Cerita Pedagang Oleh-Oleh Ketapang Selama Fungsional Tol Paspro

BERDAMPAK: Difungsikannya tol Paspro sedikit banyak berpengaruh pada PKL. Seperti yang dirasakan PKL di Ketapang, Kota Probolinggo. Mereka merasakan pendapatan turun selama difungsikannya tol tersebut. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Liburan Natal dan Tahun Baru 2019 dirasakan pedagang oleh-oleh Ketapang, Kota Probolinggo, tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya. Penjualan mereka anjlok, seiring dengan difungsikannya tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro).

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

Suasana ramai di sekitar kios pedagang oleh-oleh Ketapang di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Beberapa mobil pribadi dan kendaraan angkutan umum terparkir berjajar.

Beberapa penumpang mobil dan kendaraan keluar menuju kios-kios yang berderet di sepanjang Ketapang. Mereka lantas memilih dan memilah beberapa jenis oleh-oleh yang ada di kios.

Namun umumnya yang mereka cari adalah tape yang dikemas dalam besek maupun kotak kertas yang telah bertempel merk. Ada juga yang mencari produk olahan tape, seperti brownies tape, tape bakar dan prol tape.

Meskipun terlihat ramai, penjualan berbagai produk oleh-oleh di pusat oleh-oleh Ketapang tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Terutama penjualan selama musim liburan sekolah, natal dan tahun baru.

Beberapa pedagang yang ditemui harian Jawa Pos Radar Bromo mengaku, penjualan saat ini menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, penurunannya bisa dikata yang paling rendah.

Salah satu penyebabnya, karena pengunjung berkurang. Berkurangnya pengunjung tidak lepas dari dibukanya tol Paspro secara fungsional tahun ini. Pembukaan tol Paspro secara fungsional ini dilakukan selama liburan natal 2018 dan tahun baru 2019.

Dengan difungsikannya tol Paspro, membuat banyak kendaraan yang lewat jalur tol. Akibatnya tentu saja, jalur tengah atau jalur kota jadi sepi.

Padahal jika lewat jalur kota, pasti pengendara banyak mampir ke pusat oleh-oleh Ketapang. Karena lewat jalur tol, mereka tidak lagi bisa mampir ke pusat oleh-oleh Ketapang.

Penurunan ini bisa semakin tajam jika tol Paspo dibuka secara resmi bagi kendaraan pribadi maupun transportasi umum. “Sekarang ini penjualan sudah turun. Nggak pelu menunggu tol buka, penjualan liburan sekarang ini paling sepi di antara liburan lainnya,” ujar Putri, salah satu pemilik Kios oleh-oleh Sabtu (29/12).

Tahun-tahun sebelumnya, dalam satu hari toko bisa menjual 5-7 kuintal tape. Namun saat ini dalam sehari maksimal 2 kuintal tape yang terjual.

“Dulu setiap liburan seperti sekarang tidak ada waktu buat santai-santai. Ada saja orang keluar masuk buat beli tape atau oleh-oleh lain. Sekarnag kerjanya jauh lebih santai daripada sebelumnya,” tambahnya.

Turunnya penjualan tidak hanya pada produk tape, namun hampir semua produk. “Makanya untuk minta kiriman dari pembuat tape juga dikurangi,” ujarnya.

Putri memprediksi, saat tol Paspro benar-benar dibuka, akan lebih banyak lagi kendaraan pribadi atau bus yang lewat tol daripada lewat jalur non tol. Jika hal ini terjadi, maka pasti akan semakin sepi pengunjung pusat oleh-oleh.

“Mayoritas yang belanja di sini kan memang pengguna kendaraan dari luar kota yang mencari oleh-oleh,” ujarnya.

Putri pun mengusulkan agar di tol Paspro ada penunjuk jalan yang mengarahkan pengguna kendaraan menuju tempat penjualan oleh-oleh Ketapang. Sehingga tempat penjualan ini tetap akan ramai.

“Kalau bisa kami-kami ini bisa mendapat tempat di rest area juga,” ujarnya penuh harap.

Sementara itu Yanti, pemilih kios oleh-oleh Ketapang juga merasakan hal yang sama. “Sekarang ini rata-rata sehari tidak sampai 2 kuintal tape yang bisa terjual. Padahal sedang musim liburan,” ujarnya.

Jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Lebih dari 5 kuintal setiap hari bisa terjual saat liburan.

“Tidak hanya tape, produk oleh-oleh lainnya juga sama. Makanya berkurang juga kirimannya dari produsen,” ujarnya.

Kondisi ini sebenarnya sudah diperkirakan Bappeda Litbang Kota Probolinggo. Rey Suwigtyo, kepala Bappeda Litbang Kota Probolinggo menyebut, pembangunan tol Paspro akan berdampak pada pelaku usaha kecil menengah.

Memang, jalan tol akan memudahkan akses transportasi. Namun dampak yang lain, bisa memukul usaha kecil di Kota Probolinggo.

“Pembangunan tol di Probolinggo memang mempermudah akses transportasi. Tapi juga akan berdampak pada sektor yang lain. Ini sedang kami kaji dampaknya,” ujarnya.

Dengan melalui tol, kendaraan seperti bus pariwisata atau kendaraan pribadi tidak lagi lewat jalur tengah Kota Probolinggo. “Karena itu, bus pariwisata jelas tidak akan mampir ke toko-toko oleh-oleh di Kota Probolinggo karena lewat jalan tol lebih cepat,” ujarnya.

Jika hal ini tidak diantisipasi sebelumnya, jelas akan merugikan usaha di Kota Probolinggo. Seperti pusat oleh-oleh yang ada di Ketapang, tidak akan dilewati oleh bus pariwisata maupun kendaraan yang menuju Banyuwangi-Bali dan menuju Surabaya. (hn)