Mengenal FLP Pasuruan yang Galakkan Literasi di Pasuruan

Kendati kegiatan literasi masih minim di Indonesia, namun komunitas literasi terus bertumbuhan di Pasuruan. Salah satunya adalah Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Pasuruan yang anggotanya sudah menerbitkan puluhan buku.

ERRI KARTIKA, Pasuruan, Radar Bromo

Sekitar 10 anak berusia 9-12 tahun tampak serius duduk di trotoar depan Stasiun Untung Suropati, Kota Pasuruan. Dengan alas tikar sederhana, mereka menulis kata demi kata di buku tulis.

Sesekali mereka memandang sekeliling. Tak lama kemudian, kembali menuliskan kata dengan pensil di buku tulis mereka.

Itulah salah satu kegiatan Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Pasuruan. Pemandangan ini cukup unik. Sebab, jarang kegiatan literasi dilakukan di trotoar pinggir jalan.

Kegiatan FLP cabang Pasuruan memang memilih tempat lain untuk pertemuan. Jika biasanya dilakukan di Gedung Perpustakaan Kota Pasuruan, mereka juga menggunakan tempat lain untuk bertemu.

“Kegiatan ini adalah menulis kreatif bagi anak SD. Menulis kreatif justru lebih mudah dilakukan karena tanpa beban dan imajinasinya tinggi,” ungkap Ernawati, salah satu Penggagas FLP cabang Pasuruan.

FLP memang bukan hanya di Pasuruan. Forum Lingkar Pena adalah forum penulis nasional yang bahkan anggotanya banyak di luar negeri.

Di Pasuruan, FLP sudah berdiri sejak 23 Februari 2008. Sudah berusia 11 tahun, FLP cabang Pasuruan menjadi salah satu komunitas yang membibit penulis-penulis muda di Pasuruan.

“Jadi, tujuan kami adalah gerakan literasi. Selain menjadi penulis, kami galakkan membaca juga. Karena menulis satu kesatuan dengan hobi membaca,” ungkapnya.

Saat ini anggota FLP Cabang Pasuruan memang tidak semua aktif. Diperkirakan sepanjang 11 tahun ada kurang lebih 750 anggota yang bergabung. Namun, tidak semuanya aktif.

“Namanya komunitas, ada yang aktif dan tidak. Ada yang tidak lagi aktif karena bekerja atau pindah tempat. Sehingga, saat ini yang aktif sekitar 20-an anggota,” terangnya.

Background anggota ini beragam. Mulai pelajar, mahasiswa, sampai ibu rumah tangga. Yang paling muda bahkan ada yang masih kelas 3 SD. Mereka berasal dari hasil pengaderan go to school yang dilakukan FLP ke sekolah-sekolah.

Erna mengatakan, FLP rutin melakukan pertemuan dengan anggota komunitas minimal 2 bulan sekali. Lalu, setiap semester rutin dilakukan pengaderan terutama ke sekolah sampai ke kampus.

Menurutnya, kegiatan itu merupakan program seluruh FLP secara nasional. Tujuannya, agar gerakan literasi dipupuk sejak dini.

“Seperti kita tahu budaya membaca, apalagi menulis masih rendah di Indonesia. Jadi, salah satu caranya yaitu mengajak sejak dini untuk aktif literasi. Bahkan, siswa SD diajak kenal dengan dunia literasi,” terangnya.

Dari hasil ke sekolah-sekolah itu, biasanya ada kurang lebih 13 anak yang bergabung. Namun, seiring waktu terjadi seleksi alam. Pada akhirnya, hanya beberapa saja yang bertahan.

Kegiatan anggota baru ini pun dipantau. Biasanya mereka rutin melaporkan hasil bacaan di grup WA. Mereka juga menggelar pertemuan rutin yang kegiatannya membaca bersama sampai menulis kreatif.

“Dari hasil pengaderan tersebut, nanti yang paling aktif bisa ikut pertemuan FLP tingkat Provinsi. Mereka juga bisa ikut pertemuan nasional yang biasanya dilakukan lima tahun sekali,” terangnya.

Saat ini anggota FLP Pasuruan juga sangat produktif menghasilkan buku. Di antaranya, menerbitkan dua buku antologi pada tahun 2017. Judulnya, Sepersepuluh ditulis oleh 17 anggota FLP Pasuruan.

Lalu pada tahun 2018 diterbitkan juga antologi. Judulnya Hari Hati Mata Puisi ditulis oleh 13 anggota FLP Pasuruan. Dan tahun 2019, sedang proses pembuatan buku antologi yang akan diterbitkan tahun ini.

Selain menulis bersama, anggota FLP Pasuruan juga banyak yang menulis di buku antologi FLP Jawa Timur dan Nasional. Bahkan, tiap anggota juga produktif menulis 2-3 buku secara personal.

“Saya sendiri sudah nulis dua buku. Ada teman lain rata-rata juga menulis 2 sampai 3 buku. Jadi, total semuanya kurang lebih sudah menulis 30 sampai 40 buku. Termasuk menulis di buku antologi,” terangnya.

Menurutnya, setiap anggota punya tujuan khusus menjadi anggota FLP. Ada yang sekadar ingin tahu atau penasaran. Ada juga yang ingin menjadi penulis.

“Dan itu kami wadahi. Ada yang suka nulis puisi, artikel, cerpen. Jadi kesukaan memang berbeda-beda,” terangnya.

Dengan langkah kecil FLP Pasuruan itu, diharapkan bisa meramaikan kegiatan literasi di Pasuruan. Tak hanya mengampanyekan budaya membaca, tapi juga mengajak masyarakat untuk gemar menulis dan meningkatkan budaya literasi di Indonesia. (hn)