alexametrics
25C
Probolinggo
Tuesday, 20 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Malangnya Shabir Sadiq, Bayi asal Bangil yang Derita Hydrocephalus

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Shabir Ahmad Shadiq menderita sakit yang cukup berat di usia yang masih sangat belia. Bayi yang belum genap berusia satu tahun ini diketahui menderita hydrocephalus atau kelebihan cairan yang menekan otak.

 

TIDAK ada satu pun yang mengetahui sakit yang diderita bayi Shabir Ahmad Shadiq selama ini. Bahkan, Ketua RT 02/RW 03 di Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil, tempat keluarga Shabir tinggal, juga sempat tidak tahu.

Hingga suatu hari, ada seorang warga yang main ke rumah pasangan suami istri (pasutri) Muhammad Yasin dan Maulidah Rosalina. Saat itulah, warga tersebut melihat kondisi Shabir yang mengalami pembesaran pada bagian kepala.

Karena kondisi itu, tubuh Shabir seperti tidak seimbang. Ukuran kepalanya jauh lebih besar dari tubuhnya. Sementara tubuhnya kecil. Shabir pun nyaris tidak bisa bergerak.

Kondisi bayi Shabir yang memprihatinkan itu, langsung disampaikan ke Lurah Gempeng Arfian Fachrudin. Pihak kelurahan sempat terkejut saat menerima informasi ini. Sebab, selama ini tidak ada yang melapor pada kelurahan.

Informasi ini pun langsung ditindaklanjuti oleh kelurahan dengan melapor ke musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) Bangil. Mereka pun mendatangi rumah keluarga Shabir. Namun, awalnya tidaklah mudah.

“Ada warga yang melapor ke kantor kelurahan sekitar tiga hari lalu. Kami pun langsung mendatangi rumah keluarganya. Dan ternyata Shabir ini sudah berusia sekitar tujuh bulan. Dia ini sudah lama menderita penyakit tersebut,”ungkap Arfian.

Menurutnya, pihak keluarga sempat agak takut saat didatangi oleh Muspika Bangil. Namun usai diberikan pemahaman oleh Camat Bangil Komari, pihak keluarga bersedia mengobati Shabir.

Dengan dibantu kecamatan, Shabir lantas dibawa ke IGD RSUD Bangil untuk ditangani pada Kamis (28/2) pagi. Saat itu kondisi Shabir cukup memprihatinkan.

“Usai diberi pemahaman oleh Muspika, akhirnya pihak keluarga bersedia mengobati Shabir. Shabir diantar dengan mobil ambulans puskesmas dan saat ini sedang dirawat di RSUD Bangil,” jelasnya.

Arfian mengaku tidak tahu pasti kapan Shabir diketahui mengidap Hydrocephalus. Namun jika melihat kondisinya saat dibawa ke RSUD Bangil, bisa dipastikan Shabir sudah menderita penyakit tersebut cukup lama. Namun selama ini, pihak keluarga bahkan tetangga tidak mengetahuinya.

Apalagi menurutnya, orang tua bayi yaitu Yasin dan Rosalina tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan tetangga mereka. Selama ini keduanya tinggal di rumah milik ayah Yasin, Ahmad Jupri. Mereka memang berasal dari keluarga kurang mampu.

Bahkan dalam kartu keluarga (KK), mereka belum tercantum sebagai pasutri. Namun usai membawa Shabir ke IGD RSUD Bangil, pihaknya pun langsung membantu menguruskan perubahan KK keduanya.

“Keduanya tinggal bersama kakeknya Shabir dari pihak ayah. Ternyata saat saya cek kemarin, mereka belum terdaftar di KK. Cuma kami sudah tindak lanjuti. Supaya kalau ada apa-apa, bisa langsung proses,” sebutnya.

Humas RSUD Bangil M. Hayat menerangkan Shabir saat ini masih dirawat di ruang IGD. Pihak RSUD pun sudah melakukan penanganan yang diperlukan.

Kemarin, tubuh Shabir masih diberi selang infus dan alat untuk membantu pernapasan agar bisa segera pulih. Namun, sejauh ini kondisi Shabir memang masih belum normal. Karena itu ada rencana untuk merujuknya.

“Kondisinya memang belum stabil. Makanya, kami berencana untuk merujuk Shabir. Bisa ke Malang atau Surabaya. Cuma keluarganya minta dirujuk ke Malang. Kami masih menunggu rumah sakit mana yang siap,” terang Hayat.

Camat Bangil Komari menyebut penanganan Shabir sepenuhnya ditanggung oleh pemkab. Namun, tentunya tetap mengikuti prosedur yang berlaku.

Pihaknya sendiri langsung mendekati warga dan memberikan pemahaman agar segera melapor saat melihat ada tetangganya yang mengalami hal seperti dialami Shabir. Sehingga, pihak-pihak terkait bisa segera membantu.

