alexametrics
29.8 C
Probolinggo
Thursday, 19 May 2022

Hainan Rela Belajar ke Bali untuk Mencomot lalu Memodifikasi, Destinasi Wisata Dimodernkan

Apapun dilakukan Hainan untuk menjadi pulau pariwisata internasional. Para pelaku wisata juga tak segan untuk belajar dari pariwisata di belahan benua lain. Sekalipun mencomot dan memodifikasinya. Destinasi wisata lainnya, mereka juga mengenalkan tradisi suku asli disana seraya menegaskan untuk mempertahankan budaya disana.

——————

Memodernkan tempat wisata. Inilah yang saya petik saat berkunjung ke sejumlah spot wisata di Hainan. Mereka memodernkan tempat wisata dengan tujuan, agar pengunjung lebih nyaman.

Kebanyakan hanya melengkapi fasilitas. Seperti menyediakan tempat parkir atau sekadar membuatkan toliet hingga membangun kios untuk pelaku wisata. Tapi tidak merubah bentuk aslinya dari wisatanya maupun atraksinya.

Contohnya seperti di Yetian Li dan Miao Ethnic Village. Sebuah desa yang didalamnya terdapat suku Li dan Miao, suku asli di Hainan yang disebut suku minoritas di Hainan. Suku yang masih bertahan dengan kehidupan aslinya dan cukup unik. Tak ubahnya seperti suku Anak Dalam di Provinsi Jambi, atau suku Dayak di Kalimantan.

Unik, karena mereka punya cara sendiri untuk mengarungi kehidupan. Mulai dari bercocok tanam, tempat tinggal yang bentuknya seperti rumah panggung, wanita yang menenun kain, hingga tradisi menikahkan putrinya bila ada seorang pria yang mengaguminya.

Suku ini selalu menyambut tamu, dengan hidangan arak. Jika mereka senang, maka pemilik rumah akan memegang daun telinga tamunya. Mereka juga akan bernyanyi bersama. Ada pula kebiasaan warga Suki Miao yang memasang kepala kerbau, karena mereka mempercayai, suku mereka pernah dilindungi oleh siluman kerbau.

Inilah yang “dijual” oleh Hainan untuk wisata dan atraksinya. Sebuah konsep modifikasi, yang sebenarnya sudah ada di Indonesia. Bagaimana cara Jogjakarta mempertahankan tradisi Jawa yang ramah menyapa, atau umat Hindu di Bali saat menggelar upacara keagamaannya.

Mereka menjualnya dengan mengajak wisatawan ke suasana perkampungan, yang dibuat mirip tempat aslinya. Hanya dengan membayar 30 RMB (Satu RMB Rp 2.050), kita bisa menyaksikan budaya mereka. Bagiamana perempuan suku Miao menenun kain, atau laki-lakinya yang bekerja dengan menjadi perajin perak.

Modifikasinya, tempat ini sudah direhab. Lahan parkir yang luas dan terdapat stan penjualan bagi para pelaku wisata yang kebanyakan warga dari suku Miao dan Li. “Suku Miao dan Li yang asli juga tidak keberatan. Karena dengan pengembangan wisata, ekonomi juga terkerek. Pemerintah juga melindungi suku minoritas ini,” beber Hwa Sen Eng, salah satu warga yang juga pelaku wisata di tempat ini.

Yetian Li dan Miao Ethnic Village adalah salah satu tempat yang sudah dimodifikasi, demi memutar perekonomian. Modifikasi itu tidak menyeluruh, tetapi membawa dampak cukup signifikan.

Tapi ada pula spot wisata yang dibangun total. Tilik saja saat berkunjung ke Sanya Nanshan Budishm Cultural Tourism Park. Tempat ini adalah pesisir laut, yang sejatinya menjual wisata pantai. Namun tempat ini sudah dirubah total dan kini menjadi ikon Hainan.

MENGHIBUR: Pengunjung yang menikmati tarian di wisata Desa Bali di Xinlong, Hainan. Di tempat ini, ornamen asli Bali dapat ditemui. (Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)

Di lokasi ini terdapat patung Dewi Kwam Im setinggi 108 meter. Dibuat tahun 1999 dan selesai tahun 2005 dan konon menghabiskan biaya sekitar 16 triliun. Mahal memang karena patung tersebut mengandung emas, batu giok dan permata. Untuk menuju patung ini, seseorang cukup berjalan kaki dari lokasi parkir atau menaiki kereta kelinci.

