alexametrics
25.5 C
Probolinggo
Friday, 12 August 2022

Cantiknya Kerajinan Ukir Kayu Limbah yang Karyanya Tembus Pasar Mancanegara

Aries Sugeng Dedianto sama sekali tak riskan menekuni seni ukir kayu. Meski ia sendiri sama sekali tak punya bakat mengukir. Kuncinya, terus belajar dan tak bosan berkreasi. Alhasil, pesanan dari mancanegara pun terus menanti.

——————–

Kesibukan masih terlihat di Cencu Art Gallery saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung, Jumat (24/1). Itulah galeri milik Aries Sugeng Dedianto di Kelurahan Bukir, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan.

Saat itu jarum pendek jam dinding yang menempel di sudut tembok tempat produksi itu hampir menunjukkan angka lima sore. Dua karyawan tetap melanjutkan aktivitasnya. Seorang di antaranya berhadapan dengan bongkahan kayu berbentuk persegi panjang. Alat pahat di tangan kiri, palu di tangan kanan. Keduanya seolah menari di atas bonggol pohon jati itu.

Lelaki itu terus memahat. Membentuk bongkahan kayu itu sesuai sketsa. Sore itu ia tengah mengerjakan patung berukuran kecil. Mungkin tingginya tidak lebih dari dua puluh sentimeter. Seorang karyawan lainnya menghaluskan hasil ukiran dengan cara diamplas. Satu-satunya perempuan ada di tempat produksi itu.

Beragam patung, trofi yang telah diukir dan dihaluskan berjajar di samping tempat duduknya. Secara bergantian, barang “mentah” itu diletakkan di atas meja. Tepat di depan mukanya.

Semuanya lantas diwarnai menggunakan airbrush. Dalam sekejap, patung-patung itu menjadi lebih hidup. Perpaduan warna yang pas, hingga menyerupai bentuk aslinya. Perempuan itu tak lain ialah istri Aries Sugeng Dedianto, pemilik Cencu Art Gallery.

Sehari-harinya, ia memang membantu suaminya mengerjakan pesanan. Aries sendiri, biasanya lebih fokus menyiapkan barang-barang pesanan yang sudah saatnya dikirim ke empunya. Ia memastikan satu demi satu produk sebelum sampai ke tangan pemesan.

Segala pesanan itu dikerjakan di sebuah ruang terbuka. Di samping rumah tinggal Aries di Kelurahan Bukir, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan.

PESANAN LUAR: Kerajinan kayu ukir dari limbah ini harganya bisa sampai puluhan juta. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Nama Cencu Art memiliki sejarah tersendiri bagi Aries. “Cencu itu akronim dari Central Cupang. Karena saya dulu hobi ikan cupang, dan jualan cupang juga pakai nama Central Cupang,” kelakarnya.

Ia menekuni seni ukiran kayu sejak 2007. Meski tak punya bakat mengukir kayu sama sekali, Aries yakin dirinya bisa menyelami dunia tersebut. Mula-mula, ia belajar mengukir kayu secara otodidak.

Bahkan, Aries tak sekalipun pernah bekerja di tempat produksi mebeler. Semua dilakukan atas desakan kreativitas. Justru, dulunya ia pernah punya warung. Bekerja serabutan juga pernah dilakoni.

“Motivasi saya memang fokus pada seni ukiran. Karena ukiran yang diproduksi mebel di sini masih biasa, ya standar mebel, tidak ada art-nya,” tutur Aries.

Lantaran itu, ketika terbersit membuka peluang usaha, Aries menepikan keinginan membuat produk mebeler. Seni ukir dianggapnya lebih memiliki banyak tantangan. Kreativitas juga terus dipacu.

Sebelum memahat, ia biasanya menggambar. Sketsa itu yang digunakan untuk membentuk bongkahan kayu menjadi bayangan yang diinginkan. Setelah itu, baru dipahat untuk menimbulkan bentuknya lebih detail.

Dulunya, Aries hanya membuat gantungan sangkar burung. Bahannya dari kayu jati. Bentuknya diukir dengan bermacam-macam motif. Ada motif bunga, dedaunan, hingga binatang.

Semua itu digarapnya seorang diri. Mulai dari membuat sketsa, memahat, mengamplas, hingga finishing. Bahkan, dia pula yang memasarkan. Gantungan sangkar burung itu dijajakan dengan berkeliling ke berbagai kota.

Dia masih ingat betul, ketika itu masih belum punya kendaraan bermotor. Demi dagangannya terjual, Aries menyewa motor. Tarifnya Rp 25 ribu per hari.

“Waktu itu produk saya juga belum sempurna karena masih belajar sambil jalan. Setelah seminggu atau dua minggu produksi, baru dijual-jual. Ada saja yang membeli, kadang kontan, kadang nitip barang dulu,” kenangnya.

Bertambah tahun, Aries semakin lihai dalam seni ukir. Pemasaran yang dilakukan melalui media sosial mulai banyak dilirik orang. Pesanan berjubel. Barang yang diproduksi semakin bervariatif, menyesuaikan permintaan si pemesan.

