Umar Faruq, Perajin Dompet Kulit di Kota Pasuruan yang Sudah Punya Brand Lokal

Tidak banyak perajin kulit yang terjun dalam industri pembuatan dompet. Di Kota Pasuruan hanya ada satu orang. Dia adalah Mohammad Umar Faruq. Pria ini sudah membuat dompet kulit sejak 2016.

—————

Pria itu membentangkan potongan kulit di atas meja berbentuk persegi panjang yang berukuran 40×60 sentimeter. Dengan penuh kehati-hatian, ia mengukur dan menandai kedua sisi dari potongan kulit itu menggunakan pensil dan penggaris panjang.

Tak lama kemudian potongan kulit itu dipotong sesuai dengan tanda yang diberikan menggunakan pisau. Usai mendapatkan ukuran yang dikehendaki, potongan-potongan itu lantas dibentuk sesuai selera dan dijahit secara manual.

“Pembeli boleh meminta ukuran dan bentuk dompet sesuai yang mereka inginkan. Asalkan dia menunjukkan gambarnya seperti apa. Tentu kami akan mengerjakannya,” ungkap Mohammad Umar Faruq memulai pembicaraan dengan Jawa Pos Radar Bromo.

OTODIDAK: Umar Faruq belajar membuat kerajinan kulit dari otodidak. (Foto: Fahrizal Firmani/Radar Bromo)

 

Umar -sapaan akrabnya- mengungkapkan, awal mula ia tertarik pada olahan kulit sejak tahun 2016. Sebab, kulit lebih mudah dibentuk dan dikembangkan. Kuncinya hanya perlu memiliki ketelatenan dan selalu mencoba.

Dan pada awal 2016, ia pun belajar secara otodidak lewat dunia maya. Dari sini, ia mulai mencoba membuat dompet dengan melihat bentuk dompet yang ada di internet. Namun, dirinya baru berani menjual produknya sejak akhir 2017. Saat itu dia menjual karyanya itu pada teman dan kenalannya.

“Saya sudah belajar membuat dompet sejak 2016. Ya otodidak. Cuma awalnya tidak berani menjualnya. Agak malu. Baru pada akhir 2017 saya mulai memberanikan diri atas dorongan teman,” jelasnya.

Pria kelahiran September 1989 ini menjelaskan, produk yang dijual saat itu adalah dompet, tas selempang, tas ransel, dan sabuk. Meski demikian, pembeli bisa meminta model dan ukuran sesuai keinginan. Pengerjaan dilakukan sendiri saat malam hari. Proses pembuatannya antara empat hari hingga satu minggu.

“Pembuatan mulai dari pemotongan ukuran dan bentuk hingga jahitannya dilakukan secara manual. Saya mengerjakan saat malam hari agar tidak ada gangguan. Ukuran panjang dan lebar perlu disampaikan saat memesan agar tidak keliru,” terangnya.

Anak pertama dari dua bersaudara ini sangat optimistis produk yang dijualnya bisa bersaing dan diterima di Kota Pasuruan. Sebab, harga jual yang lebih murah. Selain itu, di Kota Pasuruan belum ada perajin dompet kulit asli. Bisa dibilang dirinya adalah satu satunya perajin dompet kulit asli di Kota Pasuruan.

Produknya sendiri diberi label Urip Urup. Nama dari bahasa Jawa ini memiliki arti hidup bergerak. Maksudnya orang hidup harus selalu bergerak maju. Ini merupakan filosofi bagi dirinya agar terus berkarya. Sehingga, dirinya terus termotivasi untuk berkembang menjadi lebih baik lagi.

Pria asli Kota Pasuruan ini mengaku, pernah mendapatkan pesanan untuk dompet. Namun, bukan warna natural. Pemesan itu menginginkan warna biru. Dirinya menjelaskan bahwa kulit asli tidak ada warna biru. Semuanya warna natural. Namun, karena pembeli tetap ingin warna biru, maka diwarnai dengan cat kulit.

Menurutnya ia pernah menggarap pesanan pembeli, namun ternyata pembeli tidak puas dengan ukurannya. Ia pun membuatkan produk baru lagi. Sementara yang sudah dibuat ini dijual ke orang lain. Orderan yang diterimanya pun ada yang berasal dari luar Jawa Timur. Seperti Tangerang dan Jakarta. Selain itu, warga Kota Pasuruan sendiri.

Pria yang kesehariannya bekerja di Nur Faz Tour and Travel ini mengaku, bahan baku masih menjadi kendala. Untuk mendapatkan produk kulit kualitas baik, ia harus membeli dari Magetan. Selama ini ia biasanya menggunakan kulit yang berukuran 1,8 milimeter. Sebab, kalau memilih di bawah ukuran ini akan terlalu tipis. Sedangkan di atas itu akan terlalu tebal untuk dijadikan dompet maupun tas.

Namun, karena harga jual berada di bawah rata-rata harga di pasaran, maka dirinya terkadang harus menyiasati dengan mencari di kota lain. Ini jika bahan kulit yang diinginkan tidak tersedia di Magetan. Sebab, jika menggunakan kulit kualitas super, maka harga jual tidak akan menutupi ongkos produksi yang harus dikeluarkan.

“Ke depannya saya memiliki rencana untuk rebranding merek Urip Urup menjadi brand lokal Kota Pasuruan. Sehingga nantinya ada store resmi. Target sasaran tentu akan naik ke menengah ke atas. Selama ini harga jual berkisar Rp 250 sampai 350 ribu,” pungkasnya. (riz/hn/fun)