Dua-duanya, lagi-lagi bisa mendatangkan uang bagi pelaku wisata. Karena di sepanjang perjalanan, terdapat toko aksesoris maupun pusat kuliner. Bagi pengunjung, di tempat ini mereka bisa mendapat spot selfie banyak. Karena dari tempat parkir sampai masuk ke patung, dibuat semenarik mungkin dengan ciri khas Tiongkok. Sehingga wisatawan tak hanya sekedar menikmati suasana pantai.

Bukan hanya modifikasi tempat wisata. Di Hainan juga terdapat Desa Bali yang berlokasi di Xinglong, sebuah kabupaten yang ada disana. Desa ini dibuat sekitar tahun 2016 silam. Karena bernama Desa Bali, maka jangan heran banyak ornamen Bali terdapat disana. Termasuk bagaimana wisatawan disuguhkan tari-tarian khas Bali atau Indonesia.

Adalah Ma Yu Po, yang menjadi penggagas tempat ini. Dia kini disebut Kepala Desa Bali. Menurut karyawan yang mengelola tempat ini, Ma Yu Po sudah sering hilir mudik Bali-Tiongkok. Dia rela untuk belajar selama beberapa tahun di Bali. Bahkan belakangan sering mengajak seniman Bali ke Hainan, lalu memintanya untuk membuat patung atau lukisan khas Pulau Dewata.

Ma Yu Po benar-benar detail membangun Desa Bali. Saat wisatawan datang, sudah disuguhkan gapura khas Bali. Begitu masuk ke dalam, banyak terdapat mural Bali. Seperti barong, penari hingga Pura. Uniknya, mereka menggabungkan ornamen Bali dan Tiongkok. Seperti jalan masuk menuju bale bengong untuk tempat pertunjukan atau bersantai, dipasang lampion khas Tiongkok.

Di bale bengong ini, wisatawan juga akan disambut tari-tarian. Kebetulan saat Jawa Pos Radar Bromo kesana, tarian yang disajikan adalah poco-poco. Ya, bukan tarian khas Bali. Tapi mereka memang sedang banyak belajar tari-tarian Indonesia. “Sesekali di hari tertentu digelar tari kecak (tarian kolosal). Kalau hari biasa, tarian-tarian seperti ini (tari Poco-Poco) yang disajikan,” terang Mr He, guide lokal yang menemari perjalanan.

Wisatawan pun diajak untuk menari bersama. Karena kebetulan rombongan saya berasal dari Indonesia, kebanyakan mereka meminta penari untuk menari Bali. Tapi saat itu jumlah penari belum lengkap, karena ada yang libur.

Meski begitu, cara mereka menarik wisatawan, asyik juga. Karena saya menyadari, ternyata Indonesia punya daya tarik yang kuat. Seperti Ma Yu Po menggagas tempat ini. Dia sebenarnya tak hanya ingin mengelola tempat ini menjadi daya tarik. Tapi ingin menjadikan Desa Bali supaya dikunjungi orang Tiongkok, yang tak mampu untuk pergi ke Bali aslinya.

Destinasi wisata asli ataupun yang sedang dikembangkan di Hainan, membuat saya yakin bahwa pariwisata memang harus kontinyu butuh promosi. Sembari itu, butuh pembangunan yang gencar dan fasilitas di tempat wisata, juga wajib untuk dipromosikan lagi. Karena dengan promosi inilah, wisatawan dari belahan dunia manapun akan tahu, bahwa ada tempat menarik yang harus dikunjungi.

Cara Hainan untuk memantik pengunjung juga patut ditiru. Mereka tidak malu untuk mempromosikan tempat wisatanya. Meskipun ada wisata hasil modifikasi. Lambat laun, Hainan bukan tidak mungkin menyalip Bali yang kini penuh dan sesak, apalagi jika high season.

