29.5 C
Probolinggo
Wednesday, June 7, 2023

Andika Adisetiyadi, Modifikator Minitrek Pemburu Sepeda Lawas

Booming kegiatan bersepeda atau gowes, menimbulkan kreativitas tersendiri di kalangan penggunanya. Gowes tidak harus menggunakan sepeda keluaran terbaru. Sepeda lawas pun dimodifikasi agar bisa digunakan lagi. Namun, mendapatkan sepeda lawas untuk dimodifikasi ternyata jauh lebih susah daripada memodifikasi sepeda itu sendiri.

IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo

Sepeda mini itu tampak lebih kilap. Jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya, yang tak ubahnya besi rongsokan. Di tangan Andika Adisetiyadi, 33, sepeda rongsokan itu benar-benar berubah.

Bukan sekadar dicat ulang. Sepeda lawas itu dipermak habis-habisan. Mulai setir, crank atau piringan, dan beberapa komponen lainnya. Semuanya dibuat lebih trendi, khas anak muda penuh gaya saat ini.

“Sepeda inilah yang kami sebut minitrek,” kata Ambon -sapaan karib Andika Adisetiyadi- sembari menunjukkan sepeda kayuh hasil modifikasinya.

Warga Desa Masangan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, itu mulai jatuh hati pada sepeda minitrek pada Mei 2020. Saat itu dia mengikuti gowes ke Porong, Kabupaten Sidoarjo. Ada banyak peserta. Salah satu pesertanya yaitu para komunitas minitrek.

Mereka melaju dengan kencang. Bahkan, Ambon tidak bisa mengejar para peserta itu. Meskipun dirinya mengejar dengan sepeda gunung yang relatif baru.

“Mereka nyalip saya. Begitu berhenti, baru saya mengetahui tentang sepeda minitrek ini. Mulai saat itu, saya penasaran dengan sepeda minitrek itu,” kenang dia.

Baca Juga:  Kampung Kelor di Kelurahan Pekuncen yang Mengolah Minuman hingga Kue

Dari situ, ia jatuh cinta kepada minitrek. Ia pun berusaha untuk membeli, namun ternyata susah untuk mendapatkan barang jadi.

Berangkat dari situ, ia bertekad memiliki minitrek sendiri. Meski harus membuat atau memodifikasi sendiri. Namun ternyata, membuat sepeda minitrek tidak semudah yang dibayangkan.

Lelaki yang menggeluti dunia otomotif ini bukan kesulitan pada modifikasinya. Melainkan kesulitan mendapatkan sepeda lawas sebagai rangka dasarnya.

“Saya mencari ke pasar-pasar sepeda bekas, tapi sulit. Saya kemudian nyari-nyari di tempat-tempat rongsokan. Baru nemu rangka sepeda ini,” sampainya.

Untuk mendapatkan bodi minitrek, ia harus berburu ke tempat-tempat rongsokan. Tidak hanya di wilayah Kabupaten Pasuruan. Tetapi juga sampai ke Probolinggo hingga Sidoarjo.

Pernah ia ditolak masuk Probolinggo karena waktu itu sedang ada kebijakan pembatasan warga masuk ke kawasan setempat. “Saya akhirnya balik kanan dan tidak mendapatkan barang,” kisahnya.

Untuk mendapatkan sepeda lawas pun, butuh waktu lebih dari sehari atau dua hari. Bahkan, bisa sampai seminggu baru dapat. Karena itu kalau ada informasi tentang keberadaan sepeda lawan, harus cepat ditanggapi. Bila tidak, bisa hilang dibeli orang.

Maklum, peminat minitrek mulai berkembang. Karena itu, sepeda lawas pun jadi rebutan di pasar rongsokan. Siapa paling cepat, ia yang akan dapat.

Baca Juga:  Sejak Terapkan Belanja Pesan-Antar Online, Pembeli di Pasar Kebonagung Berkurang, Tapi Penghasilan Naik

“Pernah ada barang di Sidoarjo. Saya berencana ambil besok. Ternyata barangnya sudah terbeli orang lain,” kenang dia.

Walau mendapatkan rangka sepeda lawas susah, namun modifikasinya tidaklah sulit. Apalagi, Ambon sudah memiliki basic otomotif. Ia tinggal membersihkan rangka atau bodi sepeda. Karatan yang ada di sepeda dibersihkan dan digosok hingga halus. Kemudian dicat dasar atau poksi. Baru selanjutnya dicat samurai.

Lalu, komponen-komponen lain ditambahkan. Setir diganti. Sadel diperbarui. Beberapa bagian lainnya juga diremajakan dan disesuaikan. Proses tersebut setidaknya membutuhkan waktu sepekan.

Sejauh ini, Ambon mengaku sudah memodifikasi empat unit sepeda Phoenix menjadi minitrek. Seperti yang disampaikannya, bukan modifikasi yang susah. Tetapi, mencari barang atau sepeda untuk dimodifikasi yang membutuhkan waktu lama.

Dari sepeda yang sudah dimodifikasinya, sudah ada yang laku terjual. Meski baru satu unit. Yang membuat tercengang, harga jualnya mencapai Rp 1,5 juta. Jauh berlipat dibandingkan harga awal yang dibelinya.

