alexametrics
29.7 C
Probolinggo
Thursday, 26 May 2022

Begini Pelayanan Gangguan Tumbuh Kembang Anak di Puskesmas Kandangsapi

Sejak tahun 2018, Puskesmas Kandangsapi memiliki pelayanan untuk gangguan tumbuh kembang anak di Kota Pasuruan. Mereka yang dinilai memiliki masalah langsung ditangani untuk diberikan solusi agar dapat berkembang seperti anak seusianya.

————–

Sejumlah anak tampak bermain di depan Klinik Anak di Puskesmas Kandangsapi, Kota Pasuruan. Mereka mewarnai kertas putih di hadapannya. Dengan didampingi oleh wanita parobaya, mereka begitu antusias mengerjakan itu.

Pemandangan ini rutin terlihat setiap Sabtu. Maklum saja, Puskesmas Kandangsapi memiliki program penanganan bagi anak bermasalah dalam tumbuh kembang. Ibu yang memiliki anak demikian, bakal diberi solusi hingga masalah tersebut selesai.

Kepala Puskesmas Kandangsapi dr. Ahmad Shohib mengungkapkan, Puskesmas Kandangsapi sudah memiliki Klinik Anak sejak tahun 2017. Namun, saat itu klinik ini hanya berfungsi untuk memantau saja. Barulah pada 2018, klinik ini juga menyediakan program penanganan.

Shohib –sapaan akrabnya- menjelaskan, masalah gangguan tumbuh kembang itu disebabkan tiga faktor. Yaitu, pada saat kehamilan, pada saat bayi dalam proses kelahiran, dan pada saat bayi sejak masa kelahiran sampai usia lima tahun.

“Gangguan tumbuh kembang itu banyak macamnya. Cuma yang sering kami temui itu adalah celebral palsy (CP) atau kelumpuhan otak,” ungkapnya.

Ia menyebut, CP ini biasanya disebabkan calon ibu mengalami anemia atau kekurangan darah saat kehamilan. Untuk itu, Pemkot mulai melakukan antisipasi sejak dini dengan memberikan vitamin tambah darah mulai usia 14 tahun melalui lembaga sekolah.

CP ini tidak hanya bisa terjadi saat proses kehamilan saja, namun dimungkinkan saat masa kelahiran sampai usia lima tahun. Hal ini biasanya terjadi karena anak ini mengalami penyakit diare. Namun terlambat untuk ditangani dan menimbulkan kejang.

“Kalau sudah kejang, berarti anak itu terkena panas dan menyerang otak. Lalu menimbulkan CP. Penanganannya harus dirujuk ke rumah sakit,” sebut Shohib.

Tak hanya CP, gangguan tumbuh kembang anak ini bisa juga dalam masalah kelima indera. Misalnya, kemampuan berjalan. Seorang anak yang tumbuh kembangnya normal, seharusnya bisa berjalan dalam usia antara satu sampai dua tahun.

Jika dalam usia tersebut mereka belum dapat berjalan, dipastikan anak ini mengalami gangguan. Penanganan di puskesmas adalah dengan mengajak anak tersebut untuk tengkurap, kemudian merangkak. Ini dilakukan secara bertahap.

“Ada evaluasi selama tiga bulan sekali. Untuk perkembangan anak yang mengalami masalah tumbuh kembang dalam berjalan,” jelasnya.

Selain itu, adapula gangguan dalam mendengar, melihat, dan berbicara (speak delay). Gangguan ini bisa dilihat dengan mencoba memanggil anak. Kalau dia menoleh ke arah sumber suara, maka anak ini normal. Gangguan ini biasanya disebabkan karena pola asuh orang tua.

Penanganannya sendiri dengan mengajak peran aktif orang tua anak. Lama kesembuhannya sendiri bergantung pada usia anak. Semakin dini dibawa untuk ditangani, maka penanganannya bakal lebih cepat. Ada yang empat kali konsultasi, namun ada pula yang lebih.

Ia lantas mencontohkan penanganannya. Untuk melihat, anak diminta mengikuti benda oleh petugas dari jarak tiga meter. Sementara, untuk mendengar, anak diberikan bunyi-bunyian mulai dari berbisik, menggunakan tangan, sampai membunyikan benda.

“Untuk speak delay, misalnya dengan sering mengajak anak untuk menyebut huruf hingga benda di depannya. Makanya perlu peran aktif orang tua,” tuturnya.

Terakhir, ada gangguan perhatian dan gangguan sosial. Untuk gangguan perhatian ini, kalau tidak diperhatikan, maka anak tidak mau menoleh. Sementara, gangguan sosial bisa berwujud suka mukul. Penanganannya dengan rutin mengajak anak untuk ketemu orang lain.

Menurutnya, klinik anak ini beroperasi seminggu tiga kali. Yaitu, pada Rabu, Kamis, dan Sabtu selama jam operasional puskesmas. Yaitu mulai pukul 08.00 sampai pukul 12.00. Ada dua bidan yang bakal membantu menangani di Klinik Anak ini.

Kendati demikian, penanganan gangguan tumbuh kembang anak bukannya tanpa kendala. Ada kendala teknis, seperti tidak semua staf bidan bisa menangani. Selain itu, waktu pelayanan pasien yang lama antara 40 sampai 60 menit. Sehingga, prosesnya bisa berlanjut di hari berikutnya.

