alexametrics
25.3 C
Probolinggo
Wednesday, 18 May 2022

Tatok Hanggara Bikin Lagu Griduh Vaksin, Terinspirasi Kondisi Sekitar

Tak sedikit seniman yang berkreasi saat wabah Covid-19 berlangsung. Termasuk Tatok Jenny Hanggara, seniman musik di Kotaanyar. Pencipta lagu ini baru saja mengeluarkan lagu menggellitik, yang menggambarkan realita tentang vaksin Covid-19.

————————

SETIYAH griduh vaksin. Vaksin eyanggep din dedin. Gub bedeh kaber suntigen, pas dulien notop labeng,”

Begitu penggalan lagu berjudul ‘Griduh Vaksin’ ciptaan Tatok Jenny Hanggara. Pria 30 tahun yang kerap disapa Raden Hanggara ini menciptakan lagu yang bertemakan soal vaksin Covid-19, dengan lirik bahasa Madura. Kini lagu tersebut cukup populer di Probolinggo.

Saat berkunjung ke rumahnya di RT 2/RW 1, Desa Triwungan, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo, Senin (25/1) lalu, kebetulan sedang hujan. Saat itu di dalam rumah, terlihat seorang lelaki sedang ngobrol di teras. Tak lama kemudian, dia masuk ke dalam rumah dan mengambil gitar. Dialah Tatok Jenny Hanggara.

Dia lantas menggenjreng gitar kesayangannya. Syair dalam bahasa Madura pun mengalun lancar. Jenaka namun mengena di hati.

Tatok Jenny Hanggara sejatinya sudah bertahun tahun menggeluti dunia tarik suara dan penulis lagu. Salah satu lagunya yang berjudul “Tak Nyaman” bahkan pernah dibawakan salah satu artis bintang pulau garam Madura, Fatim Zain. Lagu itu beraliran genre dangdut.

Tak hanya itu, Boby Berliandika, salah satu peserta X Factor Indonesia yang masuk 14 belas besar pada 2015 silam, juga pernah membawakan lagunya yang berjudul “Korban Keegoisan.”

Saat ditanya, apakah dia mendapat royalti dari lagu-lagu tersebut, dia hanya tertawa. Sebab rata-rata lagu ciptaannya yang dinyanyikan, hanya dibayar harga teman. Meskipun itu dinyanyikan oleh artis.

PENCIPTA LAGU: Gaya Atok saat menyanyi sambil menggenjreng gitarnya. (Foto: Istimewa)

“Lebih dari 50 lagu sudah saya ciptakan. Sebagian sudah dibawakan oleh beberapa artis,” ujar lelaki yang akrab dipanggil Atok tersebut.

Bakat menyanyi Atok muncul dari saat masih belia. Melihat potensi terbut, almarhum ayahnya Suparman, mendukung bakat yang dimiliki oleh anaknya tersebut.

Pada 1995, Atok yang memakai anting di telinga kanannya ini, pernah didatangi salah satu produser dari Jakarta. Produser tersebut sempat ingin membawa dirinya untuk dibina agar dapat fokus bergelut di dunia tarik suara tersebut. Tapi waktu itu karena dia masih kecil, orang tuanya tak mengizinkan.

Baru di tahun 2012-2013, Atok kembali mencoba peruntungan. Dia bersama salah seorang teman untuk ke Jakarta untuk mencari produser. Iapun berangkat ke Jakarta. Di ibukota, dia ditampung oleh salah atu Banom Organisasi Kemasyarakatan NU, Yakni Ansor Pusat.

Saat berada di Jakarta, biaya hidup Atok di sana ditanggung oleh rekan-rekan Ansor. Namun nasibnya tak mujur. Berbulan bulan di sana ia tak kunjung menemukan produser yang mau untuk mempromosikan atau merilis lagu-lagunya. Alhasil untuk memenuhi kebutuhan lainnya ia harus mencari pekerjaan di Jakarta. Mulai dari, menjadi satpam sampai pekerjaan lainnya dilakukan. Hingga pada tahun 2013 ia kembali pulang ke kampung halaman.

