alexametrics
29.4 C
Probolinggo
Monday, 15 August 2022

Asyiknya Seni Hadrah, Syiar lewat Syair

Hadrah adalah kesenian Islam yang kerap dijadikan media untuk syiar agama. Belakangan banyak yang menekuni kesenian ini. Bukan hanya di kalangan Pondok Pesantren dan TPQ. Seni ini juga tak melulu hanya untuk hajatan. Saat ini lomba maupun festivalnya kerap digelar.

 

SENI untuk hajatan. Mulai pernikahan, khitanan, kelahiran, peringatan Maulud Nabi, tahun baru atau hari besar umat muslim.

Tetapi bagi Umar Muchammad, 23, hadrah bukan seni untuk hajatan semata. Seni ini, menurut dia, bisa menjadi sebuah gambaran obyektif untuk menyampaikan isi hati dan pikiran terhadap sosok yang dicintai. Wabil khusus untuk baginda Rasulullah Muhammad SAW. Terutama saat seseorang melantunkan maupun mendengarkan salawat.

“Di situlah nilai ketenangan bagi pencinta seni ini. Apalagi penggemar Hadrah Al Banjari seperti saya,” kata pria asal Kelurahan Kebonsari, Panggungrejo, Kota Pasuruan tersebut.

Umar masih ingat, kali ertama dia senang dengan hadrah. Awalnya saat itu dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Umar diajak ke majelis pengajian. Disana ada sekelompok grup hadrah. Suara rebana yang menjadi alat musik perkusi, begitu indah dan selaras dengan syair yang dinyanyikan. Mulai dari situlah dia jatuh cinta dengan rebana.

Inipula yang menjadi alasan bagi Umar, tertarik untuk belajar seni hadrah. Sama seperti ketika seseorang menyukai aliran musik apapun. Bedanya, kata Umar, dalam hadrah juga terkandung syiar. “Karena saya cinta dengan habaib (keturunan Nabi Muhammad SAW, Red), semenjak itu saya ritin berlatih,” beber Umar.

Pria yang seharinya mengajar di ponpes dan takmir masjid ini menilai, seni Hadrah Al Banjari adalah suatu bentuk syiar yang sebenarnya bisa dilakukan banyak orang. Sebab seni ini cukup mudah dipelajari bagi orang awam daripada seni yang lain. Tak perlu mengerti kunci nada atau rumus tertentu.

Hadrah adalah kesenian Islam yang kerap dijadikan media untuk syiar agama. Belakangan banyak yang menekuni kesenian ini. Bukan hanya di kalangan Pondok Pesantren dan TPQ. Seni ini juga tak melulu hanya untuk hajatan. Saat ini lomba maupun festivalnya kerap digelar.

 

SENI untuk hajatan. Mulai pernikahan, khitanan, kelahiran, peringatan Maulud Nabi, tahun baru atau hari besar umat muslim.

Tetapi bagi Umar Muchammad, 23, hadrah bukan seni untuk hajatan semata. Seni ini, menurut dia, bisa menjadi sebuah gambaran obyektif untuk menyampaikan isi hati dan pikiran terhadap sosok yang dicintai. Wabil khusus untuk baginda Rasulullah Muhammad SAW. Terutama saat seseorang melantunkan maupun mendengarkan salawat.

“Di situlah nilai ketenangan bagi pencinta seni ini. Apalagi penggemar Hadrah Al Banjari seperti saya,” kata pria asal Kelurahan Kebonsari, Panggungrejo, Kota Pasuruan tersebut.

Umar masih ingat, kali ertama dia senang dengan hadrah. Awalnya saat itu dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Umar diajak ke majelis pengajian. Disana ada sekelompok grup hadrah. Suara rebana yang menjadi alat musik perkusi, begitu indah dan selaras dengan syair yang dinyanyikan. Mulai dari situlah dia jatuh cinta dengan rebana.

Inipula yang menjadi alasan bagi Umar, tertarik untuk belajar seni hadrah. Sama seperti ketika seseorang menyukai aliran musik apapun. Bedanya, kata Umar, dalam hadrah juga terkandung syiar. “Karena saya cinta dengan habaib (keturunan Nabi Muhammad SAW, Red), semenjak itu saya ritin berlatih,” beber Umar.

Pria yang seharinya mengajar di ponpes dan takmir masjid ini menilai, seni Hadrah Al Banjari adalah suatu bentuk syiar yang sebenarnya bisa dilakukan banyak orang. Sebab seni ini cukup mudah dipelajari bagi orang awam daripada seni yang lain. Tak perlu mengerti kunci nada atau rumus tertentu.

MOST READ

BERITA TERBARU

/