Hainan juga sudah siap dengan infastrukturnya. Ini bisa dilihat dari infrastruktur pendukungnya. Jalan yang lebar di tiap kota, serta tertatanya kendaraan maupun jalur bebas hambatan. Masyrakatnya yang selalu memasang senyum ramah, bisa jadi akan menggeser keramahan Indonesia. (fandi armanto)

Apapun dilakukan Hainan untuk menjadi pulau pariwisata internasional. Para pelaku wisata juga tak segan untuk belajar dari pariwisata di belahan benua lain. Sekalipun mencomot dan memodifikasinya. Destinasi wisata lainnya, mereka juga mengenalkan tradisi suku asli disana seraya menegaskan untuk mempertahankan budaya disana.

——————

Memodernkan tempat wisata. Inilah yang saya petik saat berkunjung ke sejumlah spot wisata di Hainan. Mereka memodernkan tempat wisata dengan tujuan, agar pengunjung lebih nyaman.

Kebanyakan hanya melengkapi fasilitas. Seperti menyediakan tempat parkir atau sekadar membuatkan toliet hingga membangun kios untuk pelaku wisata. Tapi tidak merubah bentuk aslinya dari wisatanya maupun atraksinya.

Contohnya seperti di Yetian Li dan Miao Ethnic Village. Sebuah desa yang didalamnya terdapat suku Li dan Miao, suku asli di Hainan yang disebut suku minoritas di Hainan. Suku yang masih bertahan dengan kehidupan aslinya dan cukup unik. Tak ubahnya seperti suku Anak Dalam di Provinsi Jambi, atau suku Dayak di Kalimantan.

Unik, karena mereka punya cara sendiri untuk mengarungi kehidupan. Mulai dari bercocok tanam, tempat tinggal yang bentuknya seperti rumah panggung, wanita yang menenun kain, hingga tradisi menikahkan putrinya bila ada seorang pria yang mengaguminya.

Suku ini selalu menyambut tamu, dengan hidangan arak. Jika mereka senang, maka pemilik rumah akan memegang daun telinga tamunya. Mereka juga akan bernyanyi bersama. Ada pula kebiasaan warga Suki Miao yang memasang kepala kerbau, karena mereka mempercayai, suku mereka pernah dilindungi oleh siluman kerbau.

Inilah yang “dijual” oleh Hainan untuk wisata dan atraksinya. Sebuah konsep modifikasi, yang sebenarnya sudah ada di Indonesia. Bagaimana cara Jogjakarta mempertahankan tradisi Jawa yang ramah menyapa, atau umat Hindu di Bali saat menggelar upacara keagamaannya.

Mereka menjualnya dengan mengajak wisatawan ke suasana perkampungan, yang dibuat mirip tempat aslinya. Hanya dengan membayar 30 RMB (Satu RMB Rp 2.050), kita bisa menyaksikan budaya mereka. Bagiamana perempuan suku Miao menenun kain, atau laki-lakinya yang bekerja dengan menjadi perajin perak.

Modifikasinya, tempat ini sudah direhab. Lahan parkir yang luas dan terdapat stan penjualan bagi para pelaku wisata yang kebanyakan warga dari suku Miao dan Li. “Suku Miao dan Li yang asli juga tidak keberatan. Karena dengan pengembangan wisata, ekonomi juga terkerek. Pemerintah juga melindungi suku minoritas ini,” beber Hwa Sen Eng, salah satu warga yang juga pelaku wisata di tempat ini.

Yetian Li dan Miao Ethnic Village adalah salah satu tempat yang sudah dimodifikasi, demi memutar perekonomian. Modifikasi itu tidak menyeluruh, tetapi membawa dampak cukup signifikan.

Tapi ada pula spot wisata yang dibangun total. Tilik saja saat berkunjung ke Sanya Nanshan Budishm Cultural Tourism Park. Tempat ini adalah pesisir laut, yang sejatinya menjual wisata pantai. Namun tempat ini sudah dirubah total dan kini menjadi ikon Hainan.

MENGHIBUR: Pengunjung yang menikmati tarian di wisata Desa Bali di Xinlong, Hainan. Di tempat ini, ornamen asli Bali dapat ditemui. (Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)

Di lokasi ini terdapat patung Dewi Kwam Im setinggi 108 meter. Dibuat tahun 1999 dan selesai tahun 2005 dan konon menghabiskan biaya sekitar 16 triliun. Mahal memang karena patung tersebut mengandung emas, batu giok dan permata. Untuk menuju patung ini, seseorang cukup berjalan kaki dari lokasi parkir atau menaiki kereta kelinci.

