alexametrics
30.4 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Saat Becak Wisata Sepi selama Ramadan, Pilih Narik Penumpang Umum

Bulan Ramadan sudah berjalan dua pekan. Selama itu pula, hampir tidak ada rombongan peziarah yang datang ke Kota Pasuruan. Dalam kondisi sepi ini, tukang becak wisata tak lagi mangkal menunggu penumpang yang ziarah. Sebagian menarik penumpang umum. Ada juga yang bekerja serabutan.

————————-

HARI menjelang Magrib. Lantunan ayat-ayat suci Alquran menggema dari beberapa pengeras suara Masjid Agung Al Anwar Kota Pasuruan. Warga pun berseliweran. Keluar masuk pusat kota. Sebagian sudah mengantre di depan lapak penjaja takjil atau makanan untuk berbuka puasa.

Soleh masih terlihat di tepi alun-alun. Dia salah satu tukang becak wisata. Sudah lima tahun dia menjalani pekerjaan itu. Tetapi, sejak awal Ramadan, becaknya lebih sering terparkir. Sebab, selama bulan suci hampir tidak ada rombongan peziarah. Kalaupun ada, hanya peziarah dengan kendaraan pribadi.

“Kalau bulan puasa, nggak ada rombongan. Paling cuma rombongan mobil carteran. Jadi langsung ke sini, nggak turun di terminal,” ujarnya.

Praktis, pendapatan Soleh juga harus ikut “berpuasa”. Papan bertuliskan becak wisata untuk sementara dilepas dari becaknya. Soleh lebih sering menarik penumpang umum. Itu pun diakui sangat sedikit.

“Mau cari penumpang orang belanja juga sulit. Banyak yang naik motor,” katanya.

Maka, saat penumpang umum pun sulit didapat, Soleh membantu tukang parkir. Becaknya diparkir di sisi selatan masjid. Lalu, dia ikut menjaga parkiran.

Itu dilakukannya demi tetap mendapatkan penghasilan. Meski rata-rata penghasilannya hanya Rp 20 ribu.

Selama becak wisata sepi penumpang, Soleh juga bekerja serabutan. “Kadang ya ikut jadi kuli batu,” ujarnya.

Kondisi sekarang memang jauh berbeda dengan sebulan jelang Ramadan. Sehari Soleh bisa mengantar 10 penumpang. Di malam Jumat Legi, bisa lebih banyak lagi.

“Bulan Sura juga ramai. Berhubung Covid ini jadi sepi,” katanya.

Meski sedang ramai, tarif jasa becaknya tak berubah. Setiap penumpang ditarik Rp 5 ribu. “Maksimal tiga penumpang, jadi Rp 15 ribu,” bebernya.

Sementara, seorang pria berkumis tipis masih saja duduk di becak. Tepat di seberang masjid. Namanya Fatkhan. Songkoknya agak miring karena terlalu lama bersandar.

Sesekali dia mengeluarkan ponselnya. Melihat jam terkini. Masih pukul 17.18. Tak sampai seperempat jam lagi beduk azan Magrib dipukul.

“Pokoknya selama Ramadan nggak ada penumpang. Jadi mbecak biasa,” kata Bendahara Paguyuban Becak Wisata di Alun-alun.

Bahkan, saat malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadan, juga tak jauh berbeda. Tetap sepi. “Baru ramai lagi setelah Lebaran. Itu biasanya yang datang rombongan,” jelasnya.

Tukang becak wisata di Kota Pasuruan jumlahnya cukup banyak. Kurang lebih 200 orang. Sebagian besar mangkal di Terminal Wisata.

Mereka menunggu penumpang yang hendak berziarah dengan rombongannya. Dari Terminal Wisata, para peziarah di antarkan menuju depan gang makam KH Abdul Hamid.

