alexametrics
26.4 C
Probolinggo
Thursday, 3 December 2020

Cerita Siswa di Besuk yang Rela Bekerja Buat Bata usai Pulang Sekolah, Diberikan ke Orangtua

Usia Muhammad Faiz-Mustofa baru 17 tahun. Meski masih belia, pelajar SMA asal Desa Alastengah, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo ini tak pernah gengsi untuk mencari tambahan penghasilan.

———

Siang itu jarum jam menunjukkan pukul 14.30. Muhammad Faiz masih mengenakan seragam sekolahnya. Dia nampak tergesa menuju ke sebuah percetakan bata yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Setibanya di lokasi, ia kemudian melepas seragamnya, lalu menggantinya dengan kaos oblong. Tak terlihat di badannya yang kurus itu rasa capek. Meskipun, mulai pagi hingga siang bergelut dengan mata pelajaran. Secepatnya dia mengambil sebuah cetakan persegi panjang. Kemudian, ditaruhnya tanah liat ke dalam cetakan itu.

Begitulah kegiatan Faiz, panggilan akrabnya, saat pulang sekolah. Ia tidak lantas bermain dengan kawan sebayanya. Tetapi, sibuk mencari uang guna keberlanjutan pendidikan dan membantu orangtuanya.

SEMANGAT: Meski mendapat penghasilan, kedua siswa tersebut memberikan sebagian ke orangtuanya. (Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Ini kegiatan saya setiap hari. Setelah pulang sekolah langsung ke tempat percetakan bata ini untuk mencari uang,” katanya sembari mencetak tanah menjadi bata.

Selayaknya orang dewasa, ia cukup lihai dalam membuat bata. Maklum, sudah sejak kelas 3 Madrasah Tsanawiyah sudah dia lakukan. Hingga Faiz duduk di bangku SMA, kegiatan ini masih dia lakoni.

“Kerjanya ya mulai jam 3 sore sepulang sekolah itu. Kalau selesainya tergantung. Kadang bisa sampai jam 10 malam,” tuturnya.

Dari kerjanya itu, Faiz digaji Rp 80 ribu per hari. Lumayan untuk anak seusia Faiz. Tapi uang itu tidak untuk dinikmati dia sendirian. Hasilnya, dibagi dua. Untuk kebutuhan sekolah dan juga dikasihkan orangtuanya.

“Saya bekerja ndak ada paksaan kok. Ini niatan saya sendiri. Karena saya ingin membantu orangtua saya,” katanya sambil mengusap keringat yang mulai bercucuran.

Kegiatan itu dilakoninya tidak sendiri. Ada beberapa temannya yang juga melakukan hal yang sama. Rata-rata dalam sehari mereka bisa mendapatkan batu bata sekitar seribu cetakan. Alasannya pun beragam. Selain untuk membantu orangtua, juga untuk memanfaatkan waktu.

“Daripada terbuang sia-sia, mending bekerja. Banyak manfaatnya,” ungkap Mustofa, teman Faiz yang juga merupakan pembuat batu bata.

Siang itu, Faiz dan Mustofa seakan berlomba. Keduanya sangat cepat dalam memproduksi bata. Jika lelah, keduanya sesekali beristirahat dan meminum air. Setelah rasa capek dan dahaganya reda, kemudian mereka melanjutkan membuat bata.

Sementara itu, Fathul Munir, pemilik usaha pencetakan batu bata tersebut mengatakan, sebenarnya Faiz dan Mustofa bukanlah anak orang tak mampu. “Mereka itu anak orang mampu,” katanya di lokasi.

Keduanya melakukan hal itu hanya semata mata tidak ingin merepotkan orangtuanya. Selain itu, lanjut pria yang akrab disapa Munir itu, keduanya bekerja juga untuk mengisi waktu luang. Dirinya pun mengaku senang dengan adanya remaja macam keduanya. Meskipun rekan sebayanya sibuk dengan gadget, tetapi Faiz dan Mustofa memilih bekerja.

Saat ini, hanya tinggal dua remaja tersebut yang bekerja di tempatnya. Ada pula, yang sudah lulus yang masih bekerja. Untuk bayaran yang diberikan ke Faiz maupun Mustofa, kata munir, diberikan langsung olehnya kepada anaknya. “Sempat saya tanya dan benar kok dikasihkan,” terang Munir. (sid/fun)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Pavingisasi Belakang Terminal Pandaan Digarap Tanpa Papan Proyek

Pavingisasi jalan di belakang Ruko Terminal Pandaan, Kabupaten Pasuruan, sudah sepekan digarap.

Pandemi Pengaruhi Investasi Masuk di Kab Pasuruan

Hingga akhir November, target investasi di Kabupaten Pasuruan belum terpenuhi.

Pagi Ini Presentasi-Penilaian Lomba Karya Tulis Kampung Hebat

Usai presentasi, akan dibuktikan dengan kunjungan lapangan yang digelar pada 4, 5 dan 7 Desember.

PNS Pemkab Pasuruan Kendat, Pernah Ajak Istri Minum Baygon

Peristiwa nahas ini diketahui pertama kali oleh istri korban sekitar pukul 07.30.

Diduga Ngantuk, Pasutri Tabrak Truk Parkir di Kraton, Suami Tewas

Siang itu pasutri itu dari Polres Pasuruan untuk mengurus SKCK dan berencana pulang