Inilah Kampung Eks Gepeng di Winongan yang Disulap Jadi Kampung Kelir

WARNA-WARNI: Kampung Margo Utomo di Desa Prodo, Kecamatan Winongan, yang merupakan kampung binaan eks gepeng. Sekarang kampung ini dijadikan Kampung Kelir. (Foto: Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Desa Prodo, Kecamatan Winongan, memiliki kampung yang warganya eks gelandangan dan pengemis (gepeng). Kampung ini didirikan sebagai program dari Kementerian Sosial (Kemensos). Awalnya lusuh dan kurang terawat, kampung itu kini disulap jari Kampung Kelir dan Kampung Hijau. Seperti apa?

————————————————————–

 TAK sulit mencari Kampung Margo Utomo di Desa Prodo, Kecamatan Winongan. Selain berada di jalur pintu masuk ke arah Desa Prodo, di depan kampung ini ada papan nama besar. “Kampung Kesetiakawanan Sosial Margo Utomo”.

Kampung ini didirikan pada tahun 2014 dan menampung 50 keluarga eks gepeng atau keluarga yang tidak punya rumah. Saat ini kondisi Kampung Margo Utomo jauh berbeda dibandingkan sebulan lalu.

Sebelumnya, kondisi kampung kurang terawat dan lusuh. Cat dinding rumah banyak yang lusuh dan mengelupas. Lalu, dinding rumah juga banyak yang retak.

Namun, saat ini warna –warni mendominasi kampung ini. Bahkan, tanaman hijau tertata rapi di sekitar rumah-rumah petak di sana.

Rumah yang disediakan Kemensos itu memang tidak besar. Luasnya hanya 5 kali 6 meter. Namun, cukup lengkap karena ada ruang tamu, kamar mandi, dan kamar tidur. Tercatat ada 50 rumah petak yang dihuni oleh 50 keluarga dari berbagai daerah.

Hidayatul Rohmah, 34, adalah salah satunya. Warga asli Klojen, Kota Malang, ini sengaja pindah ke Kabupaten Pasuruan. Sebab, di tempat asalnya dirinya tidak punya rumah dan menumpang di rumah orang tua.

“Waktu itu tahun 2015 ditawarin oleh RT. Karena tertarik bisa memiliki rumah sendiri, akhirnya saya mau,” terangnya.

Bersama suami dan dua anaknya, sebelumnya mereka di Malang bekerja sebagai pemulung. Setelah pindah ke Prodo, pekerjaan mereka berganti-ganti. Pernah menjadi buruh tani, serabutan, dan apa saja asalnya bisa dapat penghasilan. “Ya lumayan tinggal di sini. Yang penting ada tempat berteduh,” ujarnya.

Kepala Desa Prodo, Kecamatan Winongan, Lukman Hakim mengatakan, Kampung Margo Utomo diikutkan program Desaku Menanti. Yaitu, program dari Kemensos dan Provinsi Jatim.

“Awalnya tahun 2014 program itu diletakkan di Desa Bandaran. Namun, karena kurang cocok, akhirnya dipindah ke Desa Prodo,” terangnya.

Warga yang tinggal di sana mayoritas eks gepeng. Mereka lantas diberi rumah petak untuk hidup bersama keluarganya dengan layak. Penghuninya berasal dari beragam daerah. Mulai Ponorogo, Madiun, Surabaya, Jember, sampai Madura. Rata-rata mereka berusia produktif, mulai 30 sampai 60 tahun dan sudah berkeluarga.

Dengan luas 1 hektare, awalnya ada 35 KK tinggal di sana. Namun, saat ini total ada 50 KK tinggal di Prodo. Mereka terutama bekerja di sektor pertanian. Ada juga kegiatan rutin misalnya pengajian dan TPQ tiap sore.

Kebanyakan penghuni di Kampung Margo Utomo masyarakat kurang mampu. Sehingga, kondisi kampung kurang terawat. Sebelumnya, kondisi tembok lusuh, bahkan catnya banyak mengelupas.

DULUNYA KUMUH: Sebelum ada Kampung Margo Utomo, Kawasan ini dahulu kumuh. (Foto: Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo )

“Warga sini kalau ada penghasilan ya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jadi, untuk perawatan rumah atau kampung kurang dipedulikan,” terangnya.

Namun, sejak sebulan terakhir, Desa Prodo mulai dibina untuk pemberdayaan kampung. Selain dijadikan Kampung Kelir, juga ada budi daya tanaman.

“Pemerintah desa memediasi untuk mengecat semua tembok rumah. Agar tidak monoton, cat didesain warna-warni dengan aksen seperti ombak. Selain itu, juga kampung dibersihkan dan bertahap dilakukan penghijauan,” terangnya.

Setelah menjadi Kampung Kelir, saat ini kondisi Kampung Margo Utomo menjadi lebih meriah. Hal ini juga berimbas pada semangat penghuninya. Mereka jadi bersemangat bertanam di sekitar rumah.

Awalnya ditanam 500 bibit tanaman. Dan jumlah ini akan terus bertambah. Bibit yang diutamakan adalah sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Ada terong, sawi, dan cabai.

Ke depan, desa akan menambah terus tanaman di sekitar kampung dan jalan menuju kampung. Langkah itu diharapkan tidak hanya meningkatkan kehidupan warga di Margo Utomo.

“Dengan adanya Kampung Kelir dan penghijauan, ke depan bisa menjadi jujukan wisata atau percontohan bagi desa dan kampung lain,” ujarnya. (eka/fun)