alexametrics
25.9 C
Probolinggo
Friday, 28 January 2022

Cerita Vaksinator Covid Kab Probolinggo Diancam Celurit

Capaian vaksinasi yang meningkat signifikan di Kabupaten Probolinggo, tak terlepas dari peran tenaga kesehatan (nakes) di desa-desa. Terutama yang melakukan vaksinasi door to door di wilayah terpencil. Sejumlah tantangan mereka hadapi. Mulai jalan terjal yang licin, sampai ancaman menggunakan senjata tajam (sajam) dari pasien.

AGUS FAIZ MUSLEH, Krucil, Radar Bromo

Berada di ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan Laut (Mdpl), rintik hujan di Desa/Kecamatan Krucil, cukup membuat tubuh menggigil kedinginan. Dari kejauhan, sejumlah personel TNI dan nakes bersiap menyisir jalan makadam menuju Dusun Tajungan.

“Sudah siap? Ayo berangkat. Cukup jauh, takut selak hujan. Jalannya dak enak,” kata Alfin Kurniawan, salah satu perawat Puskesmas Krucil yang dalam dua bulan ini melakukan vaksinasi door to door ke rumah warga di Desa Krucil.

Mobil Daihatsu Ambulance F69 keluaran 1997 yang ditumpangi para nakes pun berangkat melintasi jalan makadam. Tiga personel TNI dengan motor hijau tua dan satu perangkat desa setempat, mengiringi mobil ambulans di sisi depan dan belakang.

“Bentar turun, ganti sopir,” kata salah satu personel TNI yang menggunakan motor di tengah-tengah perjalanan. Sembari mengegas motor dengan roda yang dipenuhi lumpur. Roda berputar, namun tak berjalan. Sementara ambulans yang berada di belakangnya harus berhenti menunggu giliran untuk melewati tanjakan berlumpur.

Berhasil mengalahkan tanjakan, perjalanan dilanjutkan. Tak jarang para personel TNI yang berada di depan, menunggu sembari menoleh ke belakang, memastikan mobil ambulans terlihat olehnya.

Sesampainya di lokasi, ambulans beserta para personel TNI pun memarkir kendaraan di pinggir rumah warga. “Sudah sampai, sebentar lagi jalan kaki. Karena jalannya tidak bisa dilewati mobil,” kata Alfin memberi isyarat agar bersiap.

Sejatinya tak sampai 3 kilometer dari lokasi pertama berkumpul, para petugas vaksin menuju RT 2/RW 2 Dusun Tanjung, Krucil. Namun, dengan kondisi jalan yang menanjak dan curam, diikuti jalan yang licin membuat perjalanan lama. Hampir satu jam.

“Sudah biasa seperti ini. Melewati jalan licin dan sulit. Bahkan, di desa lain seperti Sumberduren, Roto, Pelaosan, dan Pandanlaras, ada medan yang lebih sulit, ” Kata Sriwahyundari, bidan koordinator sekaligus vaksinator di Desa Krucil.

Usai meluruskan otot yang tegang lantaran medan jalan yang memicu adrenalin, perjalanan tim vaksinasi dimulai. Sekitar 100 meter ke bawah dari lokasi parkir, tim vaksinasi mendatangi sebuah rumah. Terdengar bunyi grusak-grusuk dari dalam rumah, lalu bunyi pintu belakang rumah tertutup.

“Assalamualaikum. Wah, kabur ditinggal pergi pemilik rumah,” terang Sriwahyundari tersenyum.

Menurut Sri, warga kabur saat petugas datang sudah biasa terjadi. Meski begitu, hal tersebut tidak lantas membuatnya kecewa. Hal itu tidak seberapa.

“Sudah biasa seperti ini. Di Dusun Barat malah lebih parah. Kami jalan kaki di tengah hujan deras menggunakan jas hujan. Melewati jembatan bambu yang bisa saja sewaktu-waktu diterjang banjir. Saat itu yang didatangi hanya dua rumah. Jaraknya setengah kilometer. Sesampainya di sana, ternyata pemilik rumah tidak mau divaksin,” ujarnya.

