alexametrics
29.4 C
Probolinggo
Monday, 23 May 2022

Kali Rejoso yang Dipercaya Dihuni Siluman Buaya Putih

SEJUMLAH sungai dipercaya memiliki legenda khusus. Termasuk Sungai Rejoso di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Sungai yang mengalir di sejumlah desa di wilayah Pasuruan itu dipercaya dihuni siluman buaya putih atau buaya jadian-jadian. Sejumlah warga percaya kemunculan buaya putih biasanya merupakan suatu firasat akan ada kejadian besar.

Tidak hanya di cerita film. Legenda buaya putih juga dipercaya ada di Sungai Rejoso. Namun, buaya jadi-jadian ini tidak selalu bisa ditemui. Hanya segelintir orang yang mengaku pernah melihat.

P, seorang warga Desa Kedawung Wetan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan menyebut, buaya putih sempat menampakkan wujudnya beberapa kali pada masyarakat. Terakhir sebelum musim hujan pada 2020. Saat itu, ada pengerukan dan bersih-bersih di sekitar DAS Rejoso di desanya.

Saat pengerukan itu, ada warga yang melihat seekor buaya muncul ke permukaan. Ukurannya seperti buaya pada umumnya. Bedanya, warnanya putih. Usai menampakkan wujudnya, buaya itu menghilang.

“Tidak ada warga yang sempat mengambil gambar. Cuma warga yakin itu bukan buaya asli. Sebab, tiba-tiba muncul dan tak lama menghilang,” ungkapnya.

Adanya buaya putih yang menghuni Kali Rejoso memang tidak bisa dibuktikan. Namun, beberapa warga meyakini ada. Salah satunya Rony (bukan nama sebenarnya), warga Desa Rejoso Lor, Kecamatan Rejoso.

Rony bercerita, temannya sempat melihat buaya putih saat memancing di sekitar DAS Kali Rejoso. Meski begitu, ia tidak yakin cerita ini benar atau tidak. Sebab, dirinya tidak pernah melihat secara langsung.

Ada juga cerita tentang seorang warga di Desa Rejoso Kidul, Kecamatan Rejoso, yang hilang di Kali Rejoso, beberapa tahun silam. Saat itu, orang tersebut jatuh di sekitar aliran Kali Rejoso.

Warga yang mencari sempat kesulitan menemukannya. Kemudian, ada warga yang melihat buaya putih ini. Tak lama setelah itu, warga yang hilang tersebut berhasil ditemukan di lokasi tidak jauh dari kemunculan buaya putih itu. Meski cerita ini tidak bisa dipastikan kebenarannya, namun ia mengaku Kali Rejoso memang dihuni banyak buaya.

“Sekitar 20 tahun lalu, warga sekitar yang mancing di Kali Rejoso sering melihat buaya muara. Tapi, beberapa tahun ini memang jarang terlihat. Mungkin karena pendangkalan sungai,” sebutnya.

PANJANG: Sungai Rejoso juga membentang di jalur pantura. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Jadi Cerita Turun Temurun

Kepercayaan bahwa Kali Rejoso dihuni siluman buaya putih menjadi cerita turun temurun di Pasuruan. Dulu, buaya jadi-jadian ini diyakini hidup berbaur dengan manusia. Meski begitu, mereka tidak pernah berbuat jahat. Sebaliknya, sering membantu masyarakat.

Budayawan Pasuruan Haidar Hafeez menerangkan, legenda buaya putih di Kali Rejoso diceritakan turun temurun. Namun, legenda itu sudah mulai kurang dikenal saat ini. Arus modernitas yang begitu cepat membuat generasi muda enggan mengetahui cerita ini.

Haidar sendiri saat kecil sering mendapat cerita tentang buaya putih di Kali Rejoso yang hidup berdampingan dengan masyarakat. Setiap hari, mereka menjelma menjadi manusia dan pergi ke pasar menggunakan dokar. Begitu pulang dari pasar, mereka kembali menjadi buaya.

