RIZAL FAHMI SYATORI, Pandaan, Radar Bromo
USIANYA tahun ini genap 24 tahun. Sepintas penampilannya tak jauh berbeda dengan pemuda seusianya. Gayanya cukup modis dengan gaya rambut ala kekinian.
Namun siapa mengira, di balik gayanya yang tak berbeda dengan pemuda sebaya, arek Dusun Sukun, Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan itu ternyata salah satu pembatik Kabupaten Pasuruan.
Saat dikunjungi di rumahnya, pekan lalu, Hida –sapaan akrabnya- tengah asyik melakukan pewarnaan kain yang telah dimotif. Ia menggunakan teknik remasol.
Kepada Jawa Pos Radar Bromo, Hida menceritakan, aktivitasnya di dunia batik yang digelutinya dua tahun terakhir, sejatinya berawal dari ketidaksengajaan.
“Saya awalnya SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) jurusan teknik. Lulus sekolah, langsung masuk ke BLK Disnaker Pemprov Jatim. Saat itu saya salah jurusan. Malah masuk jurusan membatik,” kenangnya sambil tersenyum.
Nah, di BLK itulah skill-nya dalam hal membatik ditempat. Ia pun akhirnya jatuh cinta dan tertarik untuk terus menggeluti batik. “Dari situlah akhirnya saya menjadi pembatik sampai sekarang,” imbuhnya.
Darah seni dari sang ayah yang dulunya seorang pelukis, juga hobinya menggambar menjadi modal baginya. “Saat di BLK, selama kursus 25 hari saya rangking satu membatik. Keluar dari BLK, saya putuskan komitmen dan fokus menjadi pembatik,” ceritanya.
Hida sendiri fokus pada batik tulis, dengan teknik pewarnaan remasol dan naptol. Keduanya menggunakan pewarna kimia. Menurutnya, batik merupakan salah satu budaya yang wajib dilestarikan.
Lantaran itu, generasi milenial juga harus dikenalkan dengan batik. Sehingga batik terus lestari. “Proses paling sulit dan butuh ketelitian adalah saat canting dan pewarnaan. Biar hasilnya maksimal, harus hati-hati,” terangnya.
Meski baru dua tahun menggeluti batik, Hida sudah beberapa kali mengikuti pameran batik. Beberapa diantaranya di luar kota. Motif yang kerap ditonjolkannya seperti tokoh-tokoh pewayangan, aneka bunga atau tanaman, naga, serta masih banyak lainnya.
“Dirumah hampir setiap hari saya membatik, sengaja dibuat untuk pameran. Juga garap pesenan orang, untuk acara resepsi dan lainnya. Batiknya dijual di wilayah Kabupaten sendiri hingga di luar Jawa Timur,” bebernya.
Saat ini, sebagai pembatik, ia masih terkendala modal dan pemasaran. Meski begitu, hal tersebut tak menyurutkan niatnya untuk menekuni kerajinan batik.
“Alhamdulillah orang tua di rumah sangat mendukung aktifitas saya menjadi pembatik. Obsesi dan cita-cita saya kedepan, ingin punya galeri batik sendiri, juga tampil di ajang pameran batik tingkat nasional dan internasional,” harapnya. (mie)
Editor : Muhammad Fahmi