Perjuangan Guru SDN Resongo IV Melewati Jembatan Bambu untuk Mengajar

Sulitnya akses jalan menjadi cerita sehari-hari para guru di SDN Resongo IV, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Probolinggo. Untuk mencapai sekolah itu, para guru harus melewati jembatan bambu yang tak layak. Jika tidak, mereka harus melewati jalan kecamatan yang jarak tempuhnya 10 kilometer lebih jauh.

ARIF MASHUDI, Kuripan, Radar Bromo

SDN Resongo IV Kuripan, Kabupaten Probolinggo, terletak di perbatasan dengan Desa Legundi, Kecamatan Bantaran. Juga masuk wilayah Kabupaten Probolinggo. Ada lebih dari satu akses jalan yang bisa dipilih untuk mencapai SDN Resongo IV.

Di antaranya, melewati wilayah Kecamatan Kuripan, dengan jarak paling jauh dibandingkan dengan akses jalan yang lain. Selain itu, kondisi jalan yang dilalui rusak.

Karena jauh, guru-guru SDN Resongo IV yang berasal dari wilayah Kota Probolinggo dan sekitarnya memilih lewat jalan lain. Yaitu, melalui Desa Legundi, Bantaran.

Untuk mencapai SDN Resongo IV, mereka harus melewati jembatan bambu. Jembatan ini terletak di perbatasan Desa Legundi, Kecamatan Bantaran dengan Desa Resongo, Kecamatan Kuripan.

Masalahnya, kondisi jembatan bambu tersebut sangat mengkhawatirkan. Bahkan, bisa dikatakan tidak layak. Jembatan yang dibuat oleh warga setempat itu, sangatlah sempit. Lebar jembatan hanya 1 meter.

Lebar jembatan kira-kira hampir sama dengan lebar setir sepeda motor. Karena itu, guru yang naik sepeda motor harus ekstra hati-hati saat lewat di sana.

Jika tidak hati-hati, maka bisa-bisa setir motor kesenggol bambu jembatan dan terjatuh. Motor pun tidak bisa dinaiki, hanya dituntun.

Selain sempit, lantai jembatan bolong-bolong, karena terbuat dari bambu yang ditutup gedek. Saat lewat di sana, tidak jarang motor kesulitan bergerak karena nyantol di lantai jembatan.

”Ada juga guru yang sempat keperosok ke lubang jembatan bambu itu,” kata Sugiman, guru paling lama di SDN Resongo IV tersebut.

Sugiman mengaku, dirinya mengajar di SDN Resongo IV sudah sekitar 5 tahun lamanya. Selama itu pula, dirinya memilih lewat jembatan bambu untuk berangkat dan pulang mengajar.

Sebab, dia tinggal di Desa Ngepoh, Kecamatan Dringu. Jaraknya sekitar 25 km menuju sekolah tempatnya mengajar. Dan melalui jembatan bambu adalah jarak terdekat.

Dengan melalui jembatan bambu, dia bisa sampai sekolah dalam waktu 45 menit. Sementara jika memutar melalui jalan kecamatan, akan lebih jauh. Selisihnya sampai 10 kilometer.

”Ada akses jalan lain, tidak lewat jembatan bambu itu. Tapi lebih jauh 10 kilometer, karena muter. Itu pun jalannya tidak mulus,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.

Dari tujuh guru di SDN Resongo IV, ada lima guru yang harus lewat jembatan bambu tersebut, termasuk dirinya. Dirinya tetap semangat dan ikhlas menjalani karena ini menjadi tanggung jawabnya. Baginya, mendidik anak penerus bangsa adalah amanah mulia.

 

Baca juga: Jembatan Penghubung Kec Bantaran-Kuripan di Desa Legundi Tak Layak Dilintasi

 

Voni, salah satu guru SDN Resongo IV adalah guru yang sempat terperosok di jembatan bambu itu. Saat itu, dirinya berangkat sekolah naik motor.

Sampai di jembatan, motor pun dituntun. Namun, karena lantai jembatan bolong-bolong, roda depan motornya pun terperosok. Beruntungnya, dirinya tidak sampai jatuh. Motor yang terperosok lantas diangkat dengan dibantu para guru dan warga sekitar.

”Jembatan itu dibuat oleh warga dan sudah sering diperbaiki. Tapi, karena terbuat dari bambu, jadi mudah rusak,” katanya.

Voni paham, melewati jembatan itu memang berbahaya. Sebab, kondirinya tidak layak. Namun, tanggung jawab sebagai guru membuatnya rela melewati jembatan itu.

Status sebagai guru honorer (SK Bupati), tidak membuat semangatnya kendor. Diakuinya, semangat siswa-siswinya yang selama ini selalu memotivasi dirinya.

Murid-murid di kelasnya memiliki semangat tinggi untuk belajar. Padahal, rata-rata rumah mereka lumayan jauh dengan sekolah.

“Semangat anak didik yang luar biasa, selama ini menjadi penyemangat saya untuk tetap mengajar,” tutur guru asal Desa Sumur Mati, Kecamatan Sumberasih, itu.

Voni berharap, bisa dibangun jembatan yang lebih layak di tempat itu. Tidak hanya untuk akses para guru, tapi juga untuk warga setempat.

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, jembatan bambu sepanjang 25 meter itu dari jauh terlihat berdiri kokoh. Namun, dilihat dari dekat, sudah banyak bagian bambu yang rapuh, terutama bagian lantai jembatan.

Jembatan itu hanya bisa dilalui pejalan kaki dan pengendara roda dua. Nah, jembatan itu merupakan akses jalan pintas menuju SDN Resongo IV Kecamatan Kuripan. Khususnya bagi guru yang berasal dari Kota Probolinggo. Karena jika tidak melewati jembatan itu, harus lewat Kecamatan Kuripan dengan jarak tempuh lebih jauh.

”Itu, jembatan ada di perbatasan wilayah Kecamatan Bantaran dengan Kuripan. Jembatan bambu itu biasa dilewati supaya lebih cepat menuju SDN Resongo IV,” terang Sugianto, salah satu guru di SDN Resongo IV.

Camat Kuripan Saniwar menegaskan, jembatan itu memang akses penghubung antara dua kecamatan. Dia pun berjanji akan mengecek apakah pembangunan jembatan itu pernah masuk musrenbang di kecamatan. Andai bisa, pembangunannya akan diusulkan lewat musrenbang. Sebab, jembatan itu merupakan akses darurat yang biasa dilalui guru-guru supaya lebih cepat sampai ke sekolah.

”Nanti akan kami cek dan pelajari dulu. Kalau memang bisa dimasukkan ke musrenbang kecamatan, maka akan diusulkan tahun 2021,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang) Kabupaten Probolinggo Rahmad Waluyo mengaku, tahun ini tidak ada rencana rehab jembatan bambu penghubung dua kecamatan tersebut. Apalagi, anggaran kegiatan fisik jembatan dan jalan hampir semuanya dialihkan untuk penanganan Covid-19.

”Tahun ini tidak ada rencana kegiatan rehab jembatan itu. Silakan ajukan lewat musrenbang kecamatan,” ujarnya. (hn)