Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Berkenalan dengan Pembatik Muda asal Pandaan    

Muhammad Fahmi • Kamis, 29 Oktober 2020 | 17:34 WIB
TELITI: M Hidayah Jati saat melakukan proses pewarnaan batik dengan teknik pewarnaan remasol. (Rizal Syatori/ Radar Bromo)
TELITI: M Hidayah Jati saat melakukan proses pewarnaan batik dengan teknik pewarnaan remasol. (Rizal Syatori/ Radar Bromo)
Batik jadi salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO. Upaya melestarikannya pun terus dilakukan. Pembatik muda pun bermunculan. Salah satunya, M Hidayah Jati asal Pandaan ini.

RIZAL FAHMI SYATORI, Pandaan, Radar Bromo

 

USIANYA tahun ini genap 24 tahun. Sepintas penampilannya tak jauh berbeda dengan pemuda seusianya. Gayanya cukup modis dengan gaya rambut ala kekinian.

Namun siapa mengira, di balik gayanya yang tak berbeda dengan pemuda sebaya, arek Dusun Sukun, Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan itu ternyata salah satu pembatik Kabupaten Pasuruan.

Saat dikunjungi di rumahnya, pekan lalu, Hida –sapaan akrabnya- tengah asyik melakukan pewarnaan kain yang telah dimotif. Ia menggunakan teknik remasol.

Kepada Jawa Pos Radar Bromo, Hida menceritakan, aktivitasnya di dunia batik yang digelutinya dua tahun terakhir, sejatinya berawal dari ketidaksengajaan.

“Saya awalnya SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) jurusan teknik. Lulus sekolah, langsung masuk ke BLK Disnaker Pemprov Jatim. Saat itu saya salah jurusan. Malah masuk jurusan membatik,” kenangnya sambil tersenyum.

Nah, di BLK itulah skill-nya dalam hal membatik ditempat. Ia pun akhirnya jatuh cinta dan tertarik untuk terus menggeluti batik. “Dari situlah akhirnya saya menjadi pembatik sampai sekarang,” imbuhnya.

Darah seni dari sang ayah yang dulunya seorang pelukis, juga hobinya menggambar menjadi modal baginya. “Saat di BLK, selama kursus 25 hari saya rangking satu membatik. Keluar dari BLK, saya putuskan komitmen dan fokus menjadi pembatik,” ceritanya.

Hida sendiri fokus pada batik tulis, dengan teknik pewarnaan remasol dan naptol. Keduanya menggunakan pewarna kimia. Menurutnya, batik merupakan salah satu budaya yang wajib dilestarikan.

Lantaran itu, generasi milenial juga harus dikenalkan dengan batik. Sehingga batik terus lestari. “Proses paling sulit dan butuh ketelitian adalah saat canting dan pewarnaan. Biar hasilnya maksimal, harus hati-hati,” terangnya.

Meski baru dua tahun menggeluti batik, Hida sudah beberapa kali mengikuti pameran batik. Beberapa diantaranya di luar kota. Motif yang kerap ditonjolkannya seperti tokoh-tokoh pewayangan, aneka bunga atau tanaman, naga, serta masih banyak lainnya.

“Dirumah hampir setiap hari saya membatik, sengaja dibuat untuk pameran. Juga garap pesenan orang, untuk acara resepsi dan lainnya. Batiknya dijual di wilayah Kabupaten sendiri hingga di luar Jawa Timur,” bebernya.

Saat ini, sebagai pembatik, ia masih terkendala modal dan pemasaran. Meski begitu, hal tersebut tak menyurutkan niatnya untuk menekuni kerajinan batik.

Alhamdulillah orang tua di rumah sangat mendukung aktifitas saya menjadi pembatik. Obsesi dan cita-cita saya kedepan, ingin punya galeri batik sendiri, juga tampil di ajang pameran batik tingkat nasional dan internasional,” harapnya. (mie)

 

  Editor : Muhammad Fahmi
#batik pandaan #pemkab pasuruan #batik pasuruan