alexametrics
27.7 C
Probolinggo
Thursday, 30 June 2022

Mahasiswa Probolinggo yang Ada di Tiongkok Dilarang Keluar Asrama, Tiap Hari 2-3 Kali Periksa Suhu Tubuh

Tidak sedikit mahasiswa asal Probolinggo yang tinggal di Tiongkok. Akibat adanya virus korona, membuat kondisi mencekam. Para mahasiswa asal Probolinggo itu pun tidak bisa pulang karena semua akses transportasi sudah dinonaktifkan.

——————–

Rahmat Hidayatullah, adalah salah satu mahasiswa asal Kabupaten Probolinggo yang tengah berada di Tiongkok. Mahasiswa kedokteran asal Desa Sumberkatimoho, Kecamatan Krejengan, itu tengah kuliah di Hubei Polytechnic University Kota Huangshi Tiongkok.

Kemarin, Jawa Pos Radar Bromo sempat menghubungi langsung Rahmat via video call WhatsApp. Terlihat jelas, kondisi Rahmat saat itu sehat dan baik-baik saja. Sekitar pukul 13.00 (14.00 waktu di Tiongkok), Rahmat tengah berada di asrama kampus Hubei Polytechnic University.

Di dalam asrama itu, Rahmat tengah berkumpul dengan mahasiswa lainnya yang sebagian asal Kabupaten Probolinggo. Mereka pun terlihat sehat dan baik-baik saja. Bahkan, mereka sempat menyapa dan melambaikan tangan.

”Iya kami semua ada di asrama (kampus), Mas. Karena memang tidak boleh keluar dari areal kampus,” kata Rahmat, alumni SMA Nurul Jadid Paiton.

Rahmad menceritakan, dirinya saat ini tinggal di Hubei Polytechnic University Kota Huangshi, Tiongkok. Lokasi itu berjarak sekitar 97 km dari Kota Wuhan yang disebut sumber virus korona. Setidaknya, ada sekitar 10 mahasiswa alumni SMA Nurul Jadid Paiton dan 4 mahasiswa di antaranya asal Kabupaten Probolinggo yang tinggal satu kampus.

”Alhamdulillah, kondisi kami di sini semua sehat dan baik-baik saja,” ungkapnya.

Kondisi di Tiongkok, dikatakan Rahmat, memang menjadi perhatian dunia karena munculnya virus korona. Namun, dirinya bersama teman-teman mahasiswa lainnya dalam kondisi sehat. Hanya saja, aktivitas semuanya terhenti. ”Sekarang memang waktunya liburan semester. Tapi, karena kondisi kasus virus korona, pemerintah Tiongkok memperpanjang masa libur semester hingga Maret,” katanya.

Rahmat menceritakan, kondisi di Kota Huangshi hampir sama dengan di kota-kota lainnya. Dimana, semua akses transportasi sudah dinonaktifkan. Baik itu di bandara, kereta, ataupun bus. ”Ada transportasi taksi yang masih aktif, itu pun sedikit. Karena semua transportasi telah dinonaktifkan,” ungkapnya.

Sepekan ini, pihak kampus telah mengeluarkan kebijakan, melarang semua mahasiswa untuk keluar dari kampus. Beruntungnya, tanggal 24 Januari kemarin, dirinya bersama teman-teman sudah belanja stok makanan. Namun, stok itu tidak bisa bertahan lama. Bahkan, ternyata stok makanan itu saat ini sudah habis.

IMBAUAN KERAS: Petugas satpam kampus Hubei Polytechnic University menunjukkan imbauan dilarang keluar kampus. (Foto: Istimewa)

 

”Di areal asrama, ada satu kantin kampus yang menjual makanan. Tetapi, kondisinya hanya satu kantin dan mahasiswanya banyak. jika memang di kantin tidak dapat makanan, terpaksa harus mencari di luar,” ujarnya.

Rahmat mengaku, pihak kampus tetap memperhatikan kondisi dirinya dan teman-teman lainnya. Selain adanya kantin kampus menjual makanan. Pihak kampus juga melakukan pemeriksaan suhu tubuh sehari 2-3 kali. Sehingga, saat kondisi suhu tubuh panas lebih dari 37 derajat Celsius, bisa langsung ditangani.

”Dua sampai tiga kali dalam sehari semalam, kami diperiksa suhu tubuhnya. Alhamdulillah, semua kondisinya normal dan baik-baik saja. Karena kondisi di sini memang dingin,” ujarnya.

Kondisi sama juga diceritakan Febry Halim Cahyadi. Ia mengaku, kondisi baik dan semua aman, meski situasi agak mengkhawatirkan. Perkumpulan mahasiswa asal Indonesia sudah ada koordinasi dengan KBRI. Namun, untuk dirinya dan teman-teman lain hanya bisa stay di asrama karena semua transportasi sekarang dinonatifkan.

