alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

Cerita Seniman Lukis Pasuruan saat Pandemi Melanda

Pandemi Covid-19 benar-benar berdampak pada berbagai sektor. Tak terkecuali bagi seniman, seperti Anwar Sanusi, 30, pelukis asal Dusun Selokambang, Gununggangsir, Kecamatan Beji. Sejak pandemi, agenda pameran di sejumlah tempat tertunda. Dia pun akhirnya sendirian pameran atau pameran ijen. Gudang belakang rumahnya, ia sulap menjadi tempat pameran.

——————

RUANGAN itu berukuran tak lebih dari 6×13 meter. Cat putih menjadi background yang melekat pada seluruh dinding. Selain lukisan kaligrafi, tidak ada ornamen atau hiasan lain yang terpajang.

Lukisan itu merupakan hasil karya Anwar Sanusi, 30. Lukisan kaligrafi itu sengaja dipajangnya, untuk kegiatan pameran ijen yang dilakukannya. Ada 75 karya lukis berbagai ukuran yang dipampang.

“Puluhan karya ini sebagian besar karya saya selama tahun 2020. Ada sebagian juga yang merupakan hasil karya tahun 2019. Saya sengaja memajang 75 karya, karena menyesuaikan dengan HUT RI ke 75 tahun,” ungkap Anwar.

Sudah sebulan terakhir pameran itu digelarnya. Gelaran pameran itu dilakukan untuk menyikapi dampak pandemi kegiatan seni. Tidak hanya di daerah, tetapi juga secara nasional.

Biasanya, pameran-pameran seni banyak digelar setiap tahun. Setahun, ia bisa berulang kali mengikuti pameran. Tidak hanya tingkat lokal Kabupaten Pasuruan. Tetapi juga di berbagai daerah. Malang, Jogjakarta, Solo dan berbagai daerah lainnya.

TERTUNDA: Anwar Sanusi mengaku, saat pandemi, ada beberapa pameran yang menjadi agendanya, harus tertunda. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Namun, pandemi korona yang terjadi tahun 2020, membuat pameran seni lukis nyaris tidak ada. Ia pun pernah mendapat undangan pameran di Solo, beberapa waktu lalu. Sejumlah lukisan ia buat untuk menyemarakkan acara.

“Tapi kemudian saya mendapat informasi kalau pamerannya ditunda. Semuanya karena dampak korona,” aku dia.

Banyaknya agenda pameran yang ditunda, membuatnya sedikit gerah. Padahal, pameran merupakan wadah bagi seniman untuk eksistensi diri dalam menunjukkan karya. Karena dari situ, hasil karya yang dibuat bisa dilirik orang.

Tak ingin kehilangan eksistensi itulah, ia pun akhirnya berpikir keras. Ide pameran tunggal yang disebutnya pameran ijen solusi menyikapi pandemi korona digagasnya. Ide itu muncul setelah melihat gudang di belakang rumahnya. Gudang tersebut semula hanya tempat menyimpan barang. Termasuk tempat penimbunan karyanya.

“Setelah berpikir keras, saya berpikir mengapa gudang ini tidak saya manfaatkan. Di situ, saya kemudian berusaha menyulap gudang di belakang rumah jadi tempat pameran,” sambung dia.

Seminggu lamanya ia mengotak-atik gudang tersebut. Hingga 31 Agustus 2020, gudang itupun berhasil disulapnya menjadi tempat pameran karyanya. Sejak itu pula, pameran kaligrafi dibukanya.

Jangan bayangkan pameran di sebuah hotel atau gedung mewah. Karena menurut Anwar, kegiatan pameran itu dibuat dengan tempat seadanya. Baginya, bisa mengenalkan karya dan pesan yang terkandung di dalamnya merupakan hal yang menyenangkan.

Beberapa pengunjung pun berdatangan. Terutama pelajar. Dalam sehari bisa sampai 20 orang. Memang, tingkat kunjungannya jika dibandingkan pameran pada umumnya. Hal ini disadarinya karena masih pandemi korona.

“Pembatasan pengunjung juga kami berlakukan. Untuk menjalankan anjuran pemerintah agar tidak kumpul-kumpul,” imbuhnya.

