alexametrics
30.4 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Ketika Emak-emak di Probolinggo Kampanyekan Prokes

Puluhan emak-emak ini tergugah melihat makin banyaknya warga yang mulai meninggalkan protokol kesehatan (prokes). Padahal, pandemi Covid-19 belum berakhir. Reuni yang mereka rencanakan pun diubah. Diganti dengan menggalang petisi dan membagikan masker di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan.

——————–

MINGGU (30/5) siang itu, sekitar 30 emak-emak berkumpul di pintu masuk Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) di Mayangan, Kota Probolinggo. Mereka lantas long march. Dari pintu masuk hingga ke lokasi berendam di PPP atau ngetren disebut tempat kumkum.

Sebuah banner mereka bawa yang isinya mengingatkan warga agar tetap memakai masker. “Ayo Pakai Masker.”

Tentu saja, para perempuan yang terdiri dari tiga komunitas itu semuanya memakai masker. Memberikan contoh pada warga atau pengunjung PPP yang kebetulan mereka temui.

Aksi mereka pun langsung menarik perhatian warga sekitar. Baik warga yang biasa beraktivitas di PPP, juga warga yang sedang kumkum.

BIAR JADI CONTOH: Aksi kaum “emak’emak” ini untuk menggugah masyarakat agar lebih tertib hidup sehat. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Sebenarnya mereka berniat reuni di lokasi kumkum di PPP Mayangan, kemarin pukul 10.30. Reuni diikuti empat komunitas. Yaitu, komunitas Keluarga Buk Rete atau Grub Ruang Tawa, Orang Probolinggo Jawa Timur (OJP), dan Surya Citra Bahari (SCB).

Namun, alangkah kagetnya mereka saat sampai di PPP. Di sana, mereka melihat banyak warga yang mulai lalai menerapkan protokol kesehatan.

Bahkan, 5M yang pernah sangat ketat diterapkan di awal pandemi Covid-19 terjadi, kemarin nyaris tak terlihat. Tidak ada lagi menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas.

Mereka pun tergugah. Acara reuni spontan mereka ubah. Susi Wulandari, 42, ketua Komunitas Keluarga Buk Rete langsung berembuk dengan anggota yang lain. Mereka pun sepakat melakukan aksi damai prokes.

“Kami akhirnya sepakat menggelar aksi damai untuk mengingatkan lagi penerapan protokol kesehatan,” terang  warga asal Desa/Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.

Banner reuni lantas mereka balik, ajakan “Ayo Pakai Masker” ditulis dengan huruf besar. Lalu, semua anggota komunitas bertanda tangan di banner itu. Sebagai bentuk petisi atau dukungan pada pemerintah yang terus mengingatkan untuk menerapkan protokol kesehatan demi melawan Covid-19.

Banner itu pun mereka bawa dengan menggelar long march dari pintu masuk PPP menuju lokasi kumkum di dalam area PPP Mayangan. Sepanjang perjalanan, mereka pun menggalang petisi atau dukungan dari warga yang melintas. Mendukung penerapan protokol kesehatan untuk melawan Covid-19. Warga yang mendukung diminta bertanda tangan di banner yang mereka bawa.

Tak hanya menggalang petisi. Mereka pun membagi-bagikan masker pada warga di pelabuhan yang tidak memakai masker. Tidak sekadar membagikan masker. Beberapa anggota komunitas pun memakaikan masker pada warga. Sekaligus mengajak mereka agar patuh dan taat bermasker.

Beberapa warga yang beruntung bahkan diberi nasi kotak. Warga yang mendapat nasi kotak dan masker pun tersenyum senang. Perut jadi kenyang makan nasi kotakan setelah berendam di laut.

Salah satu yang dapat nasi kotakan itu adalah Sumiati, 54. Warga asal Kecamatan Mayangan itu berangkat pagi-pagi sekali ke PPP Mayangan untuk berendam. Katanya untuk menjaga kesehatan.

Sumiati bahkan tidak sempat sarapan, karena berangkat pagi. Masker dibawanya, namun tidak dipakainya.

“Alhamdulillah dapat nasi kotakan. Tadi belum sempat sarapan. Masker sih saya bawa. Tapi memang tidak saya pakai. Soalnya kan masih berendam,” katanya.

Dia pun mengaku salut pada emak-emak yang menggelar aksi damai untuk mengingatkan warga menggunakan masker. “Mungkin masyarakat mulai bosan pakai masker ya. Jadi ya memang harus terus diingatkan,” tuturnya.

Susi sendiri menilai, masyarakat mulai bosan. Padahal, bosan adalah musuh utama dalam penerapan protokol kesehatan. Apalagi, pandemi Covid-19 belum berakhir.

“Lambat laun seolah masyarakat mulai bosan bermasker dan menerapkan protokol kesehatan. Terbukti pada saat kami datang banyak yang tak bermasker,” katanya.

Penerapan 5M pun dinilainya mulai longgar. Terutama mereka yang tidak pernah tertular Covid-19.

“Taat prokes ini tanggung jawab bersama. Sehingga, kami berupaya, minimal dengan aksi dadakan ini dapat kembali memberikan semangat untuk masyarakat taat prokes,” katanya.

Ia yakin tiap usaha yang dilakukan tersebut pasti akan berdampak baik. “Perkara selepas aksi mereka tetap tidak taat prokes, itu risiko mereka ya. Yang jelas kami berusaha memberikan pengaruh positif,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Yuliati, salah satu anggota SCB asal Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Perempuan 52 tahun itu berharap langkah kecil mereka memberikan dampak baik.

