alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Friday, 19 August 2022

Terbang Wedar Winongan, Ratusan Tahun Pertahankan Kesenian Islami

Di Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, memiliki kesenian yang sudah berusia ratusan tahun. Kesenian Terbang Wedar. Masyarakat pun banyak yang menggelar selamatan dengan mengundang mereka. Isinya, berupa salawatan dan puji-pujian kepada Allah SWT.

—————

Kesenian Terbang Wedar sekilas tampak sama dengan kesenian rebana lainnya. Namun, kesenian yang berusia ratusan tahun ini memiliki sejarah tersendiri yang diyakini masyarakat Kecamatan Winongan. Mereka meyakini sebagai bentuk syukur dan ucapan terima kasih terhadap berkah yang diberikan Allah SWT.

Nama Terbang Wedar sendiri diambil dari Dusun Wedar di Desa Gading, Kecamatan Winongan. Masyarakat lokal memiliki seni budaya khas yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Saat ini masih ada satu kelompok yang melestarikan kesenian Terbang Wedar. Kesenian lokal yang sudah diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.

Awalnya, kesenian Terbang Wedar justru memakai kentongan yang terbuat dari bambu. Seiring perkembangan zaman dan masuknya kesenian asal Timur Tengah, penggunaan alat musik menggunakan terbangan atau rebana.

Yang berbeda alat musik dibuat secara mandiri. Ukurannya lebih besar dibanding rebana. Bila rebana normal ukurannya sekitar 40 sentimter, Terbang Wedar bisa berdiameter 1 meter. Karena cukup besar, mereka biasanya membuat secara mandiri. Mulai dari kerangka sampai kulit tabuhannya.

Jasman, 55, anggota grup Terbang Wedar mengatakan, saat ini anggotanya tinggal 9 orang. Dari segi usia, rata-rata mereka sudah berusia di atas 50 tahun. “Memang tinggal generasi tua, sedangkan kami juga berupaya ada penerus dari yang lebih muda,” terangnya.

Terbang Wedar sampai saat ini dipercaya sebagai penebus nazar bagi masyarakat Kecamatan Winongan. Serta, sebagai rasa ucapan terima kasih jika nazarnya tercapai. “Biasanya kalau ada orang bernazar, namanya nazar Terbang Wedar. Kalau ingin anak atau sembuh dari sakit dan akhirnya tercapai, mereka mengadakan selamatan sambil salawatan dengan Terbang Wedar,” jelasnya.

Musik yang dimainkan dari Terbang Wedar berbeda dengan musik umum. Mereka tetap mempertahankan alunan musik Jawa atau tabuhan Jawa sebagai background musik. Sedangkan, lagu-lagunya juga khas. Mereka juga membaca kitab Barzanji, dibakan, dan bersalawat.

Saat diundang selamatan nazar, Jasman mengatakan, lebih banyak menampilkan salawatan atau puji-pujian Nabi Muhammad SAW. “Salawatan ini adalah ungkapan puji-pujian kepada Nabi Muhammad dan ucapan terima kasih kepada Allah SWT, lantaran apa yang diinginkan dapat tercapai,” ujarnya.

Selain diundang terkait selamatan dan nazar, Terbang Wedar juga sering diundang jika ada acara pernikahan, khitanan, termasuk jika ada acara selamatan desa dan kecamatan. Tak hanya di Kecamatan Winongan, kesenian ini juga berdakwa sampai ke Kecamatan Lumbang, Grati, dan Kecamatan Rejoso.

Jasman mengatakan, selain menjadi anggota Terbang Wedar, anggotanya juga memiliki pekerjaan lain. Mayoritas mereka petani. “Terbang Wedar ini selain hobi, juga melestarikan budaya lokal yang sudah ada sejak lama,” ujarnya.

Peminat kesenian ini juga masih banyak. Dalam sebulan, rata-rata mereka bisa mendapatkan 3-5 kali undangan. Sekali tampil, mereka bisa hingga 3 jam untuk bersalawat. “Biasanya tamu juga ikut bersalawat seperti saat serakalan (berdiri) yang menjadi bagian dari salawatan Nabi. Rata-rata saat selamatan kurang lebih ada 100 jamaah yang hadir,” ujar Jasman. (eka/rud)

Di Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, memiliki kesenian yang sudah berusia ratusan tahun. Kesenian Terbang Wedar. Masyarakat pun banyak yang menggelar selamatan dengan mengundang mereka. Isinya, berupa salawatan dan puji-pujian kepada Allah SWT.