“Adapula karena faktor orang tua. Kebanyakan mereka selalu menutupi saat mereka mengetahui jika anaknya itu memiliki masalah. Sehingga, terkadang saat dibawa sudah berusia lebih dari lima tahun,” tuturnya. (tom/fun)

Sejak tahun 2018, Puskesmas Kandangsapi memiliki pelayanan untuk gangguan tumbuh kembang anak di Kota Pasuruan. Mereka yang dinilai memiliki masalah langsung ditangani untuk diberikan solusi agar dapat berkembang seperti anak seusianya.

————–

Sejumlah anak tampak bermain di depan Klinik Anak di Puskesmas Kandangsapi, Kota Pasuruan. Mereka mewarnai kertas putih di hadapannya. Dengan didampingi oleh wanita parobaya, mereka begitu antusias mengerjakan itu.

Pemandangan ini rutin terlihat setiap Sabtu. Maklum saja, Puskesmas Kandangsapi memiliki program penanganan bagi anak bermasalah dalam tumbuh kembang. Ibu yang memiliki anak demikian, bakal diberi solusi hingga masalah tersebut selesai.

Kepala Puskesmas Kandangsapi dr. Ahmad Shohib mengungkapkan, Puskesmas Kandangsapi sudah memiliki Klinik Anak sejak tahun 2017. Namun, saat itu klinik ini hanya berfungsi untuk memantau saja. Barulah pada 2018, klinik ini juga menyediakan program penanganan.

Shohib –sapaan akrabnya- menjelaskan, masalah gangguan tumbuh kembang itu disebabkan tiga faktor. Yaitu, pada saat kehamilan, pada saat bayi dalam proses kelahiran, dan pada saat bayi sejak masa kelahiran sampai usia lima tahun.

“Gangguan tumbuh kembang itu banyak macamnya. Cuma yang sering kami temui itu adalah celebral palsy (CP) atau kelumpuhan otak,” ungkapnya.

Ia menyebut, CP ini biasanya disebabkan calon ibu mengalami anemia atau kekurangan darah saat kehamilan. Untuk itu, Pemkot mulai melakukan antisipasi sejak dini dengan memberikan vitamin tambah darah mulai usia 14 tahun melalui lembaga sekolah.

CP ini tidak hanya bisa terjadi saat proses kehamilan saja, namun dimungkinkan saat masa kelahiran sampai usia lima tahun. Hal ini biasanya terjadi karena anak ini mengalami penyakit diare. Namun terlambat untuk ditangani dan menimbulkan kejang.

“Kalau sudah kejang, berarti anak itu terkena panas dan menyerang otak. Lalu menimbulkan CP. Penanganannya harus dirujuk ke rumah sakit,” sebut Shohib.

Tak hanya CP, gangguan tumbuh kembang anak ini bisa juga dalam masalah kelima indera. Misalnya, kemampuan berjalan. Seorang anak yang tumbuh kembangnya normal, seharusnya bisa berjalan dalam usia antara satu sampai dua tahun.

Jika dalam usia tersebut mereka belum dapat berjalan, dipastikan anak ini mengalami gangguan. Penanganan di puskesmas adalah dengan mengajak anak tersebut untuk tengkurap, kemudian merangkak. Ini dilakukan secara bertahap.

“Ada evaluasi selama tiga bulan sekali. Untuk perkembangan anak yang mengalami masalah tumbuh kembang dalam berjalan,” jelasnya.

Selain itu, adapula gangguan dalam mendengar, melihat, dan berbicara (speak delay). Gangguan ini bisa dilihat dengan mencoba memanggil anak. Kalau dia menoleh ke arah sumber suara, maka anak ini normal. Gangguan ini biasanya disebabkan karena pola asuh orang tua.

Penanganannya sendiri dengan mengajak peran aktif orang tua anak. Lama kesembuhannya sendiri bergantung pada usia anak. Semakin dini dibawa untuk ditangani, maka penanganannya bakal lebih cepat. Ada yang empat kali konsultasi, namun ada pula yang lebih.

Ia lantas mencontohkan penanganannya. Untuk melihat, anak diminta mengikuti benda oleh petugas dari jarak tiga meter. Sementara, untuk mendengar, anak diberikan bunyi-bunyian mulai dari berbisik, menggunakan tangan, sampai membunyikan benda.

“Untuk speak delay, misalnya dengan sering mengajak anak untuk menyebut huruf hingga benda di depannya. Makanya perlu peran aktif orang tua,” tuturnya.

Terakhir, ada gangguan perhatian dan gangguan sosial. Untuk gangguan perhatian ini, kalau tidak diperhatikan, maka anak tidak mau menoleh. Sementara, gangguan sosial bisa berwujud suka mukul. Penanganannya dengan rutin mengajak anak untuk ketemu orang lain.

Menurutnya, klinik anak ini beroperasi seminggu tiga kali. Yaitu, pada Rabu, Kamis, dan Sabtu selama jam operasional puskesmas. Yaitu mulai pukul 08.00 sampai pukul 12.00. Ada dua bidan yang bakal membantu menangani di Klinik Anak ini.

Kendati demikian, penanganan gangguan tumbuh kembang anak bukannya tanpa kendala. Ada kendala teknis, seperti tidak semua staf bidan bisa menangani. Selain itu, waktu pelayanan pasien yang lama antara 40 sampai 60 menit. Sehingga, prosesnya bisa berlanjut di hari berikutnya.

“Adapula karena faktor orang tua. Kebanyakan mereka selalu menutupi saat mereka mengetahui jika anaknya itu memiliki masalah. Sehingga, terkadang saat dibawa sudah berusia lebih dari lima tahun,” tuturnya. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/