“Buaya putih ini bisa dibilang adalah siluman atau buaya jadi-jadian. Cerita yang saya dengar mereka sering pergi ke pasar. Bahkan, pengemudi dokar sering melihat mereka saat kembali ke wujud asal jadi buaya,” jelasnya.

Gus Haidar –sapaan akrabnya– menuturkan, buaya jadi-jadian ini bisa dikenali dari ciri di wajahnya. Di bawah hidung mereka lurus. Berbeda dengan manusia normal, ada garis di antara hidung dan bibir. Cuma memang tidak semua bisa melihat atau pernah ditampakkan oleh siluman buaya putih ini. Menurutnya, hanya orang yang memiliki hati lurus dan bersih atau yang gemar berpuasa yang bisa berjumpa dengan mereka.

Dan uniknya, siluman buaya putih ini tidak pernah berbuat jahat pada manusia. Bahkan, dalam kisahnya, mereka disebut suka membantu masyarakat yang mencari ikan di sekitar Kali Rejoso. Sehingga ikan bisa datang ke permukaan.

“Kalau cerita dari orang tua saya, Kali Rejoso itu dihuni oleh dua makhluk. Yakni, buaya asli dan siluman buaya. Di bawah aliran Kali Rejoso itu ada kerajaan yang dihuni oleh siluman buaya putih,” sebut Gus Haidar.

Bahkan, pada zaman kolonial, Kades Toyaning, Kecamatan Rejoso, diceritakan bisa bercengkerama dengan buaya putih itu. Ada wirid tertentu yang membuatnya bisa hidup di bawah air dan berjalan di atas air.

Dari kacamata budaya dan spiritual, kisah buaya putih yang dipercaya masyarakat Pasuruan bisa dipahami dengan nalar. Bahkan, Islam juga mengajarkan ada makhluk lain selain manusia. Yakni, makhluk gaib yang berupa jin, iblis, dan malaikat.

“Buaya putih ini bisa dipahami sebagai jin. Dulu saat kecil saya sering mandi di Kali Rejoso. Cuma setelah tahu di Kali Rejoso dihuni buaya, saya jadi takut dan kapok mandi di sana,” pungkasnya. (fahrizal firmani/hn)

SEJUMLAH sungai dipercaya memiliki legenda khusus. Termasuk Sungai Rejoso di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Sungai yang mengalir di sejumlah desa di wilayah Pasuruan itu dipercaya dihuni siluman buaya putih atau buaya jadian-jadian. Sejumlah warga percaya kemunculan buaya putih biasanya merupakan suatu firasat akan ada kejadian besar.

Tidak hanya di cerita film. Legenda buaya putih juga dipercaya ada di Sungai Rejoso. Namun, buaya jadi-jadian ini tidak selalu bisa ditemui. Hanya segelintir orang yang mengaku pernah melihat.

P, seorang warga Desa Kedawung Wetan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan menyebut, buaya putih sempat menampakkan wujudnya beberapa kali pada masyarakat. Terakhir sebelum musim hujan pada 2020. Saat itu, ada pengerukan dan bersih-bersih di sekitar DAS Rejoso di desanya.

Saat pengerukan itu, ada warga yang melihat seekor buaya muncul ke permukaan. Ukurannya seperti buaya pada umumnya. Bedanya, warnanya putih. Usai menampakkan wujudnya, buaya itu menghilang.

“Tidak ada warga yang sempat mengambil gambar. Cuma warga yakin itu bukan buaya asli. Sebab, tiba-tiba muncul dan tak lama menghilang,” ungkapnya.

Adanya buaya putih yang menghuni Kali Rejoso memang tidak bisa dibuktikan. Namun, beberapa warga meyakini ada. Salah satunya Rony (bukan nama sebenarnya), warga Desa Rejoso Lor, Kecamatan Rejoso.

Rony bercerita, temannya sempat melihat buaya putih saat memancing di sekitar DAS Kali Rejoso. Meski begitu, ia tidak yakin cerita ini benar atau tidak. Sebab, dirinya tidak pernah melihat secara langsung.

