alexametrics
29C
Probolinggo
Friday, 22 January 2021

Kembang Kempis Kerajinan Perak di Gajahbendo, Kecamatan Beji

Kerajinan perak sempat menjadi primadona di Desa Gajahbendo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Bahkan, puluhan warga setempat menggantungkan hidupnya dari industri perak. Namun, kondisinya saat ini berubah. Cenderung lesu. Walaupun masih ada yang bertahan.

IWAN ANDRIK,Beji, Radar Bromo

Kedua ibu jari Sujoko menjepit erat ring cincin itu. Ia kemudian mengarahkan cincin yang belum jadi itu ke alat poles kain yang digerakkan dengan mesin. Sesekali ia mengecek dengan seksama.

Baru mengarahkannya kembali, kalau merasa kurang. Tidak hanya sekali. Melainkan berulang kali. Hingga ia memastikan, polesan cincin perak itu benar-benar rapi.

Sujoko merupakan salah satu perajin perak di Desa Gajahbendo, Kecamatan Beji. Sudah puluhan tahun ia menekuni kerajinan perak tersebut. Tepatnya, ketika masih berusia 13 tahun.

“Dulu saya belajar dari juragan perak di sini (Gajahbendo, red). Pelan-pelan sampai cukup memiliki keterampilan,” ungkap lelaki 40 tahun tersebut.

Menurut Sujoko, kerajinan perak sempat menjadi primadona di kampungnya. Kala itu, ada lebih dari 20 perajin perak. Rata-rata mereka mengirim hasil kerajinan ke Bali. Baru kemudian diekspor keluar negeri. Bahkan hingga Australia, Eropa dan Amerika.

“Tahun 1990-an, kerajinan perak memang menjadi primadona. Bahkan, anak kecil seperti saya tertarik untuk belajar,” kenangnya.

Selama lima tahun ia belajar di juragan perak yang ada di kampungnya. Hingga kemudian, ia memutuskan hijrah ke Bali. Karena ia merasa, Bali lokasi yang strategis untuk pengembangan diri dan ekonomi.

Semuanya berjalan lancar. Pundi-pundi rupiah bisa dihasilkan. Hingga tahun 2002, bom Bali I mengguncang perekonomian. Industri perak pun terdampak. Kondisi itu diperparah dengan bom Bali II pada 2005.

Meletusnya Bom Bali II, benar-benar membuatnya kesulitan. Karena pekerjaan sebagai perajin perak sepi, ia memilih pulang. “Sekitar tahun 2010, saya pulang dan mencoba peruntungan dengan membuka usaha perak sendiri di rumah,” sampainya.

Namun, kondisi kerajinan perak di kampung halamannya pun ikut terdampak. Karena, pasar perak juga meredup. Semula yang mencapai puluhan perajin, lambat laun menyusut. Tak sampai 10 orang yang bertahan.

Modal kemampuan dan finansial dari Bali, lantas digunakannya untuk membuka usaha sendiri. Tidak lagi melirik pasar ekspor. Tetapi, pasar lokal seperti Surabaya dan Madura.

Sedikit-sedikit, tapi masih ada garapan. Sampai pada 2014, pasar cincin merebak. Batu akik pun naik daun, membuat kerajinan perak ikut terdongkrak. Di situ, ia mulai merasakan “nikmatnya” sebagai perajin perak.

Sepekan, ia bisa mendapatkan order hingga 200 biji ring atau cincin. Order yang menanjak itu membuatnya kewalahan. Akhirnya, ia merekrut karyawan.

Ada delapan karyawan yang dipekerjakannya. Sejak itu, pundi-pundi rupiah dengan mudah didapatkannya. Dari situ pula, ia mampu membeli tanah serta mobil untuk keluarga.

Hingga 2016, pasar akik melesu. Dampaknya dirasakan pula oleh perajin perak. Pesanan cincin peraknya ikut menurun. Sepekan, paling banyak hanya bisa mendapat order 100 biji. Itupun kalau ada barang. Ia pun tak lagi mempekerjakan karyawan. Hanya dirinya yang menyelesaikan.

“Banyak warga yang akhirnya memilih pekerjaan lain. Ada yang bekerja pabrik, berdagang dan yang lain. Jumlah perajin perak pun menurun,” timpalnya.

Hal senada disampaikan Slamet Wahyudi, perajin perak lain di Gajahbendo. Ia menguraikan, desanya dulu memang dikenal sebagai kampung perajin perak. Karena, tidak sedikit warganya yang bekerja sebagai perajin perak.

Namun, kondisi itu kini berubah. Banyak warga yang akhirnya beralih ke pekerjaan lainnya. Bahkan, jika pun bertahan, tidak sedikit yang akhirnya mengganti bahan baku. Tidak lagi perak. Tetapi alpaka.

“Itupun hanya mengambil upah untuk moles. Tidak lagi usaha sendiri seperti sebelumnya,” ungkapnya.

Saat pandemi korona menyerang, industri perak pun makin lesu. Sebelum wabah korona melanda, ia masih menerima order perak antara 50 hingga 70 biji sebulan. Namun, kini hampir tidak ada order perak sama sekali. Melainkan alpaka.

“Kerajinan perak saat ini memang cenderung langka. Padahal, dulu sempat menjadi primadona,” aku lelaki yang menggeluti industri perak sejak kelas 5 SD ini. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU