Begini Cara Warga di Probolinggo Hilangkan Jenuh di Tengah Pandemi Korona

Berbulan-bulan harus mengikuti anjuran “stay at home” menimbulkan jenuh pada sebagian warga. Tempat wisata yang sejatinya ditutup pun akhirnya jadi sasaran kunjungan warga untuk melepas jenuh.

——————-

Sejak pertengahan Maret 2020, pemerintah gencar mengumandangkan taglinestay at home” untuk memutus rantai penularan Covid-19. Terhitung hampir 2 bulan masyarakat “dipaksa” beraktivitas di rumah.

Mulai bekerja, sekolah, bermain, serta komunikasi dengan orang lain, harus dilakukan di rumah. Meskipun kenyataannya banyak orang yang tidak patuh. Bahkan, tidak sedikit yang jenuh dan bosan harus bertahan dengan “stay at home”.

Tempat-tempat wisata pun banyak yang ditutup. Sehingga, kegiatan berlibur bagi warga pun terbatas. Namun, nyatanya tidak sedikit warga yang nekat datang ke tempat wisata.

Salah satu tempat wisata yang didatangi di Kota Probolinggo adalah Pantai Permata Pilang. Pantai yang ditutup sejak Maret itu tetap ramai dengan aktivitas warga berwisata. Banner bahwa tempat itu ditutup, seolah tidak digubris.

Puluhan warga memancing di tepi sungai Pilang. mereka seolah mengabaikan anjuran pemerintah untuk physical distancing. Mereka bercengkrama sambil menunggu mata kail pancing ditelan ikan.

Masuk lebih jauh ke dalam Pantai Permata Pilang, ada beberapa pemancing yang duduk di tepi sungai. Mereka masuk ke dalam pagar bambu karena kondisinya lebih sepi.

“Kalau di sana terlalu ramai yang mancing. Selain sulit dapat ikan, juga tidak menjaga physical distancing,’ ujar Arman, 35, warga kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan kedopok, Kota Probolinggo, kemarin (30/5).

Arman sendiri tahu kalau Pantai Permata ditutup sejak ada pandemi Korona. Namun, ketika coba-coba datang ke pantai tersebut pekan lalu, ternyata banyak orang yang datang untuk memancing.

“Kebetulan saya hobi mancing. Lihat ternyata banyak orang di sini, akhirnya ya mancing juga,” ujarnya.

Bapak satu anak ini mengaku jenuh dengan kebijakan stay at home. Sulit baginya untuk menjalankan stay at home karena sehari-hari dia bekerja di bengkel.

“Tapi setiap buka media sosial isinya korona terus, ada keluhan masalah bantuan, lihat televisi terus digaungkan stay at home, jujur lelah sekali pikiran saya,” ujarnya.

“Apalagi anak juga diliburkan dan banyak aktivitas di rumah. Jadi, tambah banyak pikiran gak bisa ngawasi karena istri saya juga kerja. Dia dititipkan di rumah neneknya,” tambahnya.

Akhirnya, untuk melepas penat dan jenuh, Arman memilih memancing. Dia berpindah tempat, kadang di Sumber Sentong, kadang juga di Pantai Permata.

“Saya milih sendirian kalau mancing, ndak ngajak anak. Kalau ngajak anak bisa-bisa dia keluyuran ke mana-mana ndak ada yang ngawasi di sini,” ujarnya.

Tidak hanya Arman saja yang merasakan jenuh dengan berbagai kebijakan dan imbauan pemerintah soal korona. Ibu rumah tangga yang sekarang berperan aktif sebagai guru di rumah sejak anak-anak diliburkan pun merasakan hal yang sama.

Anak-anak yang harus berdiam di rumah pun tidak kalah merasakan kejenuhan karena aktivitasnya dibatasi. Berbicara dengan teman sekolah pun hanya dilakukan melalui video call WhatsApp milik orang tuanya.

“Anak saya nangis terus sejak kemarin minta keluar. Jenuh di rumah terus, kangen sekolah katanya. Saya bingung juga karena tempat wisata ditutup. Diajak keluar kota juga ada pembatasan,” ujar Hani Sukmawati, 40, warga Kelurahan Kareng Lor, Kecamatan Kedopok.

Akhirnya Hani mengajak anaknya keliling sepeda motoran di dalam Kota Probolinggo. Namun, cara ini hanya memuaskan beberapa kali saja, karena anak-anaknya ingin bermain di tempat yang leluasa untuk main.

“Kalau diajak ke perbelanjaan saya ndak berani, alun-alun ditutup. Akhirnya saya bawa ke sini. Awalnya ndak yakin karena katanya Pantai Permata ditutup. Alhamdulillah kok bisa masuk,” ujarnya.

Hani menyadari anak-anaknya yang masih SD jenuh dengan keharusan ada di rumah. Lingkungan rumahnya di perumahan juga membuat aktivitas bermain anak-anak juga terbatas.

“Di perumahan saya orang tua memang melarang anaknya main-main di luar. Rata-rata kan warga pendatang. Kalau pas di rumah neneknya di Kebonsari, anak-anak bisa main sama anak tetangga karena tinggal di kampung,” ujarnya.

Kejenuhan 2 putrinya itu dirasakan sejak 3 minggu terakhir. Berbagai reaksi jenuh itu ditunjukkan melalui perilaku yang tidak sehat.

“Biasanya anak-anak saya ini akur, tapi sekarang sering bertengkar. Ada yang rebutan mainan, rebutan HP. Ada saja tingkah laku yang bikin kesal. Padahal, mereka sudah umur 10 tahun, tapi malah jahil seperti anak usia TK. Corat-coret tembok kamar juga,” ujarnya.

Hani mengaku masih khawatir jika anak-anak segera masuk sekolah dengan kondisi wabah yang masih belum pasti. Meskipun putri kembarnya mengaku rindu dengan teman-teman sekolahnya.

“Sekarang diajak ke Pantai Permata mereka lebih gembira. Main di laut meskipun belepotan lumpur,” ujarnya. (put/hn/fun)