Inilah Gerakan Pasuruan Inspiratif yang Konsen di Sosial, Terbentuk Usai Insiden Ambruknya SDN Gentong

Beberapa pentolan komunitas di Kota Pasuruan membentuk suatu gerakan. Mereka menamakan diri Gerakan Pasuruan Inspiratif. Gerakan ini menaruh perhatian khusus terhadap permasalahan sosial yang tengah dihadapi masyarakat. Anggotanya memiliki latar belakang profesi yang beragam.

————–

Rona bahagia jelas tak bisa disembunyikan dari wajah Ismi, ketika beberapa temannya datang memberikan kejutan. Minggu (28/6) selepas magrib itu, rumahnya di Kelurahan/Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, mendadak ramai. Riuh rendah ucapan selamat ulang tahun dilontarkan puluhan temannya.

Malam itu, anggota Gerakan Pasuruan Inspiratif tidak hanya merayakan ulang tahun Ismi. Tasyakuran yang dipungkasi panjatan doa itu beralih menjadi forum rapat. Suasananya memang tidak lagi seramai tadi. Bahkan, cenderung serius, meski tetap terkesan hangat.

Dalam rapat itu, mereka sedang membahas rencana kegiatan yang bakal dilakukan. Dedy Setiawan memimpin rapat yang berlangsung di sebuah teras rumah itu. Dia pula yang menjadi ketua Gerakan Pasuruan Inspiratif. Sebuah gerakan yang boleh dibilang, tercetus secara tidak sengaja.

Tepatnya menjelang akhir 2019 silam. Pascainsiden ambruknya bangunan SDN Gentong, merupakan momentum cikal bakal terbentuknya gerakan tersebut. Insiden yang menelan dua korban jiwa itu, mengharuskan semua pihak turun tangan. Sebagian besar siswanya mengalami trauma.

Tak terkecuali anak-anak TK yang tak jauh dari bangunan sekolah ambruk. Insiden mengerikan itu membuat kondisi psikologis mereka terguncang. Dedy sempat dihubungi seorang temannya yang mengajar di SDN Gentong. “Dia minta tolong agar dibantu menenangkan siswa karena trauma,” katanya.

TOTALITAS: Gerakan Pasuruan Inspiratif juga ikut membantu mencegah penyebaran Covid-19. (Foto: Istimewa)

Pria asal Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo, itu lantas mengontak beberapa kenalannya. Barangkali ada yang bisa diajak untuk ikut menenangkan siswa, pikirnya saat itu. Kebetulan, sebagian teman-teman Dedy punya kemahiran soal psikologi dan hipnoterapi.

“Setelah kami datang ke sekolah, tidak hanya siswa SD saja yang trauma. Tetapi anak-anak TK yang juga trauma berat, mereka masih sangat kecil,” ungkapnya.

Sedikitnya, ada 10 anak TK yang tergolong trauma berat. Kondisi mereka sudah sangat terguncang. Ketakutan sudah pasti. Teriak dan jerit tangis pun tak terelakkan. “Bahkan ada yang sampai ngompol di celana,” kenang Dedy.

Dedy dan sembilan temannya melakukan trauma healing. Berbagai upaya dilakukan untuk mengusir ketakutan yang dirasakan anak-anak. Pada intinya, Dedy dan teman-temannya itu harus memastikan anak-anak merasa nyaman dan terlindungi. Perlahan-lahan mereka diajak bermain agar rasa takut itu lenyap.

“Setiap hari kami ke sana. Sampai sepekan setelah kejadian, baru anak-anak mulai membaik,” ucapnya.

Sejak terlibat dalam melakukan trauma healing itulah, Dedy dan sejumlah temannya menginisiasi sebuah gerakan sosial. Nama Pasuruan Inspiratif kemudian menjadi identitas gerakan itu. Setiap anggotanya berasal dari berbagai komunitas. Ada yang dari komunitas literasi, teater, pecinta alam, PNS, relawan, hingga mahasiswa.

“Kemudian kami sepakat untuk concern dengan persoalan-persoalan sosial yang sedang terjadi,” tambah Sekretaris Gerakan Pasuruan Inspiratif Firdaus.

Kewaspadaan akan penyebaran virus korona baru-baru ini juga tak luput dari perhatian mereka. Berbekal dari iuran anggota, mereka berusaha mengantisipasi penyebaran virus yang diketahui pertama kali di Wuhan, Tiongkok, itu. Berbagai alat dan perlengkapan dibeli untuk melakukan sterilisasi permukiman dengan menyemprot disinfektan. Serta, menyediakan beberapa tempat cuci tangan di sejumlah kampung.

“Itu sudah kami lakukan sebelum Kota Pasuruan ada pasien positif, sekitar bulan Maret kami sudah jalan,” kata Firdaus.

Sayangnya, apa yang mereka lakukan juga tak selamanya berjalan mulus. Sebelum Kota Pasuruan ditetapkan sebagai zona merah, upaya Dedy dan teman-temannya tak diterima dengan baik. Dipandang sebelah mata, bahkan dituduh sebagai tim bakal calon wali kota tertentu.

“Padahal ya sama sekali tidak ada kaitannya dengan kepentingan politik. Lha wong semua itu kami urunan kok,” tandas Firdaus. (tom/fun)