”Jadi, kami nggak keluar dari asrama. Setiap harinya hanya bisa tinggal di kamar. Kami kesulitan untuk keluar, soalnya ada satpam yang jaga untuk tidak keluaran guna menimalisasi penyerangan virus korona,” ungkapnya.

Febry memohon doa kepada masyarakat Probolinggo untuk dirinya dan teman-teman lain. Supaya mereka di sana bisa lagi beraktivitas seperti biasa dalam menempuh pendidikan.

Hal lain dirasakan Muhammad Arif Saifullah, satu-satunya mahasiswa asal Kabupaten Probolinggo yang masih tinggal di di Kota Wuhan, Tiongkok. Arif kuliah di kampus Central China Normal University (CCNU) tahun ini.

Menurut dia, mahasiswa asal Indonesia ada sekitar 94 orang yang ada di Wuhan. Untuk mahasiswa asal Probolinggo, hanya dirinya dan dia belum pulang.

”Aslinya mahasiswa alumni Nurul Jadid yang tinggal di Wuhan ada 3 orang. Cuma, dua teman lainnya sudah pulang duluan, saat awal liburan semester. Kalau asal Probolinggo yang di Wuhan, hanya saya saja,” kata Arif, mahasiswa asal Desa/Kecamatan Tiris.

Arif mengaku, selama ini dirinya dan mahasiswa asal Indonesia, tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Tetapi, akan lebih baik menetap di asrama karena di luar pun aktitivas sudah sepi. Transportasi semuanya dinonaktifkan. Itu sebagai antisipasi penyebaran virus korona.

”Saya pribadi melihat virus korona banyak meninggal bukan saat kondisi sehat. Tapi, meninggal karena imun rendah atau punya penyakit bawaan. Bukan ketika sehat, imun baik, kena virus, dan meninggal,” ungkapnya.

Meski demikian, diakui Arif, tetap ada kekhawatiran dan takut jika virus itu makin menyebar. Untungnya, teman-teman asal Indonesia saling men-support. Oleh karena itu, jika ada kesempatan dirinya pulang, ingin bisa pulang.

Hanya saja, saat ini semua transportasi dinonaktifkan. ”Semoga saja dari Pemerintah Indonesia, melalui KBRI bisa mengondisikan dan berkomunikasi dengan Pemerintah Tiongkok untuk bisa dipulangkan ke Indonesia untuk sementara,” ungkapnya. (fun)

Tidak sedikit mahasiswa asal Probolinggo yang tinggal di Tiongkok. Akibat adanya virus korona, membuat kondisi mencekam. Para mahasiswa asal Probolinggo itu pun tidak bisa pulang karena semua akses transportasi sudah dinonaktifkan.

——————–

Rahmat Hidayatullah, adalah salah satu mahasiswa asal Kabupaten Probolinggo yang tengah berada di Tiongkok. Mahasiswa kedokteran asal Desa Sumberkatimoho, Kecamatan Krejengan, itu tengah kuliah di Hubei Polytechnic University Kota Huangshi Tiongkok.

Kemarin, Jawa Pos Radar Bromo sempat menghubungi langsung Rahmat via video call WhatsApp. Terlihat jelas, kondisi Rahmat saat itu sehat dan baik-baik saja. Sekitar pukul 13.00 (14.00 waktu di Tiongkok), Rahmat tengah berada di asrama kampus Hubei Polytechnic University.

Di dalam asrama itu, Rahmat tengah berkumpul dengan mahasiswa lainnya yang sebagian asal Kabupaten Probolinggo. Mereka pun terlihat sehat dan baik-baik saja. Bahkan, mereka sempat menyapa dan melambaikan tangan.

”Iya kami semua ada di asrama (kampus), Mas. Karena memang tidak boleh keluar dari areal kampus,” kata Rahmat, alumni SMA Nurul Jadid Paiton.

Rahmad menceritakan, dirinya saat ini tinggal di Hubei Polytechnic University Kota Huangshi, Tiongkok. Lokasi itu berjarak sekitar 97 km dari Kota Wuhan yang disebut sumber virus korona. Setidaknya, ada sekitar 10 mahasiswa alumni SMA Nurul Jadid Paiton dan 4 mahasiswa di antaranya asal Kabupaten Probolinggo yang tinggal satu kampus.

”Alhamdulillah, kondisi kami di sini semua sehat dan baik-baik saja,” ungkapnya.

Kondisi di Tiongkok, dikatakan Rahmat, memang menjadi perhatian dunia karena munculnya virus korona. Namun, dirinya bersama teman-teman mahasiswa lainnya dalam kondisi sehat. Hanya saja, aktivitas semuanya terhenti. ”Sekarang memang waktunya liburan semester. Tapi, karena kondisi kasus virus korona, pemerintah Tiongkok memperpanjang masa libur semester hingga Maret,” katanya.