Capaian vaksinasi yang meningkat signifikan di Kabupaten Probolinggo, tak terlepas dari peran tenaga kesehatan (nakes) di desa-desa. Terutama yang melakukan vaksinasi door to door di wilayah terpencil. Sejumlah tantangan mereka hadapi. Mulai jalan terjal yang licin, sampai ancaman menggunakan senjata tajam (sajam) dari pasien.

AGUS FAIZ MUSLEH, Krucil, Radar Bromo

Berada di ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan Laut (Mdpl), rintik hujan di Desa/Kecamatan Krucil, cukup membuat tubuh menggigil kedinginan. Dari kejauhan, sejumlah personel TNI dan nakes bersiap menyisir jalan makadam menuju Dusun Tajungan.

“Sudah siap? Ayo berangkat. Cukup jauh, takut selak hujan. Jalannya dak enak,” kata Alfin Kurniawan, salah satu perawat Puskesmas Krucil yang dalam dua bulan ini melakukan vaksinasi door to door ke rumah warga di Desa Krucil.

Mobil Daihatsu Ambulance F69 keluaran 1997 yang ditumpangi para nakes pun berangkat melintasi jalan makadam. Tiga personel TNI dengan motor hijau tua dan satu perangkat desa setempat, mengiringi mobil ambulans di sisi depan dan belakang.

“Bentar turun, ganti sopir,” kata salah satu personel TNI yang menggunakan motor di tengah-tengah perjalanan. Sembari mengegas motor dengan roda yang dipenuhi lumpur. Roda berputar, namun tak berjalan. Sementara ambulans yang berada di belakangnya harus berhenti menunggu giliran untuk melewati tanjakan berlumpur.

Berhasil mengalahkan tanjakan, perjalanan dilanjutkan. Tak jarang para personel TNI yang berada di depan, menunggu sembari menoleh ke belakang, memastikan mobil ambulans terlihat olehnya.

Sesampainya di lokasi, ambulans beserta para personel TNI pun memarkir kendaraan di pinggir rumah warga. “Sudah sampai, sebentar lagi jalan kaki. Karena jalannya tidak bisa dilewati mobil,” kata Alfin memberi isyarat agar bersiap.

Sejatinya tak sampai 3 kilometer dari lokasi pertama berkumpul, para petugas vaksin menuju RT 2/RW 2 Dusun Tanjung, Krucil. Namun, dengan kondisi jalan yang menanjak dan curam, diikuti jalan yang licin membuat perjalanan lama. Hampir satu jam.

“Sudah biasa seperti ini. Melewati jalan licin dan sulit. Bahkan, di desa lain seperti Sumberduren, Roto, Pelaosan, dan Pandanlaras, ada medan yang lebih sulit, ” Kata Sriwahyundari, bidan koordinator sekaligus vaksinator di Desa Krucil.

Usai meluruskan otot yang tegang lantaran medan jalan yang memicu adrenalin, perjalanan tim vaksinasi dimulai. Sekitar 100 meter ke bawah dari lokasi parkir, tim vaksinasi mendatangi sebuah rumah. Terdengar bunyi grusak-grusuk dari dalam rumah, lalu bunyi pintu belakang rumah tertutup.

“Assalamualaikum. Wah, kabur ditinggal pergi pemilik rumah,” terang Sriwahyundari tersenyum.

Menurut Sri, warga kabur saat petugas datang sudah biasa terjadi. Meski begitu, hal tersebut tidak lantas membuatnya kecewa. Hal itu tidak seberapa.

“Sudah biasa seperti ini. Di Dusun Barat malah lebih parah. Kami jalan kaki di tengah hujan deras menggunakan jas hujan. Melewati jembatan bambu yang bisa saja sewaktu-waktu diterjang banjir. Saat itu yang didatangi hanya dua rumah. Jaraknya setengah kilometer. Sesampainya di sana, ternyata pemilik rumah tidak mau divaksin,” ujarnya.

MOST READ

BERITA TERBARU