—————

Kesenian Terbang Wedar sekilas tampak sama dengan kesenian rebana lainnya. Namun, kesenian yang berusia ratusan tahun ini memiliki sejarah tersendiri yang diyakini masyarakat Kecamatan Winongan. Mereka meyakini sebagai bentuk syukur dan ucapan terima kasih terhadap berkah yang diberikan Allah SWT.

Nama Terbang Wedar sendiri diambil dari Dusun Wedar di Desa Gading, Kecamatan Winongan. Masyarakat lokal memiliki seni budaya khas yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Saat ini masih ada satu kelompok yang melestarikan kesenian Terbang Wedar. Kesenian lokal yang sudah diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.

Awalnya, kesenian Terbang Wedar justru memakai kentongan yang terbuat dari bambu. Seiring perkembangan zaman dan masuknya kesenian asal Timur Tengah, penggunaan alat musik menggunakan terbangan atau rebana.

Yang berbeda alat musik dibuat secara mandiri. Ukurannya lebih besar dibanding rebana. Bila rebana normal ukurannya sekitar 40 sentimter, Terbang Wedar bisa berdiameter 1 meter. Karena cukup besar, mereka biasanya membuat secara mandiri. Mulai dari kerangka sampai kulit tabuhannya.

Jasman, 55, anggota grup Terbang Wedar mengatakan, saat ini anggotanya tinggal 9 orang. Dari segi usia, rata-rata mereka sudah berusia di atas 50 tahun. “Memang tinggal generasi tua, sedangkan kami juga berupaya ada penerus dari yang lebih muda,” terangnya.

Terbang Wedar sampai saat ini dipercaya sebagai penebus nazar bagi masyarakat Kecamatan Winongan. Serta, sebagai rasa ucapan terima kasih jika nazarnya tercapai. “Biasanya kalau ada orang bernazar, namanya nazar Terbang Wedar. Kalau ingin anak atau sembuh dari sakit dan akhirnya tercapai, mereka mengadakan selamatan sambil salawatan dengan Terbang Wedar,” jelasnya.

Musik yang dimainkan dari Terbang Wedar berbeda dengan musik umum. Mereka tetap mempertahankan alunan musik Jawa atau tabuhan Jawa sebagai background musik. Sedangkan, lagu-lagunya juga khas. Mereka juga membaca kitab Barzanji, dibakan, dan bersalawat.

Saat diundang selamatan nazar, Jasman mengatakan, lebih banyak menampilkan salawatan atau puji-pujian Nabi Muhammad SAW. “Salawatan ini adalah ungkapan puji-pujian kepada Nabi Muhammad dan ucapan terima kasih kepada Allah SWT, lantaran apa yang diinginkan dapat tercapai,” ujarnya.

Selain diundang terkait selamatan dan nazar, Terbang Wedar juga sering diundang jika ada acara pernikahan, khitanan, termasuk jika ada acara selamatan desa dan kecamatan. Tak hanya di Kecamatan Winongan, kesenian ini juga berdakwa sampai ke Kecamatan Lumbang, Grati, dan Kecamatan Rejoso.

Jasman mengatakan, selain menjadi anggota Terbang Wedar, anggotanya juga memiliki pekerjaan lain. Mayoritas mereka petani. “Terbang Wedar ini selain hobi, juga melestarikan budaya lokal yang sudah ada sejak lama,” ujarnya.

Peminat kesenian ini juga masih banyak. Dalam sebulan, rata-rata mereka bisa mendapatkan 3-5 kali undangan. Sekali tampil, mereka bisa hingga 3 jam untuk bersalawat. “Biasanya tamu juga ikut bersalawat seperti saat serakalan (berdiri) yang menjadi bagian dari salawatan Nabi. Rata-rata saat selamatan kurang lebih ada 100 jamaah yang hadir,” ujar Jasman. (eka/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/