Ada juga cerita tentang seorang warga di Desa Rejoso Kidul, Kecamatan Rejoso, yang hilang di Kali Rejoso, beberapa tahun silam. Saat itu, orang tersebut jatuh di sekitar aliran Kali Rejoso.

Warga yang mencari sempat kesulitan menemukannya. Kemudian, ada warga yang melihat buaya putih ini. Tak lama setelah itu, warga yang hilang tersebut berhasil ditemukan di lokasi tidak jauh dari kemunculan buaya putih itu. Meski cerita ini tidak bisa dipastikan kebenarannya, namun ia mengaku Kali Rejoso memang dihuni banyak buaya.

“Sekitar 20 tahun lalu, warga sekitar yang mancing di Kali Rejoso sering melihat buaya muara. Tapi, beberapa tahun ini memang jarang terlihat. Mungkin karena pendangkalan sungai,” sebutnya.

PANJANG: Sungai Rejoso juga membentang di jalur pantura. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Jadi Cerita Turun Temurun

Kepercayaan bahwa Kali Rejoso dihuni siluman buaya putih menjadi cerita turun temurun di Pasuruan. Dulu, buaya jadi-jadian ini diyakini hidup berbaur dengan manusia. Meski begitu, mereka tidak pernah berbuat jahat. Sebaliknya, sering membantu masyarakat.

Budayawan Pasuruan Haidar Hafeez menerangkan, legenda buaya putih di Kali Rejoso diceritakan turun temurun. Namun, legenda itu sudah mulai kurang dikenal saat ini. Arus modernitas yang begitu cepat membuat generasi muda enggan mengetahui cerita ini.

Haidar sendiri saat kecil sering mendapat cerita tentang buaya putih di Kali Rejoso yang hidup berdampingan dengan masyarakat. Setiap hari, mereka menjelma menjadi manusia dan pergi ke pasar menggunakan dokar. Begitu pulang dari pasar, mereka kembali menjadi buaya.

“Buaya putih ini bisa dibilang adalah siluman atau buaya jadi-jadian. Cerita yang saya dengar mereka sering pergi ke pasar. Bahkan, pengemudi dokar sering melihat mereka saat kembali ke wujud asal jadi buaya,” jelasnya.

Gus Haidar –sapaan akrabnya– menuturkan, buaya jadi-jadian ini bisa dikenali dari ciri di wajahnya. Di bawah hidung mereka lurus. Berbeda dengan manusia normal, ada garis di antara hidung dan bibir. Cuma memang tidak semua bisa melihat atau pernah ditampakkan oleh siluman buaya putih ini. Menurutnya, hanya orang yang memiliki hati lurus dan bersih atau yang gemar berpuasa yang bisa berjumpa dengan mereka.

Dan uniknya, siluman buaya putih ini tidak pernah berbuat jahat pada manusia. Bahkan, dalam kisahnya, mereka disebut suka membantu masyarakat yang mencari ikan di sekitar Kali Rejoso. Sehingga ikan bisa datang ke permukaan.

“Kalau cerita dari orang tua saya, Kali Rejoso itu dihuni oleh dua makhluk. Yakni, buaya asli dan siluman buaya. Di bawah aliran Kali Rejoso itu ada kerajaan yang dihuni oleh siluman buaya putih,” sebut Gus Haidar.

Bahkan, pada zaman kolonial, Kades Toyaning, Kecamatan Rejoso, diceritakan bisa bercengkerama dengan buaya putih itu. Ada wirid tertentu yang membuatnya bisa hidup di bawah air dan berjalan di atas air.

Dari kacamata budaya dan spiritual, kisah buaya putih yang dipercaya masyarakat Pasuruan bisa dipahami dengan nalar. Bahkan, Islam juga mengajarkan ada makhluk lain selain manusia. Yakni, makhluk gaib yang berupa jin, iblis, dan malaikat.

“Buaya putih ini bisa dipahami sebagai jin. Dulu saat kecil saya sering mandi di Kali Rejoso. Cuma setelah tahu di Kali Rejoso dihuni buaya, saya jadi takut dan kapok mandi di sana,” pungkasnya. (fahrizal firmani/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/