Dua-duanya, lagi-lagi bisa mendatangkan uang bagi pelaku wisata. Karena di sepanjang perjalanan, terdapat toko aksesoris maupun pusat kuliner. Bagi pengunjung, di tempat ini mereka bisa mendapat spot selfie banyak. Karena dari tempat parkir sampai masuk ke patung, dibuat semenarik mungkin dengan ciri khas Tiongkok. Sehingga wisatawan tak hanya sekedar menikmati suasana pantai.

Bukan hanya modifikasi tempat wisata. Di Hainan juga terdapat Desa Bali yang berlokasi di Xinglong, sebuah kabupaten yang ada disana. Desa ini dibuat sekitar tahun 2016 silam. Karena bernama Desa Bali, maka jangan heran banyak ornamen Bali terdapat disana. Termasuk bagaimana wisatawan disuguhkan tari-tarian khas Bali atau Indonesia.

Adalah Ma Yu Po, yang menjadi penggagas tempat ini. Dia kini disebut Kepala Desa Bali. Menurut karyawan yang mengelola tempat ini, Ma Yu Po sudah sering hilir mudik Bali-Tiongkok. Dia rela untuk belajar selama beberapa tahun di Bali. Bahkan belakangan sering mengajak seniman Bali ke Hainan, lalu memintanya untuk membuat patung atau lukisan khas Pulau Dewata.

Ma Yu Po benar-benar detail membangun Desa Bali. Saat wisatawan datang, sudah disuguhkan gapura khas Bali. Begitu masuk ke dalam, banyak terdapat mural Bali. Seperti barong, penari hingga Pura. Uniknya, mereka menggabungkan ornamen Bali dan Tiongkok. Seperti jalan masuk menuju bale bengong untuk tempat pertunjukan atau bersantai, dipasang lampion khas Tiongkok.

Di bale bengong ini, wisatawan juga akan disambut tari-tarian. Kebetulan saat Jawa Pos Radar Bromo kesana, tarian yang disajikan adalah poco-poco. Ya, bukan tarian khas Bali. Tapi mereka memang sedang banyak belajar tari-tarian Indonesia. “Sesekali di hari tertentu digelar tari kecak (tarian kolosal). Kalau hari biasa, tarian-tarian seperti ini (tari Poco-Poco) yang disajikan,” terang Mr He, guide lokal yang menemari perjalanan.

Wisatawan pun diajak untuk menari bersama. Karena kebetulan rombongan saya berasal dari Indonesia, kebanyakan mereka meminta penari untuk menari Bali. Tapi saat itu jumlah penari belum lengkap, karena ada yang libur.

Meski begitu, cara mereka menarik wisatawan, asyik juga. Karena saya menyadari, ternyata Indonesia punya daya tarik yang kuat. Seperti Ma Yu Po menggagas tempat ini. Dia sebenarnya tak hanya ingin mengelola tempat ini menjadi daya tarik. Tapi ingin menjadikan Desa Bali supaya dikunjungi orang Tiongkok, yang tak mampu untuk pergi ke Bali aslinya.

Destinasi wisata asli ataupun yang sedang dikembangkan di Hainan, membuat saya yakin bahwa pariwisata memang harus kontinyu butuh promosi. Sembari itu, butuh pembangunan yang gencar dan fasilitas di tempat wisata, juga wajib untuk dipromosikan lagi. Karena dengan promosi inilah, wisatawan dari belahan dunia manapun akan tahu, bahwa ada tempat menarik yang harus dikunjungi.

Cara Hainan untuk memantik pengunjung juga patut ditiru. Mereka tidak malu untuk mempromosikan tempat wisatanya. Meskipun ada wisata hasil modifikasi. Lambat laun, Hainan bukan tidak mungkin menyalip Bali yang kini penuh dan sesak, apalagi jika high season.

Hainan juga sudah siap dengan infastrukturnya. Ini bisa dilihat dari infrastruktur pendukungnya. Jalan yang lebar di tiap kota, serta tertatanya kendaraan maupun jalur bebas hambatan. Masyrakatnya yang selalu memasang senyum ramah, bisa jadi akan menggeser keramahan Indonesia. (fandi armanto)

MOST READ

BERITA TERBARU

/