alexametrics
24 C
Probolinggo
Tuesday, 28 June 2022

Dari Besi Kuno, Mulyonono Geluti Kerajinan Benda Pusaka Baru

Tak banyak orang yang menekuni kerajinan pusaka. Namun, Iwan Mulyono alias Mbah Kuno melakukannya. Warga Desa/Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, ini membuat kerajinan benda-benda pusaka sejak 2010. Kreasinya pun disukai hingga Malaysia.

 JENIS pusaka itu beragam. Bukan pusaka kuno, tapi pusaka baru. Ada Keris Semar, Kembang Gading, Tumbak Sodo Lanang, dan beberapa yang lain. Semuanya memang belum selesai sempurna. Belum tampak pamor pada benda-benda pusaka itu.

Pembuatan kerajinan pusaka itu butuh beberapa tahapan. Setelah bahan dasarnya dipipihkan, bakalan pusaka itu digerinda untuk membentuknya sesuai kebutuhan.

“Waktunya tak lama. Sehari saya bisa membuat lima benda. Bahkan lebih,” kata Iwan Mulyono menunjukkan benda-benda bakalan pusaka kerajinannya.

Iwan Mulyono atau akrab disapa Mbah Kuno, memang merupakan seorang perajin benda pusaka baru. Kerajinan itu digelutinya sejak 2010.

Awalnya, dia menggandrungi benda-benda pusaka atau benda-benda kuno. Mulai keris, tombak, semar, dan sejumlah benda pusaka yang sering dikeramatkan.

“Sejak remaja saya memang suka dengan benda-benda pusaka kuno,” kenang lelaki 64 tahun tersebut.

Lalu pada 2010, ia berkunjung ke rumah seorang rekannya di Kraton, Kabupaten Pasuruan. Di sana, ia melihat temannya itu membuat tombak. Dari itu, ia kepincut bisa membuat benda serupa.

Ia pun belajar otodidak. Ia cari-cari besi kuno untuk dijadikan tombak. Besi itu dipipihkan. Selanjutnya, digerinda untuk dijadikan tombak.

Awalnya, tak mudah. Ia berulangkali gagal. Karena tombak yang dibuatnya tak presisi.

“Agak miring antara sisi satu dengan yang lain, tidak simetris. Saya ulang beberapa kali sampai jadi,” ungkap dia.

Begitu jadi, ia begitu senang. Apalagi barangnya tersebut langsung ditawar orang. Waktu itu laku Rp 150 ribu.

Mbah Kuno pun semakin termotivasi untuk membuat benda-benda pusaka baru. Tidak melulu tombak. Tapi, juga jenis lain. Ada keris, semar, hingga aneka pusaka lainnya.

Dalam seminggu, ia mampu memproduksi 50 benda-benda pusaka baru. Harganya beragam. Mulai Rp 25 ribu sampai Rp 250 ribu. Tergantung ukuran dan jenis benda pusaka itu.

Lelaki yang tinggal di Beji ini menambahkan, pelanggannya tidak hanya warga lokal Pasuruan. Ia juga pernah menjual pusaka baru buatannya hingga luar kota. Seperti Jakarta dan Kalimantan. Bahkan, ia juga pernah menerima pesanan dari Malaysia melalui temannya.

Meski tampak sukses, membuat benda pusaka baru tak semudah kelihatannya. Salah satu kesulitannya, tidak mudah mendapat besi sebagai bahan baku.

Sebab, besi yang digunakan tidak sembarangan. Ia memilih besi pilihan. Salah satunya besi zaman Belanda. Karena terbukti kekuatannya. “Yang susah itu mencari bahan bakunya,” akunya.

SUDAH LAMA: Untuk membuat pusaka, dia memerlukan bahan baku, dan yang paling bagus adalah besi zaman belanda. (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Mbah Kuno harus mencari bahan baku tersebut tidak hanya di Pasuruan. Ia juga harus mencari ke tempat-tempat lain. Seperti ke Sidoarjo hingga Mojokerto.

Pernah ia sampai tidak menemukan bahan baku. Padahal, banyak pesanan yang datang. Dengan penuh perjuangan, ia terus mencari.