“Saya posting di medsos waktu itu dari warnet karena paket data masih terbatas. Setelah itu, ngobrol-nya lewat ponsel,” tuturnya.

Kini, ia bisa membuat berbagai bentuk suvenir, trofi, hingga patung. Jika pesanan menumpuk, karyawan yang membantunya bisa sampai lima orang. “Kewalahan memang iya, tapi dari sisi tenaganya,” ungkap lelaki berkumis tebal itu.

Semua barang yang diproduksi Aries berbahan kayu jati. Dirinya ingin ukiran yang dihasilkan benar-benar bagus. Karenanya, dia tak pernah menggunakan kayu yang kualitasnya di bawah jati. “Kalau di bawah jati, bisa-bisa pecah saat diukir,” bebernya.

Hampir semua bahan kayu yang digunakan itu dibelinya dari limbah penggergajian. Terutama untuk ukuran yang relatif kecil. Namun, jika pesanan mengharuskannya perlu kayu berukuran besar, Aries tetap membeli secara khusus.

Misalnya untuk membuat Garuda Wisnu. Patung yang berukuran 1 meter persegi itu dikerjakan secara detail, dalam kurun waktu tiga pekan. Harganya dipatok sekitar Rp 25 juta.

Peminat ukiran kayu itu ternyata juga cukup tinggi. Tidak hanya dari kota-kota besar. Seperti Surabaya, Bali, dan Jogjakarta. Selama ini, Aries juga melayani pemesan dari mancanegara. Seperti negara tetangga, Singapura, Australia, hingga Brunei, Filipina, Inggris, dan Amerika.

“Kalau pesanan dari luar negeri itu kebanyakan berupa patung,” kata lelaki berusia 42 tahun itu.

Namun, Aries mengungkapkan jika benaknya masih menyimpan sesuatu yang mengganjal. Keinginannya atas kepedulian pemerintah daerah terhadap produk kesenian kreatif. Ia ingin kota kelahirannya itu menjadi tempat wisata kreatif.

Ada satu wadah yang menampung pelaku usaha kreatif seperti dirinya. Supaya ada suguhan bagi masyarakat luar kota yang melintasi Kota Pasuruan. Setidaknya, mereka bisa singgah untuk sekadar tahu berbagai karya yang dihasilkan warga Kota Pasuruan.

“Tidak perlu mewah. Cukup kios-kios saja yang bisa menampung karya anak Pasuruan, pegiat seni terutama yang dari limbah kayu,” harapnya. (tom/hn/fun)

Aries Sugeng Dedianto sama sekali tak riskan menekuni seni ukir kayu. Meski ia sendiri sama sekali tak punya bakat mengukir. Kuncinya, terus belajar dan tak bosan berkreasi. Alhasil, pesanan dari mancanegara pun terus menanti.

——————–

Kesibukan masih terlihat di Cencu Art Gallery saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung, Jumat (24/1). Itulah galeri milik Aries Sugeng Dedianto di Kelurahan Bukir, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan.

Saat itu jarum pendek jam dinding yang menempel di sudut tembok tempat produksi itu hampir menunjukkan angka lima sore. Dua karyawan tetap melanjutkan aktivitasnya. Seorang di antaranya berhadapan dengan bongkahan kayu berbentuk persegi panjang. Alat pahat di tangan kiri, palu di tangan kanan. Keduanya seolah menari di atas bonggol pohon jati itu.

Lelaki itu terus memahat. Membentuk bongkahan kayu itu sesuai sketsa. Sore itu ia tengah mengerjakan patung berukuran kecil. Mungkin tingginya tidak lebih dari dua puluh sentimeter. Seorang karyawan lainnya menghaluskan hasil ukiran dengan cara diamplas. Satu-satunya perempuan ada di tempat produksi itu.

Beragam patung, trofi yang telah diukir dan dihaluskan berjajar di samping tempat duduknya. Secara bergantian, barang “mentah” itu diletakkan di atas meja. Tepat di depan mukanya.

Semuanya lantas diwarnai menggunakan airbrush. Dalam sekejap, patung-patung itu menjadi lebih hidup. Perpaduan warna yang pas, hingga menyerupai bentuk aslinya. Perempuan itu tak lain ialah istri Aries Sugeng Dedianto, pemilik Cencu Art Gallery.

Sehari-harinya, ia memang membantu suaminya mengerjakan pesanan. Aries sendiri, biasanya lebih fokus menyiapkan barang-barang pesanan yang sudah saatnya dikirim ke empunya. Ia memastikan satu demi satu produk sebelum sampai ke tangan pemesan.

Segala pesanan itu dikerjakan di sebuah ruang terbuka. Di samping rumah tinggal Aries di Kelurahan Bukir, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan.