Selepas itu, mereka harus kembali ke terminal. Mengantarkan rombongan lain. Nah, peziarah yang hendak kembali ke terminal, disambut sekitar 90 tukang becak wisata yang mangkal di sekitaran alun-alun. (tom/fun)

Bulan Ramadan sudah berjalan dua pekan. Selama itu pula, hampir tidak ada rombongan peziarah yang datang ke Kota Pasuruan. Dalam kondisi sepi ini, tukang becak wisata tak lagi mangkal menunggu penumpang yang ziarah. Sebagian menarik penumpang umum. Ada juga yang bekerja serabutan.

————————-

HARI menjelang Magrib. Lantunan ayat-ayat suci Alquran menggema dari beberapa pengeras suara Masjid Agung Al Anwar Kota Pasuruan. Warga pun berseliweran. Keluar masuk pusat kota. Sebagian sudah mengantre di depan lapak penjaja takjil atau makanan untuk berbuka puasa.

Soleh masih terlihat di tepi alun-alun. Dia salah satu tukang becak wisata. Sudah lima tahun dia menjalani pekerjaan itu. Tetapi, sejak awal Ramadan, becaknya lebih sering terparkir. Sebab, selama bulan suci hampir tidak ada rombongan peziarah. Kalaupun ada, hanya peziarah dengan kendaraan pribadi.

“Kalau bulan puasa, nggak ada rombongan. Paling cuma rombongan mobil carteran. Jadi langsung ke sini, nggak turun di terminal,” ujarnya.

Praktis, pendapatan Soleh juga harus ikut “berpuasa”. Papan bertuliskan becak wisata untuk sementara dilepas dari becaknya. Soleh lebih sering menarik penumpang umum. Itu pun diakui sangat sedikit.

“Mau cari penumpang orang belanja juga sulit. Banyak yang naik motor,” katanya.

Maka, saat penumpang umum pun sulit didapat, Soleh membantu tukang parkir. Becaknya diparkir di sisi selatan masjid. Lalu, dia ikut menjaga parkiran.

Itu dilakukannya demi tetap mendapatkan penghasilan. Meski rata-rata penghasilannya hanya Rp 20 ribu.

Selama becak wisata sepi penumpang, Soleh juga bekerja serabutan. “Kadang ya ikut jadi kuli batu,” ujarnya.

Kondisi sekarang memang jauh berbeda dengan sebulan jelang Ramadan. Sehari Soleh bisa mengantar 10 penumpang. Di malam Jumat Legi, bisa lebih banyak lagi.

“Bulan Sura juga ramai. Berhubung Covid ini jadi sepi,” katanya.

Meski sedang ramai, tarif jasa becaknya tak berubah. Setiap penumpang ditarik Rp 5 ribu. “Maksimal tiga penumpang, jadi Rp 15 ribu,” bebernya.

Sementara, seorang pria berkumis tipis masih saja duduk di becak. Tepat di seberang masjid. Namanya Fatkhan. Songkoknya agak miring karena terlalu lama bersandar.

Sesekali dia mengeluarkan ponselnya. Melihat jam terkini. Masih pukul 17.18. Tak sampai seperempat jam lagi beduk azan Magrib dipukul.

“Pokoknya selama Ramadan nggak ada penumpang. Jadi mbecak biasa,” kata Bendahara Paguyuban Becak Wisata di Alun-alun.

Bahkan, saat malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadan, juga tak jauh berbeda. Tetap sepi. “Baru ramai lagi setelah Lebaran. Itu biasanya yang datang rombongan,” jelasnya.

Tukang becak wisata di Kota Pasuruan jumlahnya cukup banyak. Kurang lebih 200 orang. Sebagian besar mangkal di Terminal Wisata.

Mereka menunggu penumpang yang hendak berziarah dengan rombongannya. Dari Terminal Wisata, para peziarah di antarkan menuju depan gang makam KH Abdul Hamid.

Selepas itu, mereka harus kembali ke terminal. Mengantarkan rombongan lain. Nah, peziarah yang hendak kembali ke terminal, disambut sekitar 90 tukang becak wisata yang mangkal di sekitaran alun-alun. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/