“Pernah saya sampai seminggu tidak menemukan bahan baku. Padahal, sudah banyak orang yang menunggu untuk dibuatkan barang,” kenang dia. (one/fun)

Tak banyak orang yang menekuni kerajinan pusaka. Namun, Iwan Mulyono alias Mbah Kuno melakukannya. Warga Desa/Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, ini membuat kerajinan benda-benda pusaka sejak 2010. Kreasinya pun disukai hingga Malaysia.

 JENIS pusaka itu beragam. Bukan pusaka kuno, tapi pusaka baru. Ada Keris Semar, Kembang Gading, Tumbak Sodo Lanang, dan beberapa yang lain. Semuanya memang belum selesai sempurna. Belum tampak pamor pada benda-benda pusaka itu.

Pembuatan kerajinan pusaka itu butuh beberapa tahapan. Setelah bahan dasarnya dipipihkan, bakalan pusaka itu digerinda untuk membentuknya sesuai kebutuhan.

“Waktunya tak lama. Sehari saya bisa membuat lima benda. Bahkan lebih,” kata Iwan Mulyono menunjukkan benda-benda bakalan pusaka kerajinannya.

Iwan Mulyono atau akrab disapa Mbah Kuno, memang merupakan seorang perajin benda pusaka baru. Kerajinan itu digelutinya sejak 2010.

Awalnya, dia menggandrungi benda-benda pusaka atau benda-benda kuno. Mulai keris, tombak, semar, dan sejumlah benda pusaka yang sering dikeramatkan.

“Sejak remaja saya memang suka dengan benda-benda pusaka kuno,” kenang lelaki 64 tahun tersebut.

Lalu pada 2010, ia berkunjung ke rumah seorang rekannya di Kraton, Kabupaten Pasuruan. Di sana, ia melihat temannya itu membuat tombak. Dari itu, ia kepincut bisa membuat benda serupa.

Ia pun belajar otodidak. Ia cari-cari besi kuno untuk dijadikan tombak. Besi itu dipipihkan. Selanjutnya, digerinda untuk dijadikan tombak.

Awalnya, tak mudah. Ia berulangkali gagal. Karena tombak yang dibuatnya tak presisi.

“Agak miring antara sisi satu dengan yang lain, tidak simetris. Saya ulang beberapa kali sampai jadi,” ungkap dia.

Begitu jadi, ia begitu senang. Apalagi barangnya tersebut langsung ditawar orang. Waktu itu laku Rp 150 ribu.

Mbah Kuno pun semakin termotivasi untuk membuat benda-benda pusaka baru. Tidak melulu tombak. Tapi, juga jenis lain. Ada keris, semar, hingga aneka pusaka lainnya.

Dalam seminggu, ia mampu memproduksi 50 benda-benda pusaka baru. Harganya beragam. Mulai Rp 25 ribu sampai Rp 250 ribu. Tergantung ukuran dan jenis benda pusaka itu.

Lelaki yang tinggal di Beji ini menambahkan, pelanggannya tidak hanya warga lokal Pasuruan. Ia juga pernah menjual pusaka baru buatannya hingga luar kota. Seperti Jakarta dan Kalimantan. Bahkan, ia juga pernah menerima pesanan dari Malaysia melalui temannya.

Meski tampak sukses, membuat benda pusaka baru tak semudah kelihatannya. Salah satu kesulitannya, tidak mudah mendapat besi sebagai bahan baku.

Sebab, besi yang digunakan tidak sembarangan. Ia memilih besi pilihan. Salah satunya besi zaman Belanda. Karena terbukti kekuatannya. “Yang susah itu mencari bahan bakunya,” akunya.

SUDAH LAMA: Untuk membuat pusaka, dia memerlukan bahan baku, dan yang paling bagus adalah besi zaman belanda. (Foto : Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Mbah Kuno harus mencari bahan baku tersebut tidak hanya di Pasuruan. Ia juga harus mencari ke tempat-tempat lain. Seperti ke Sidoarjo hingga Mojokerto.

Pernah ia sampai tidak menemukan bahan baku. Padahal, banyak pesanan yang datang. Dengan penuh perjuangan, ia terus mencari.

“Pernah saya sampai seminggu tidak menemukan bahan baku. Padahal, sudah banyak orang yang menunggu untuk dibuatkan barang,” kenang dia. (one/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/