alexametrics
29.4 C
Probolinggo
Tuesday, 5 July 2022

Gus Fatih Bangun Manajemen Pesantren agar Lebih Kokoh

Setelah mondok empat tahun, Gus Fatih kembali ke Malang. Melanjutkan pendidikannya di MAN 3 Malang. Masuk kelas akselerasi, membuatnya dapat lulus lebih cepat. Hanya dalam waktu dua tahun, sudah dinyatakan lulus.

Lulus SMA, kembali ke pesantren. Saat itu, belajar di Pesantren Al-Fatah Magetan. Namun, tidak sampai setahun memilih untuk melanjutkan pendidikan sarjana. Gus Fatih mengambil Jurusan Manajemen Keuangan di Universitas Indonesia.

“Semua pendidikan yang saya tempuh abah dan umi merestui. Bahkan, memberikan pandangan jika saya harus memperoleh pendidikan tidak hanya di pondok, tetapi juga ilmu umum di luar pondok,” katanya.

Gus Fatih memiliki pemikiran maju dan lebih modern. Bahwa, untuk mengembangkan pesantren bukan hanya dari sistem pembelajaran yang diterapkan. Ada hal penting lain yang perlu ditata dengan baik, perlu manajemen yang tepat. Agar eksistensi dan perkembangan pesantren dari segi sarana prasarana dapat terlaksana serta terus meningkat.

Selepas lulus dan menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE), Gus Fatih tidak buru-buru kembali ke pondok. Ia sempat bekerja di sebuah perusahaan konsultan pajak selama empat tahun. Masa yang cukup lama. Hingga akhirnya diminta pulang oleh keluarganya untuk mengurus pesantren.

“Pengalaman di bidang manajamen sudah lumayan banyak. Akhirnya diminta pulang, permintaan itu pun saya turuti. Sepeninggal Kiai Muzayyan, saya diberikan amanah untuk menjadi ketua Yayasan Badridduja,” jelasnya.

Banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakannya agar yayasan menjadi lebih maju. Perlahan dilakukanlah revitalisasi yayasan. Pesantren Badridduja memiliki sejumlah lembaga pendidikan yang harus tetap berkembang. Selain pesantren, juga ada SMP-SMA; MTs-MA; serta Program Tahfiz dan Madrasah Diniyah.

Setelah mondok empat tahun, Gus Fatih kembali ke Malang. Melanjutkan pendidikannya di MAN 3 Malang. Masuk kelas akselerasi, membuatnya dapat lulus lebih cepat. Hanya dalam waktu dua tahun, sudah dinyatakan lulus.

Lulus SMA, kembali ke pesantren. Saat itu, belajar di Pesantren Al-Fatah Magetan. Namun, tidak sampai setahun memilih untuk melanjutkan pendidikan sarjana. Gus Fatih mengambil Jurusan Manajemen Keuangan di Universitas Indonesia.

“Semua pendidikan yang saya tempuh abah dan umi merestui. Bahkan, memberikan pandangan jika saya harus memperoleh pendidikan tidak hanya di pondok, tetapi juga ilmu umum di luar pondok,” katanya.

Gus Fatih memiliki pemikiran maju dan lebih modern. Bahwa, untuk mengembangkan pesantren bukan hanya dari sistem pembelajaran yang diterapkan. Ada hal penting lain yang perlu ditata dengan baik, perlu manajemen yang tepat. Agar eksistensi dan perkembangan pesantren dari segi sarana prasarana dapat terlaksana serta terus meningkat.

Selepas lulus dan menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE), Gus Fatih tidak buru-buru kembali ke pondok. Ia sempat bekerja di sebuah perusahaan konsultan pajak selama empat tahun. Masa yang cukup lama. Hingga akhirnya diminta pulang oleh keluarganya untuk mengurus pesantren.

“Pengalaman di bidang manajamen sudah lumayan banyak. Akhirnya diminta pulang, permintaan itu pun saya turuti. Sepeninggal Kiai Muzayyan, saya diberikan amanah untuk menjadi ketua Yayasan Badridduja,” jelasnya.

Banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakannya agar yayasan menjadi lebih maju. Perlahan dilakukanlah revitalisasi yayasan. Pesantren Badridduja memiliki sejumlah lembaga pendidikan yang harus tetap berkembang. Selain pesantren, juga ada SMP-SMA; MTs-MA; serta Program Tahfiz dan Madrasah Diniyah.

MOST READ

BERITA TERBARU

/