Cerita Warga Probolinggo Buat Baju Hazmat, Konsultasi ke IDI agar Tak Salah

Alat Pelindung Diri (APD) bagi petugas medis menjadi kebutuhan penting di tengah maraknya wabah virus korona. Terbatasnya jumlah APD membuat tenaga medis rentan tertular. Dua komunitas di Kota Probolinggo pun berinisiatif mendonasikan APD.

RIDHOWATI SAPUTRI, Wonoasih, Radar Bromo

Merebaknya wabah korona menjadi keprihatinan bagi masyarakat di Kota Probolinggo. Pembatasan aktivitas di ruang publik pun telah dilakukan untuk memutus mata rantai virus bernama Coronavirus Disease-19 (Covid-19) ini.

Di tengah wabah penyakit ini, ketersediaan alat pelindung diri (ADP) semakin sulit didapat. Seperti  baju pelindung diri (hazmat suit atau coverall), sarung tangan lateks, hand sanitizer, dan alkohol.

Bahkan, beberapa APD yang sejatinya digunakan oleh tenaga medis, digunakan pula oleh masyarakat umum. Seperti sarung tangan lateks, digunakan pegawai minimarket untuk berjualan. Bahkan, sempat viral di media sosial, beberapa warga yang takut tertular virus korona, menggunakan baju pelindung diri yang digunakan petugas medis.

Peralatan ini banyak dijual di aplikasi online seperti Shopee, Bukalapak, serta marketplace lain. Di sisi lain, petugas medis kesulitan untuk menjaga keamanan dirinya saat bertugas karena terbatasnya  APD.

Situasi ini membuat dua komunitas di Kota Probolinggo berinisiatif membuat baju pelindung diri bagi petugas medis. Yaitu, Komunitas Peduli Anak Yatim Piatu dan sesama (The Platiez) dan Komunitas Penjahit Kota Probolinggo.

Baju ini dibuat bersumber dari donasi warga yang peduli dengan kesehatan petugas medis. Proses pembuatan baju pelindung diri ini dilakukan di rumah Ririn Tri Kartikowati di Perumahan Sumber Taman, Kelurahan Sumber Taman, Kecamatan Wonoasih. Ririn adalah salah satu anggota Komunitas Penjahit Kota Probolinggo.

Saat Jawa Pos Radar Bromo menyambangi lokasi pembuatan, ada empat perempuan sedang memotong bahan untuk baju pelindung diri. Satu baju pelindung diri telah berhasil diselesaikan dengan model jumpsuit. Baju tersebut tidak menggunakan ritsleting sebagai penutup melainkan menggunakan perekat khusus.

Aksi sosial ini dimotori Rini Windi Astuti. Menurut Rini, wabah penyakit korona saat ini membuat APD untuk tenaga medis berkurang.

“Ini yang mendorong kami untuk menginisiasi pembuatan baju pelindung diri ini. Sebelumnya, kami konsultasi terlebih dahulu dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang bahan yang aman digunakan sebagai baju pelindung diri,” ujarnya.

Bahan yang aman menurutnya, yaitu bahan yang tidak tembus cairan serta memiliki jahitan yang kuat. Sehingga, aman untuk digunakan oleh petugas medis.

“Ada yang terbuat dari spunbond, tapi itu biasanya hanya satu kali pakai. Kalau bahan yang kami gunakan ini bisa dilakukan berulang setelah melalui proses sterilisasi,” jelasnya.

Bahan yang digunakan bernama PVC sheeting berwarna putih. Bahan ini biasanya digunakan untuk pembuatan alas bayi anti air (perlak). Bahan itu kemudian dipotong sesuai pola baju pelindung diri dengan model jumpsuit.

Satu rol sepanjang sekitar 50 meter bisa menjadi 17 baju pelindung diri. Bahan PVC itu lebih dulu dipotong sesuai model dan ukuran, baru diserahkan kepada penjahit.

Rini sendisimengajak The Platiez untuk bergabung. Yayuk Haryuni dari The Platiez mengatakan, komunitasnya bertugas menggalang dana. Selain itu, juga bertugas mencari bahan untuk membuat baju pelindung diri.

Pembuatan itu sendiri, dananya berasal dari donasi warga. Sejak tanggal 20 Maret sampai seminggu, terkumpul donasi dari warga sebesar Rp 7,5 juta.

Donasi itu lantas dibelikan sejumlah kebutuhan. Mulai bahan untuk membuat baju pelindung diri, sepatu boot, alkohol, hand sanitizer dan sa­rung tangan.

Sementara itu, untuk pembuatan baju pelindung diri juga dilakukan sukarela. Rini lantas mengajak Komunitas Penjahit Kota Probolinggo untuk membuat baju pelindung diri.

Saat ini ada empat penjahit yang terlibat dalam proses pembuatan baju pelindung diri itu. Mereka menjahit tanpa dibayar alias sukarela.

“Saat ini yang menjahit ada empat orang. Kami berharap ada tambahan lagi penjahit yang siap menyumbangkan kemampuannya,” ujar Ketua PKK Kecamatan Mayangan ini.

Rini menambahkan, saat ini ada empat rol yang disiapkan untuk pembuatan baju pelindung diri. Sehingga, paling tidak akan siap sekitar 68 baju pelindung diri yang rencananya akan disumbangkan ke IDI Kota Probolinggo. “Nanti yang akan mensterilkan dari pihak IDI,” ujarnya.

Bantuan untuk tenaga medis ini rencananya tidak hanya berupa baju pelindung diri. Beberapa kebutuhan tenaga medis juga disumbangkan. Seperti sarung tangan, hand sanitizer, sepatu bot, dan alkohol.

“Untuk alat lain seperti kacamata goggle, kami kesulitan mendapatkan. Hanya ini yang bisa kami peroleh. Bahkan, hand sanitizer sekarang juga harganya melambung tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Ririn Tri Kartikowati, salah satu penjahit yang terlibat dalam aksi sosial ini mengaku, dia diajak beberapa rekannya di komunitas untuk terlibat dalam aksi sosial ini. Saat diajak, Ririn tidak lantas menerima tawaran tersebut.

“Saya kan juga ada pekerjaan menjahit lain. Saya tanyakan dulu kepada klien apakah boleh barang yang dijahitkan diundur dulu untuk kegiatan ini. Dan mereka semua tidak mempermasalahkan. Makanya, saya ikut ini,” ujarnya.

Untuk menjahit baju pelindung diri, tidak memerlukan waktu yang lama. Asalkan proses pemotongan bahan dilakukan terlebih dahulu.

“Satu baju paling tidak membutuhkan waktu 30 menit untuk menjahit. Menjahitnya lebih sulit daripada kain biasa, karena bahannya ini seperti plastik,” ujarnya.

Jumpsuit tersebut tidak menggunakan ritsleting untuk penutup bajunya. Namun, menggunakan perekat kain yang dijahit.

Ririn menggunakan jarum untuk menahan lipatan kain agar tidak lepas. Kemudian dengan perlahan, menggunakan mesin jahit listrik, potongan-potongan kain PVC itu disulap menjadi sebuah jumpsuit.

“Kami berharap agar orang-orang yang bisa menjahit ikut bergabung juga. Sehingga, bisa membuat baju pelindung diri lebih banyak lagi untuk petugas medis,” harapnya.

Sampai 28 Maret, ada total enam baju pelindung diri yang sudah jadi. Baju itu didonasikan ke IDI. Ada juga 16 pasang sepatu boot, 2 botol alkohol, sembilan boks sarung tangan, 40 botol hand sanitizer dan 4 liter hand sanitizer. (hn)