“Bukan hanya karena hydrocephalus saja, bisa yang lainnya juga. Terkadang pihak keluarga malu melapor. Apalagi kalau dari keluarga kurang mampu. Nah, di sini diperlukan peran serta masyarakat untuk ikut aktif membantu,” pungkas Komari. (riz/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

Shabir Ahmad Shadiq menderita sakit yang cukup berat di usia yang masih sangat belia. Bayi yang belum genap berusia satu tahun ini diketahui menderita hydrocephalus atau kelebihan cairan yang menekan otak.

 

TIDAK ada satu pun yang mengetahui sakit yang diderita bayi Shabir Ahmad Shadiq selama ini. Bahkan, Ketua RT 02/RW 03 di Kelurahan Gempeng, Kecamatan Bangil, tempat keluarga Shabir tinggal, juga sempat tidak tahu.

Mobile_AP_Half Page

Hingga suatu hari, ada seorang warga yang main ke rumah pasangan suami istri (pasutri) Muhammad Yasin dan Maulidah Rosalina. Saat itulah, warga tersebut melihat kondisi Shabir yang mengalami pembesaran pada bagian kepala.

Karena kondisi itu, tubuh Shabir seperti tidak seimbang. Ukuran kepalanya jauh lebih besar dari tubuhnya. Sementara tubuhnya kecil. Shabir pun nyaris tidak bisa bergerak.

Kondisi bayi Shabir yang memprihatinkan itu, langsung disampaikan ke Lurah Gempeng Arfian Fachrudin. Pihak kelurahan sempat terkejut saat menerima informasi ini. Sebab, selama ini tidak ada yang melapor pada kelurahan.

Informasi ini pun langsung ditindaklanjuti oleh kelurahan dengan melapor ke musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) Bangil. Mereka pun mendatangi rumah keluarga Shabir. Namun, awalnya tidaklah mudah.

“Ada warga yang melapor ke kantor kelurahan sekitar tiga hari lalu. Kami pun langsung mendatangi rumah keluarganya. Dan ternyata Shabir ini sudah berusia sekitar tujuh bulan. Dia ini sudah lama menderita penyakit tersebut,”ungkap Arfian.

Menurutnya, pihak keluarga sempat agak takut saat didatangi oleh Muspika Bangil. Namun usai diberikan pemahaman oleh Camat Bangil Komari, pihak keluarga bersedia mengobati Shabir.

Dengan dibantu kecamatan, Shabir lantas dibawa ke IGD RSUD Bangil untuk ditangani pada Kamis (28/2) pagi. Saat itu kondisi Shabir cukup memprihatinkan.

“Usai diberi pemahaman oleh Muspika, akhirnya pihak keluarga bersedia mengobati Shabir. Shabir diantar dengan mobil ambulans puskesmas dan saat ini sedang dirawat di RSUD Bangil,” jelasnya.

Arfian mengaku tidak tahu pasti kapan Shabir diketahui mengidap Hydrocephalus. Namun jika melihat kondisinya saat dibawa ke RSUD Bangil, bisa dipastikan Shabir sudah menderita penyakit tersebut cukup lama. Namun selama ini, pihak keluarga bahkan tetangga tidak mengetahuinya.

Apalagi menurutnya, orang tua bayi yaitu Yasin dan Rosalina tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan tetangga mereka. Selama ini keduanya tinggal di rumah milik ayah Yasin, Ahmad Jupri. Mereka memang berasal dari keluarga kurang mampu.

Bahkan dalam kartu keluarga (KK), mereka belum tercantum sebagai pasutri. Namun usai membawa Shabir ke IGD RSUD Bangil, pihaknya pun langsung membantu menguruskan perubahan KK keduanya.

“Keduanya tinggal bersama kakeknya Shabir dari pihak ayah. Ternyata saat saya cek kemarin, mereka belum terdaftar di KK. Cuma kami sudah tindak lanjuti. Supaya kalau ada apa-apa, bisa langsung proses,” sebutnya.

Humas RSUD Bangil M. Hayat menerangkan Shabir saat ini masih dirawat di ruang IGD. Pihak RSUD pun sudah melakukan penanganan yang diperlukan.

Kemarin, tubuh Shabir masih diberi selang infus dan alat untuk membantu pernapasan agar bisa segera pulih. Namun, sejauh ini kondisi Shabir memang masih belum normal. Karena itu ada rencana untuk merujuknya.

“Kondisinya memang belum stabil. Makanya, kami berencana untuk merujuk Shabir. Bisa ke Malang atau Surabaya. Cuma keluarganya minta dirujuk ke Malang. Kami masih menunggu rumah sakit mana yang siap,” terang Hayat.

Camat Bangil Komari menyebut penanganan Shabir sepenuhnya ditanggung oleh pemkab. Namun, tentunya tetap mengikuti prosedur yang berlaku.

Pihaknya sendiri langsung mendekati warga dan memberikan pemahaman agar segera melapor saat melihat ada tetangganya yang mengalami hal seperti dialami Shabir. Sehingga, pihak-pihak terkait bisa segera membantu.

“Bukan hanya karena hydrocephalus saja, bisa yang lainnya juga. Terkadang pihak keluarga malu melapor. Apalagi kalau dari keluarga kurang mampu. Nah, di sini diperlukan peran serta masyarakat untuk ikut aktif membantu,” pungkas Komari. (riz/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2