Rahmat menceritakan, kondisi di Kota Huangshi hampir sama dengan di kota-kota lainnya. Dimana, semua akses transportasi sudah dinonaktifkan. Baik itu di bandara, kereta, ataupun bus. ”Ada transportasi taksi yang masih aktif, itu pun sedikit. Karena semua transportasi telah dinonaktifkan,” ungkapnya.

Sepekan ini, pihak kampus telah mengeluarkan kebijakan, melarang semua mahasiswa untuk keluar dari kampus. Beruntungnya, tanggal 24 Januari kemarin, dirinya bersama teman-teman sudah belanja stok makanan. Namun, stok itu tidak bisa bertahan lama. Bahkan, ternyata stok makanan itu saat ini sudah habis.

IMBAUAN KERAS: Petugas satpam kampus Hubei Polytechnic University menunjukkan imbauan dilarang keluar kampus. (Foto: Istimewa)

 

”Di areal asrama, ada satu kantin kampus yang menjual makanan. Tetapi, kondisinya hanya satu kantin dan mahasiswanya banyak. jika memang di kantin tidak dapat makanan, terpaksa harus mencari di luar,” ujarnya.

Rahmat mengaku, pihak kampus tetap memperhatikan kondisi dirinya dan teman-teman lainnya. Selain adanya kantin kampus menjual makanan. Pihak kampus juga melakukan pemeriksaan suhu tubuh sehari 2-3 kali. Sehingga, saat kondisi suhu tubuh panas lebih dari 37 derajat Celsius, bisa langsung ditangani.

”Dua sampai tiga kali dalam sehari semalam, kami diperiksa suhu tubuhnya. Alhamdulillah, semua kondisinya normal dan baik-baik saja. Karena kondisi di sini memang dingin,” ujarnya.

Kondisi sama juga diceritakan Febry Halim Cahyadi. Ia mengaku, kondisi baik dan semua aman, meski situasi agak mengkhawatirkan. Perkumpulan mahasiswa asal Indonesia sudah ada koordinasi dengan KBRI. Namun, untuk dirinya dan teman-teman lain hanya bisa stay di asrama karena semua transportasi sekarang dinonatifkan.

”Jadi, kami nggak keluar dari asrama. Setiap harinya hanya bisa tinggal di kamar. Kami kesulitan untuk keluar, soalnya ada satpam yang jaga untuk tidak keluaran guna menimalisasi penyerangan virus korona,” ungkapnya.

Febry memohon doa kepada masyarakat Probolinggo untuk dirinya dan teman-teman lain. Supaya mereka di sana bisa lagi beraktivitas seperti biasa dalam menempuh pendidikan.

Hal lain dirasakan Muhammad Arif Saifullah, satu-satunya mahasiswa asal Kabupaten Probolinggo yang masih tinggal di di Kota Wuhan, Tiongkok. Arif kuliah di kampus Central China Normal University (CCNU) tahun ini.

Menurut dia, mahasiswa asal Indonesia ada sekitar 94 orang yang ada di Wuhan. Untuk mahasiswa asal Probolinggo, hanya dirinya dan dia belum pulang.

”Aslinya mahasiswa alumni Nurul Jadid yang tinggal di Wuhan ada 3 orang. Cuma, dua teman lainnya sudah pulang duluan, saat awal liburan semester. Kalau asal Probolinggo yang di Wuhan, hanya saya saja,” kata Arif, mahasiswa asal Desa/Kecamatan Tiris.

Arif mengaku, selama ini dirinya dan mahasiswa asal Indonesia, tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Tetapi, akan lebih baik menetap di asrama karena di luar pun aktitivas sudah sepi. Transportasi semuanya dinonaktifkan. Itu sebagai antisipasi penyebaran virus korona.

”Saya pribadi melihat virus korona banyak meninggal bukan saat kondisi sehat. Tapi, meninggal karena imun rendah atau punya penyakit bawaan. Bukan ketika sehat, imun baik, kena virus, dan meninggal,” ungkapnya.

Meski demikian, diakui Arif, tetap ada kekhawatiran dan takut jika virus itu makin menyebar. Untungnya, teman-teman asal Indonesia saling men-support. Oleh karena itu, jika ada kesempatan dirinya pulang, ingin bisa pulang.

Hanya saja, saat ini semua transportasi dinonaktifkan. ”Semoga saja dari Pemerintah Indonesia, melalui KBRI bisa mengondisikan dan berkomunikasi dengan Pemerintah Tiongkok untuk bisa dipulangkan ke Indonesia untuk sementara,” ungkapnya. (fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/