PESANAN LUAR: Kerajinan kayu ukir dari limbah ini harganya bisa sampai puluhan juta. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Nama Cencu Art memiliki sejarah tersendiri bagi Aries. “Cencu itu akronim dari Central Cupang. Karena saya dulu hobi ikan cupang, dan jualan cupang juga pakai nama Central Cupang,” kelakarnya.

Ia menekuni seni ukiran kayu sejak 2007. Meski tak punya bakat mengukir kayu sama sekali, Aries yakin dirinya bisa menyelami dunia tersebut. Mula-mula, ia belajar mengukir kayu secara otodidak.

Bahkan, Aries tak sekalipun pernah bekerja di tempat produksi mebeler. Semua dilakukan atas desakan kreativitas. Justru, dulunya ia pernah punya warung. Bekerja serabutan juga pernah dilakoni.

“Motivasi saya memang fokus pada seni ukiran. Karena ukiran yang diproduksi mebel di sini masih biasa, ya standar mebel, tidak ada art-nya,” tutur Aries.

Lantaran itu, ketika terbersit membuka peluang usaha, Aries menepikan keinginan membuat produk mebeler. Seni ukir dianggapnya lebih memiliki banyak tantangan. Kreativitas juga terus dipacu.

Sebelum memahat, ia biasanya menggambar. Sketsa itu yang digunakan untuk membentuk bongkahan kayu menjadi bayangan yang diinginkan. Setelah itu, baru dipahat untuk menimbulkan bentuknya lebih detail.

Dulunya, Aries hanya membuat gantungan sangkar burung. Bahannya dari kayu jati. Bentuknya diukir dengan bermacam-macam motif. Ada motif bunga, dedaunan, hingga binatang.

Semua itu digarapnya seorang diri. Mulai dari membuat sketsa, memahat, mengamplas, hingga finishing. Bahkan, dia pula yang memasarkan. Gantungan sangkar burung itu dijajakan dengan berkeliling ke berbagai kota.

Dia masih ingat betul, ketika itu masih belum punya kendaraan bermotor. Demi dagangannya terjual, Aries menyewa motor. Tarifnya Rp 25 ribu per hari.

“Waktu itu produk saya juga belum sempurna karena masih belajar sambil jalan. Setelah seminggu atau dua minggu produksi, baru dijual-jual. Ada saja yang membeli, kadang kontan, kadang nitip barang dulu,” kenangnya.

Bertambah tahun, Aries semakin lihai dalam seni ukir. Pemasaran yang dilakukan melalui media sosial mulai banyak dilirik orang. Pesanan berjubel. Barang yang diproduksi semakin bervariatif, menyesuaikan permintaan si pemesan.

“Saya posting di medsos waktu itu dari warnet karena paket data masih terbatas. Setelah itu, ngobrol-nya lewat ponsel,” tuturnya.

Kini, ia bisa membuat berbagai bentuk suvenir, trofi, hingga patung. Jika pesanan menumpuk, karyawan yang membantunya bisa sampai lima orang. “Kewalahan memang iya, tapi dari sisi tenaganya,” ungkap lelaki berkumis tebal itu.

Semua barang yang diproduksi Aries berbahan kayu jati. Dirinya ingin ukiran yang dihasilkan benar-benar bagus. Karenanya, dia tak pernah menggunakan kayu yang kualitasnya di bawah jati. “Kalau di bawah jati, bisa-bisa pecah saat diukir,” bebernya.

Hampir semua bahan kayu yang digunakan itu dibelinya dari limbah penggergajian. Terutama untuk ukuran yang relatif kecil. Namun, jika pesanan mengharuskannya perlu kayu berukuran besar, Aries tetap membeli secara khusus.

Misalnya untuk membuat Garuda Wisnu. Patung yang berukuran 1 meter persegi itu dikerjakan secara detail, dalam kurun waktu tiga pekan. Harganya dipatok sekitar Rp 25 juta.

Peminat ukiran kayu itu ternyata juga cukup tinggi. Tidak hanya dari kota-kota besar. Seperti Surabaya, Bali, dan Jogjakarta. Selama ini, Aries juga melayani pemesan dari mancanegara. Seperti negara tetangga, Singapura, Australia, hingga Brunei, Filipina, Inggris, dan Amerika.

“Kalau pesanan dari luar negeri itu kebanyakan berupa patung,” kata lelaki berusia 42 tahun itu.

Namun, Aries mengungkapkan jika benaknya masih menyimpan sesuatu yang mengganjal. Keinginannya atas kepedulian pemerintah daerah terhadap produk kesenian kreatif. Ia ingin kota kelahirannya itu menjadi tempat wisata kreatif.

Ada satu wadah yang menampung pelaku usaha kreatif seperti dirinya. Supaya ada suguhan bagi masyarakat luar kota yang melintasi Kota Pasuruan. Setidaknya, mereka bisa singgah untuk sekadar tahu berbagai karya yang dihasilkan warga Kota Pasuruan.

“Tidak perlu mewah. Cukup kios-kios saja yang bisa menampung karya anak Pasuruan, pegiat seni terutama yang dari limbah kayu,” harapnya. (tom/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/