“Saya percaya yang kumkum di sini ingin sehat. Dengan adanya stimulus positif dari kami, semoga memberikan dampak baik. Jangan ampai akibat lalai, kita terpapar dan malah membahayakan keluarga,” tandasnya. (rpd/hn)

Puluhan emak-emak ini tergugah melihat makin banyaknya warga yang mulai meninggalkan protokol kesehatan (prokes). Padahal, pandemi Covid-19 belum berakhir. Reuni yang mereka rencanakan pun diubah. Diganti dengan menggalang petisi dan membagikan masker di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan.

——————–

MINGGU (30/5) siang itu, sekitar 30 emak-emak berkumpul di pintu masuk Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) di Mayangan, Kota Probolinggo. Mereka lantas long march. Dari pintu masuk hingga ke lokasi berendam di PPP atau ngetren disebut tempat kumkum.

Sebuah banner mereka bawa yang isinya mengingatkan warga agar tetap memakai masker. “Ayo Pakai Masker.”

Tentu saja, para perempuan yang terdiri dari tiga komunitas itu semuanya memakai masker. Memberikan contoh pada warga atau pengunjung PPP yang kebetulan mereka temui.

Aksi mereka pun langsung menarik perhatian warga sekitar. Baik warga yang biasa beraktivitas di PPP, juga warga yang sedang kumkum.

BIAR JADI CONTOH: Aksi kaum “emak’emak” ini untuk menggugah masyarakat agar lebih tertib hidup sehat. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Sebenarnya mereka berniat reuni di lokasi kumkum di PPP Mayangan, kemarin pukul 10.30. Reuni diikuti empat komunitas. Yaitu, komunitas Keluarga Buk Rete atau Grub Ruang Tawa, Orang Probolinggo Jawa Timur (OJP), dan Surya Citra Bahari (SCB).

Namun, alangkah kagetnya mereka saat sampai di PPP. Di sana, mereka melihat banyak warga yang mulai lalai menerapkan protokol kesehatan.

Bahkan, 5M yang pernah sangat ketat diterapkan di awal pandemi Covid-19 terjadi, kemarin nyaris tak terlihat. Tidak ada lagi menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas.

Mereka pun tergugah. Acara reuni spontan mereka ubah. Susi Wulandari, 42, ketua Komunitas Keluarga Buk Rete langsung berembuk dengan anggota yang lain. Mereka pun sepakat melakukan aksi damai prokes.

“Kami akhirnya sepakat menggelar aksi damai untuk mengingatkan lagi penerapan protokol kesehatan,” terang  warga asal Desa/Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo.

Banner reuni lantas mereka balik, ajakan “Ayo Pakai Masker” ditulis dengan huruf besar. Lalu, semua anggota komunitas bertanda tangan di banner itu. Sebagai bentuk petisi atau dukungan pada pemerintah yang terus mengingatkan untuk menerapkan protokol kesehatan demi melawan Covid-19.

Banner itu pun mereka bawa dengan menggelar long march dari pintu masuk PPP menuju lokasi kumkum di dalam area PPP Mayangan. Sepanjang perjalanan, mereka pun menggalang petisi atau dukungan dari warga yang melintas. Mendukung penerapan protokol kesehatan untuk melawan Covid-19. Warga yang mendukung diminta bertanda tangan di banner yang mereka bawa.

Tak hanya menggalang petisi. Mereka pun membagi-bagikan masker pada warga di pelabuhan yang tidak memakai masker. Tidak sekadar membagikan masker. Beberapa anggota komunitas pun memakaikan masker pada warga. Sekaligus mengajak mereka agar patuh dan taat bermasker.

Beberapa warga yang beruntung bahkan diberi nasi kotak. Warga yang mendapat nasi kotak dan masker pun tersenyum senang. Perut jadi kenyang makan nasi kotakan setelah berendam di laut.

Salah satu yang dapat nasi kotakan itu adalah Sumiati, 54. Warga asal Kecamatan Mayangan itu berangkat pagi-pagi sekali ke PPP Mayangan untuk berendam. Katanya untuk menjaga kesehatan.

Sumiati bahkan tidak sempat sarapan, karena berangkat pagi. Masker dibawanya, namun tidak dipakainya.

“Alhamdulillah dapat nasi kotakan. Tadi belum sempat sarapan. Masker sih saya bawa. Tapi memang tidak saya pakai. Soalnya kan masih berendam,” katanya.

Dia pun mengaku salut pada emak-emak yang menggelar aksi damai untuk mengingatkan warga menggunakan masker. “Mungkin masyarakat mulai bosan pakai masker ya. Jadi ya memang harus terus diingatkan,” tuturnya.

Susi sendiri menilai, masyarakat mulai bosan. Padahal, bosan adalah musuh utama dalam penerapan protokol kesehatan. Apalagi, pandemi Covid-19 belum berakhir.

“Lambat laun seolah masyarakat mulai bosan bermasker dan menerapkan protokol kesehatan. Terbukti pada saat kami datang banyak yang tak bermasker,” katanya.

Penerapan 5M pun dinilainya mulai longgar. Terutama mereka yang tidak pernah tertular Covid-19.

“Taat prokes ini tanggung jawab bersama. Sehingga, kami berupaya, minimal dengan aksi dadakan ini dapat kembali memberikan semangat untuk masyarakat taat prokes,” katanya.

Ia yakin tiap usaha yang dilakukan tersebut pasti akan berdampak baik. “Perkara selepas aksi mereka tetap tidak taat prokes, itu risiko mereka ya. Yang jelas kami berusaha memberikan pengaruh positif,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Yuliati, salah satu anggota SCB asal Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Perempuan 52 tahun itu berharap langkah kecil mereka memberikan dampak baik.

“Saya percaya yang kumkum di sini ingin sehat. Dengan adanya stimulus positif dari kami, semoga memberikan dampak baik. Jangan ampai akibat lalai, kita terpapar dan malah membahayakan keluarga,” tandasnya. (rpd/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/