Gudang pameran lukis yang dinamakan Pondok Seni Anwar Sanusi Art Space itu, diproyeksikannya pula untuk menjadi sarana edukasi bagi kalangan pelajar. Karena, dari situ nantinya pelajar bisa mempelajari lukisan hasil karyanya. (one/fun)

Pandemi Covid-19 benar-benar berdampak pada berbagai sektor. Tak terkecuali bagi seniman, seperti Anwar Sanusi, 30, pelukis asal Dusun Selokambang, Gununggangsir, Kecamatan Beji. Sejak pandemi, agenda pameran di sejumlah tempat tertunda. Dia pun akhirnya sendirian pameran atau pameran ijen. Gudang belakang rumahnya, ia sulap menjadi tempat pameran.

——————

RUANGAN itu berukuran tak lebih dari 6×13 meter. Cat putih menjadi background yang melekat pada seluruh dinding. Selain lukisan kaligrafi, tidak ada ornamen atau hiasan lain yang terpajang.

Lukisan itu merupakan hasil karya Anwar Sanusi, 30. Lukisan kaligrafi itu sengaja dipajangnya, untuk kegiatan pameran ijen yang dilakukannya. Ada 75 karya lukis berbagai ukuran yang dipampang.

“Puluhan karya ini sebagian besar karya saya selama tahun 2020. Ada sebagian juga yang merupakan hasil karya tahun 2019. Saya sengaja memajang 75 karya, karena menyesuaikan dengan HUT RI ke 75 tahun,” ungkap Anwar.

Sudah sebulan terakhir pameran itu digelarnya. Gelaran pameran itu dilakukan untuk menyikapi dampak pandemi kegiatan seni. Tidak hanya di daerah, tetapi juga secara nasional.

Biasanya, pameran-pameran seni banyak digelar setiap tahun. Setahun, ia bisa berulang kali mengikuti pameran. Tidak hanya tingkat lokal Kabupaten Pasuruan. Tetapi juga di berbagai daerah. Malang, Jogjakarta, Solo dan berbagai daerah lainnya.

TERTUNDA: Anwar Sanusi mengaku, saat pandemi, ada beberapa pameran yang menjadi agendanya, harus tertunda. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Namun, pandemi korona yang terjadi tahun 2020, membuat pameran seni lukis nyaris tidak ada. Ia pun pernah mendapat undangan pameran di Solo, beberapa waktu lalu. Sejumlah lukisan ia buat untuk menyemarakkan acara.

“Tapi kemudian saya mendapat informasi kalau pamerannya ditunda. Semuanya karena dampak korona,” aku dia.

Banyaknya agenda pameran yang ditunda, membuatnya sedikit gerah. Padahal, pameran merupakan wadah bagi seniman untuk eksistensi diri dalam menunjukkan karya. Karena dari situ, hasil karya yang dibuat bisa dilirik orang.

Tak ingin kehilangan eksistensi itulah, ia pun akhirnya berpikir keras. Ide pameran tunggal yang disebutnya pameran ijen solusi menyikapi pandemi korona digagasnya. Ide itu muncul setelah melihat gudang di belakang rumahnya. Gudang tersebut semula hanya tempat menyimpan barang. Termasuk tempat penimbunan karyanya.

“Setelah berpikir keras, saya berpikir mengapa gudang ini tidak saya manfaatkan. Di situ, saya kemudian berusaha menyulap gudang di belakang rumah jadi tempat pameran,” sambung dia.

Seminggu lamanya ia mengotak-atik gudang tersebut. Hingga 31 Agustus 2020, gudang itupun berhasil disulapnya menjadi tempat pameran karyanya. Sejak itu pula, pameran kaligrafi dibukanya.

Jangan bayangkan pameran di sebuah hotel atau gedung mewah. Karena menurut Anwar, kegiatan pameran itu dibuat dengan tempat seadanya. Baginya, bisa mengenalkan karya dan pesan yang terkandung di dalamnya merupakan hal yang menyenangkan.

Beberapa pengunjung pun berdatangan. Terutama pelajar. Dalam sehari bisa sampai 20 orang. Memang, tingkat kunjungannya jika dibandingkan pameran pada umumnya. Hal ini disadarinya karena masih pandemi korona.

“Pembatasan pengunjung juga kami berlakukan. Untuk menjalankan anjuran pemerintah agar tidak kumpul-kumpul,” imbuhnya.

Gudang pameran lukis yang dinamakan Pondok Seni Anwar Sanusi Art Space itu, diproyeksikannya pula untuk menjadi sarana edukasi bagi kalangan pelajar. Karena, dari situ nantinya pelajar bisa mempelajari lukisan hasil karyanya. (one/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/