenis teh-tehan.

“Kami juga menyelesaikan pembangunan camping ground, water boom, dan flying fox. Intinya kami membuka Bermi Eco Park sambil mengembangkannya,” pungkasnya. (hn) Editor : Jawanto Arifin
#bermi eco park #wisata kabupaten probolinggo