“Saya dapat sepedanya biasanya Rp 200 ribu. Tapi, setelah direstorasi bisa menghabiskan ratusan ribu. Dan kalau dijual, bisa Rp 1 juta hingga di atasnya,” tandas dia. (hn)

Booming kegiatan bersepeda atau gowes, menimbulkan kreativitas tersendiri di kalangan penggunanya. Gowes tidak harus menggunakan sepeda keluaran terbaru. Sepeda lawas pun dimodifikasi agar bisa digunakan lagi. Namun, mendapatkan sepeda lawas untuk dimodifikasi ternyata jauh lebih susah daripada memodifikasi sepeda itu sendiri.

IWAN ANDRIK, Bangil, Radar Bromo

Sepeda mini itu tampak lebih kilap. Jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya, yang tak ubahnya besi rongsokan. Di tangan Andika Adisetiyadi, 33, sepeda rongsokan itu benar-benar berubah.

Bukan sekadar dicat ulang. Sepeda lawas itu dipermak habis-habisan. Mulai setir, crank atau piringan, dan beberapa komponen lainnya. Semuanya dibuat lebih trendi, khas anak muda penuh gaya saat ini.

“Sepeda inilah yang kami sebut minitrek,” kata Ambon -sapaan karib Andika Adisetiyadi- sembari menunjukkan sepeda kayuh hasil modifikasinya.

Warga Desa Masangan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, itu mulai jatuh hati pada sepeda minitrek pada Mei 2020. Saat itu dia mengikuti gowes ke Porong, Kabupaten Sidoarjo. Ada banyak peserta. Salah satu pesertanya yaitu para komunitas minitrek.

Mereka melaju dengan kencang. Bahkan, Ambon tidak bisa mengejar para peserta itu. Meskipun dirinya mengejar dengan sepeda gunung yang relatif baru.

“Mereka nyalip saya. Begitu berhenti, baru saya mengetahui tentang sepeda minitrek ini. Mulai saat itu, saya penasaran dengan sepeda minitrek itu,” kenang dia.

Baca Juga:  Kampung Kelor di Kelurahan Pekuncen yang Mengolah Minuman hingga Kue

Dari situ, ia jatuh cinta kepada minitrek. Ia pun berusaha untuk membeli, namun ternyata susah untuk mendapatkan barang jadi.

Berangkat dari situ, ia bertekad memiliki minitrek sendiri. Meski harus membuat atau memodifikasi sendiri. Namun ternyata, membuat sepeda minitrek tidak semudah yang dibayangkan.

Lelaki yang menggeluti dunia otomotif ini bukan kesulitan pada modifikasinya. Melainkan kesulitan mendapatkan sepeda lawas sebagai rangka dasarnya.

“Saya mencari ke pasar-pasar sepeda bekas, tapi sulit. Saya kemudian nyari-nyari di tempat-tempat rongsokan. Baru nemu rangka sepeda ini,” sampainya.

Untuk mendapatkan bodi minitrek, ia harus berburu ke tempat-tempat rongsokan. Tidak hanya di wilayah Kabupaten Pasuruan. Tetapi juga sampai ke Probolinggo hingga Sidoarjo.

Pernah ia ditolak masuk Probolinggo karena waktu itu sedang ada kebijakan pembatasan warga masuk ke kawasan setempat. “Saya akhirnya balik kanan dan tidak mendapatkan barang,” kisahnya.

Untuk mendapatkan sepeda lawas pun, butuh waktu lebih dari sehari atau dua hari. Bahkan, bisa sampai seminggu baru dapat. Karena itu kalau ada informasi tentang keberadaan sepeda lawan, harus cepat ditanggapi. Bila tidak, bisa hilang dibeli orang.

Maklum, peminat minitrek mulai berkembang. Karena itu, sepeda lawas pun jadi rebutan di pasar rongsokan. Siapa paling cepat, ia yang akan dapat.

Baca Juga:  Dandim 0819 yang Bercita-cita Jadi Insinyur Pesawat Seperti Habibie

“Pernah ada barang di Sidoarjo. Saya berencana ambil besok. Ternyata barangnya sudah terbeli orang lain,” kenang dia.

Walau mendapatkan rangka sepeda lawas susah, namun modifikasinya tidaklah sulit. Apalagi, Ambon sudah memiliki basic otomotif. Ia tinggal membersihkan rangka atau bodi sepeda. Karatan yang ada di sepeda dibersihkan dan digosok hingga halus. Kemudian dicat dasar atau poksi. Baru selanjutnya dicat samurai.

Lalu, komponen-komponen lain ditambahkan. Setir diganti. Sadel diperbarui. Beberapa bagian lainnya juga diremajakan dan disesuaikan. Proses tersebut setidaknya membutuhkan waktu sepekan.

Sejauh ini, Ambon mengaku sudah memodifikasi empat unit sepeda Phoenix menjadi minitrek. Seperti yang disampaikannya, bukan modifikasi yang susah. Tetapi, mencari barang atau sepeda untuk dimodifikasi yang membutuhkan waktu lama.

Dari sepeda yang sudah dimodifikasinya, sudah ada yang laku terjual. Meski baru satu unit. Yang membuat tercengang, harga jualnya mencapai Rp 1,5 juta. Jauh berlipat dibandingkan harga awal yang dibelinya.

“Saya dapat sepedanya biasanya Rp 200 ribu. Tapi, setelah direstorasi bisa menghabiskan ratusan ribu. Dan kalau dijual, bisa Rp 1 juta hingga di atasnya,” tandas dia. (hn)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru