alexametrics
25 C
Probolinggo
Thursday, 25 February 2021
Desktop_AP_Top Banner

Jamilah Menulis Dua Buku tentang Perjuangan Guru

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Menjadi guru selama 28 tahun membuat Jamilah bertemu dengan siswa berbagai karakter. Pengalamannya menjadi guru itu ditulisnya dalam dua buku. Selain ingin berbagi, juga ingin kembali mengingatkan bahwa guru adalah pekerjaan yang luar biasa.

————-

SEANDAINYA semua guru mau menyadari kekurangan murid, indahnya dunia pendidikan.” Itulah salah satu ungkapan yang ditulis oleh Jamilah di buku karyanya yang berjudul “Mengajar dengan cinta”.

Perempuan 53 tahun ini sudah lebih dari 28 tahun mengajar. Selama itu, banyak asam garam yang dilalui dalam menghadapi berbagai karakter siswa.

Jamilah mengatakan, menjadi guru memang tidak pernah mudah. Butuh banyak kesabaran, keihlasan, bahkan ketelatenan untuk mengajar dan mendidik siswa. “Jika ada sedikit rasa tidak ikhlas, pasti ada rasa mengeluh dan tidak telaten menghadapi karakter siswa yang beraneka ragam,” ceritanya.

Lewat dua buku karyanya yang berjudul “Mengajar dengan Cinta” dan “Mendidik dengan Penuh Keikhlasan,” Jamilah banyak menceritakan suka duka selama dirinya mengajar sejak tahun 1990.

Impian menjadi guru, tidak hanya keinginannya tapi juga keinginan dari orang tuanya. Setelah lulus dari MAN Bangil, Jamilah melanjutkan ke D3 Kimia ITS dan meneruskan ke S1 IKIP Malang.

Sebagai anak dari orang tua yang bahkan tidak lulus SD, Jamilah harus bekerja keras. Sehingga saat kuliah bisa mendapatkan ikatan dinas atau sekolahnya dibiayai negara.

“Kalau pintar tidak juga, tapi saya merasa beruntung bisa belajar dengan ikatan dinas,” terangnya.

Sehingga setelah lulus dan setengah tahun menjadi guru honorer, Jamilah diangkat menjadi guru PNS dari ikatan dinas tersebut. Awalnya dirinya mengajar di SMAN 1 Situbondo. Baru dua tahun kemudian pindah ke SMAN 1 Gondangwetan sampai tahun 2020.

Sebagai guru Kimia yang merupakan salah satu mata pelajaran “sulit,” Jamilah menghadapi banyak tantangan dalam mengajar. “Termasuk sering saya lihat rekan mengeluh siswa begini-begitu. Padahal harusnya ikhlas dalam mengajar karena kemampuan siswa juga beragam,” terangnya.

Di tahun 2018, Jamilah ikut serta dalam komunitas mediaguru. Komunitas ini mendorong guru-guru agar aktif menulis. Jamilah yang suka dunia tulis menulispun tertantang untuk membuat buku.

“Jadi di tahun tersebut langsung terbit dua buku dalam waktu berdekatan. Dan kebetulan inspirasi memang ada dari mengajar sehari-hari,” terangnya.

Buku pertama,”Mengajar dengan Cinta” lebih banyak berisi tentang perjuangan orang tuanya membesarkannya menjadi seorang guru. Dia pun berpesan dalam buku itu agar tidak pacaran dulu kalau berniat sekolah tinggi.

Dia juga menyampaikan berbagai cara menghadapi siswa. Sebab, selama ini Jamilah sering mendengar keluhan guru yang ingin siswanya patuh dan pintar menerima pelajaran.

“Padahal siswa itu tidak sama. Keiginan saya agar guru yang membaca buku saya jadi tersentil. Dan introspeksi diri apakah layak menjadi guru ideal atau tidak,” ujarnya.

Sedangkan di buku keduanya yang berjudul “Mendidik dengan penuh Keikhlasan,” Jamilah lebih detail lagi menuliskan kasus-kasus khusus dalam menghadapi siswa. Seperti saat study tour dengan 16 bus keluar kota. Perlu kedekatan dengan siswa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan diperhatikan selama di luar kota.

Jamilah juga menceritakan SMAN 1 Gondangwetan sebagai sekolah inklusi yang menerima siswa disabilitas. Menurutnya, mendidik siswa disabilitas di sekolah umum harus penuh kesabaran.

“Karena selain secara fisik mereka tidak seperti lainnya, biasanya juga pengaruh kepada mentalitas mereka,” ujarnya.

Karena itu kalau tidak telaten dan tidak sabar mendidik siswa disabilitas, akan gampang emosi. “Ada guru yang mudah emosi dan tidak sabaran menghadapi siswa khusus ini. Padahal harusnya ikhlas dan mau menerima siswa bagaimanapun keadaannya,” terangnya.

Lewat dua buku ini, Jamilah mengajak guru-guru lain untuk bercermin sebagai pendidik. Bukunya juga banyak diberikan sebagai hadiah pada siswa yang telah lulus SMA. Per Juni, Jamilah memang tidak lagi menjadi guru SMA. Dia menjadi pengawas sekolah di Cabang Dinas Pasuruan.

