Begini Cara Pelaku Wisata Kuda Tunggang di Tretes yang Bertahan di Tengah Pandemi

Wisata Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, tidak hanya dikenal dengan sate kelinci, wedang ronde, dan capcainya. Kuda tunggang juga menjadi ikon wisata di sana. Bahkan, selama pandemi korona jasa kuda tunggang tetap beroperasi.

—————

Pandemi korona membuat semua destinasi wisata harus tutup sementara. Tidak terkecuali semua destinasi wisata di kawasan Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Jikalau pun ada yang tetap beraktivitas, pendapatannya dipastikan turun drastis. Seperti yang dialami para pemilik jasa wisata kuda tunggang di Tretes. Salah satu ikon wisata Tretes ini, memilih bertahan selama pandemi korona.

Tiap hari, pemilik kuda tunggang beroperasi di depan Pasar Indah dan Jalan Arjuno. Selama masa pandemi, mereka pun tetap menawarkan jasa wisata itu.

Walaupun tentu saja, pengguna jasa mereka jauh berkurang. Praktis sejak pertengahan Maret, pendapatan para pemilik kuda tunggang ini jauh menurun.

Mengingat, selama pandemi korona pengunjung atau wisatawan yang datang ke Tretes jauh berkurang. Karena itu, pengguna jasa mereka juga berkurang.

“Kuda tunggang tetap beroperasi, baik sebelum pandemi atau selama pandemi seperti saat ini. Yang beda pendapatan saja. Sebelum korona selalu ramai. Tapi saat ini minim,” ujar Suwarno, 56, pemilik kuda tunggang asal Pecalukan, Prigen.

Saat ini memang ‘puasa’ pengunjung ini berangsur berakhir. Dua pekan terakhir, pengunjung Tretes mulai ramai. Utamanya saat weekend atau Sabtu dan Minggu.

IKUT TERDAMPAK: Selama pandemi, pendapatan mereka turun drastis. (Foto: Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Menurut Suwarno, sejumlah tempat wisata memang mulai buka saat ini. Dan selama dua minggu terakhir, ada puluhan kuda tunggang yang beroperasi. Bahkan, mereka beroperasi dari pagi sampai petang.

Para penyewanya kebanyakan anak-anak dan orang tua mereka. Biasanya, mereka keliling dipandu pemilik kuda.

“Sejak awal Juni ini, Alhamdulillah mulai ramai lagi. Karena wisatawan dari luar daerah banyak yang ke Tretes. Beberapa di antaranya juga menyempatkan naik kuda tunggang. Seperti dari Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo,” tuturnya.

Tarif yang ditetapkan tiap orang sama, yaitu kisaran Rp 30 ribu-Rp 50 ribu. Tergantung jarak tempuh.

Jika disewa keliling Tretes hingga beberapa jam, tarifnya bisa lebih mahal. Sampai Rp 150 ribu –Rp 200 ribu untuk satu kuda tunggang.

“Tarif tetap dan tidak berubah. Pembedanya hanya jarak tempuh. Harganya sangat terjangkau dan menyenangkan,” ucap Wahyu, 20, pemilik kuda tunggang lainnya asal Sukoreno, Prigen.

Kuda tunggang di Tretes ini memiliki kisah tersendiri. Kuda tunggang ini ada sejak masa penjajahan Belanda dan terus bertahan hingga kini. Bedanya, saat ini kuda tunggang dijadikan jasa wisata.

Jenis kuda yang dimiliki sama. Semuanya jenis sadel peranakan Sumbawa. Dengan usia kisaran 2-12 tahun.

Meski demikian, saat ini jumlahnya jauh berkurang. Hanya sekitar 25 ekor. Sementara dulu, jumlahnya jauh lebih banyak. Saking banyaknya, tiap bulan Agustus digelar pacuan kuda untuk kuda tunggang. Lokasinya di lapangan pacuan kuda Ledug, Kecamatan Prigen.

Kini, pemilik kuda tunggang berasal dari Kelurahan Ledug, Prigen dan Pecalukan. Adapula dari Desa Sukolilo, Sukoreno, Sekarjoho, dan Dayurejo.

“Dulu jasa wisata kuda tunggang ini pekerjaan utama bagi para pemilik kuda. Kini hanya mata pencaharian sambilan. Kalau sepi, mereka pilih ke sawah atau kerja bangunan,” tukasnya.

Salah seorang wisatawan asal Surabaya, Widayati, 28, menjadi langganan kuda tunggang ini. Tiap kali ke Tretes bersama keluarganya, dia selau menyempatkan naik kuda tunggang bersama putri semata wayangnya.

“Sambil menikmati hawa dingin, pas sekali keliling naik kuda tunggang. Tarifnya terjangkau, sekaligus jalan-jalan santai dengan naik kuda,” ujarnya. (zal/fun)