“Meskipun tidak bisa mengajar lagi secara langsung, tapi tetap bisa ke sekolah dan tetap mengabdi di dunia pendidikan. Namun dengan cara yang berbeda,” ujarnya. (eka/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

Menjadi guru selama 28 tahun membuat Jamilah bertemu dengan siswa berbagai karakter. Pengalamannya menjadi guru itu ditulisnya dalam dua buku. Selain ingin berbagi, juga ingin kembali mengingatkan bahwa guru adalah pekerjaan yang luar biasa.

————-

SEANDAINYA semua guru mau menyadari kekurangan murid, indahnya dunia pendidikan.” Itulah salah satu ungkapan yang ditulis oleh Jamilah di buku karyanya yang berjudul “Mengajar dengan cinta”.

Mobile_AP_Half Page

Perempuan 53 tahun ini sudah lebih dari 28 tahun mengajar. Selama itu, banyak asam garam yang dilalui dalam menghadapi berbagai karakter siswa.

Jamilah mengatakan, menjadi guru memang tidak pernah mudah. Butuh banyak kesabaran, keihlasan, bahkan ketelatenan untuk mengajar dan mendidik siswa. “Jika ada sedikit rasa tidak ikhlas, pasti ada rasa mengeluh dan tidak telaten menghadapi karakter siswa yang beraneka ragam,” ceritanya.

Lewat dua buku karyanya yang berjudul “Mengajar dengan Cinta” dan “Mendidik dengan Penuh Keikhlasan,” Jamilah banyak menceritakan suka duka selama dirinya mengajar sejak tahun 1990.

Impian menjadi guru, tidak hanya keinginannya tapi juga keinginan dari orang tuanya. Setelah lulus dari MAN Bangil, Jamilah melanjutkan ke D3 Kimia ITS dan meneruskan ke S1 IKIP Malang.

Sebagai anak dari orang tua yang bahkan tidak lulus SD, Jamilah harus bekerja keras. Sehingga saat kuliah bisa mendapatkan ikatan dinas atau sekolahnya dibiayai negara.

“Kalau pintar tidak juga, tapi saya merasa beruntung bisa belajar dengan ikatan dinas,” terangnya.

Sehingga setelah lulus dan setengah tahun menjadi guru honorer, Jamilah diangkat menjadi guru PNS dari ikatan dinas tersebut. Awalnya dirinya mengajar di SMAN 1 Situbondo. Baru dua tahun kemudian pindah ke SMAN 1 Gondangwetan sampai tahun 2020.

Sebagai guru Kimia yang merupakan salah satu mata pelajaran “sulit,” Jamilah menghadapi banyak tantangan dalam mengajar. “Termasuk sering saya lihat rekan mengeluh siswa begini-begitu. Padahal harusnya ikhlas dalam mengajar karena kemampuan siswa juga beragam,” terangnya.

Di tahun 2018, Jamilah ikut serta dalam komunitas mediaguru. Komunitas ini mendorong guru-guru agar aktif menulis. Jamilah yang suka dunia tulis menulispun tertantang untuk membuat buku.

“Jadi di tahun tersebut langsung terbit dua buku dalam waktu berdekatan. Dan kebetulan inspirasi memang ada dari mengajar sehari-hari,” terangnya.

Buku pertama,”Mengajar dengan Cinta” lebih banyak berisi tentang perjuangan orang tuanya membesarkannya menjadi seorang guru. Dia pun berpesan dalam buku itu agar tidak pacaran dulu kalau berniat sekolah tinggi.

Dia juga menyampaikan berbagai cara menghadapi siswa. Sebab, selama ini Jamilah sering mendengar keluhan guru yang ingin siswanya patuh dan pintar menerima pelajaran.

“Padahal siswa itu tidak sama. Keiginan saya agar guru yang membaca buku saya jadi tersentil. Dan introspeksi diri apakah layak menjadi guru ideal atau tidak,” ujarnya.

Sedangkan di buku keduanya yang berjudul “Mendidik dengan penuh Keikhlasan,” Jamilah lebih detail lagi menuliskan kasus-kasus khusus dalam menghadapi siswa. Seperti saat study tour dengan 16 bus keluar kota. Perlu kedekatan dengan siswa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan diperhatikan selama di luar kota.

Jamilah juga menceritakan SMAN 1 Gondangwetan sebagai sekolah inklusi yang menerima siswa disabilitas. Menurutnya, mendidik siswa disabilitas di sekolah umum harus penuh kesabaran.

“Karena selain secara fisik mereka tidak seperti lainnya, biasanya juga pengaruh kepada mentalitas mereka,” ujarnya.

Karena itu kalau tidak telaten dan tidak sabar mendidik siswa disabilitas, akan gampang emosi. “Ada guru yang mudah emosi dan tidak sabaran menghadapi siswa khusus ini. Padahal harusnya ikhlas dan mau menerima siswa bagaimanapun keadaannya,” terangnya.

Lewat dua buku ini, Jamilah mengajak guru-guru lain untuk bercermin sebagai pendidik. Bukunya juga banyak diberikan sebagai hadiah pada siswa yang telah lulus SMA. Per Juni, Jamilah memang tidak lagi menjadi guru SMA. Dia menjadi pengawas sekolah di Cabang Dinas Pasuruan.

“Meskipun tidak bisa mengajar lagi secara langsung, tapi tetap bisa ke sekolah dan tetap mengabdi di dunia pendidikan. Namun dengan cara yang berbeda,” ujarnya. (eka/hn/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2