“Sempat di minggu-minggu terakhir di Jakarta, saya dikenalkan dengan Farhat Abas (lawyer yang juga produser musik, Red). Saya menawarkan lagu-lagu ke beliau. Rencananya sudah mau ke dapur rekaman, namun pada saat itu Farhat Abas sepertinya memiliki masalah dan ya tidak jadi pada akhirnya. Saya tidak masalah pada waktu itu, dan memilih pulang,” ujarnya

Walau begitu, Atok tak patah arang. Dia tetap menulis lagu. Sebab menjadi seniman sudah menjadi pekerjaan baginya. Dalam perjalanan hidupnya ia sudah merasakan banyak sekali pengalaman.

Namun begitu, pekerjaan yang dilakoninya tidak pernah sampai lama. Misal seperti menjadi tukang bangunan, ikut proyek di salah satu perusahaan sebagai tenaga kasar, dan menjadi seorang nelayan.

“Dari sejak Madrasah Aliyah (MA) memang sudah sering ngamen untuk mengisi kesenggangan dan menambah uang jajan pasa saat itu. Sebab ayah pada saat itu sudah meninggal. Beberapa kali mencoba untuk bekerja namun tidak lama. Pekerjaan itu tak seirama dengan jiwa seniman saya,” ujar alumni MA Baitul Muttaqin desa Glagah, Kecamatan Pakuniran tersebut.

Lagu telah yang ditulis dan dinyanyikannya sendiri telah di-posting sebagian di channel YouTube miliknya. Atok sendiri membuat channel-nya terbilang masih baru. Yakni saat dia banyak nganggur selama pandemi.

Puluhan lagi yang ia ciptakan itu mayoritas diambil dari kisah nyata. Bahkan, lagu Griduh Vaksin itu sendiri diambil di dalam desanya. Saat itu warga di desanya menutup pintu saat hebohnya kabar vaksin telah tiba di Indonesia.

“Pembuatan lirik dan lagu Griduh Vaksin hingga selesai videonya itu sekitar 3 hari. Videonya diambil di rumah tetangga desa. Jadi memang benar terjadi,” ujarnya.

Atok mengakui, di setiap lagu yang diciptakannya, dia sematkan guyonan dan edukasi. Hal itu juga diberikan pada lagu Griduh Vaksin. Misal pada lirik lagunya yang berbunyi,”Rakyat riah eyobu, tak epateknah tak epebuduh (Rakyat ini diperhatikan, tidak mau dibunuh, bukan mau dibodoh-bodohi, Red).”

Selain itu, lirik lainnya yang meminta kepada pemerintah agar menjelaskan dengan jelas perihal vaksinasi ini. Meminta pemerintah untuk menerangkan sejelas-jelasnya soal vaksin. “Buatlah masyarakat mengerti, vaksin ini bertujuan untuk mencegah penyebaran virus korona,” beber dia.

Di lirik lainnya Atok juga menekankan untuk tidak mendengarkan berita-berita hoax di media sosial dan dari mulut ke mulut. Sebab hoax banyak menyesatkan.

“Saya ambil bahasa Madura sebab mudah dipahami oleh khalayak umum, khususnya warga Jawa Timur. Dalam syairnya, lagu ini diharapkan bisa mengedukasi masyarakat tentang vaksin.

Hingga akhir bulan ini, Atok berencana akan kembali memposting dua lagu lainnya. Salah satunya berjudul Oreng Probolinggo.

Genre musik yang saya geluti adalah pop, dangdut dan slow rock. Hingga akhir Januari akan ada lagu yang akan rilis lagi. Nanti bisa di lihat di channel YouTube saya langsung,” ujarnya.

Selain bergeliat di dunia musik, Atok juga aktivis di berbagai lembaga swadaya masyarakat. Dia juga penggerak Komunitas Dangdut Probolinggo (KDP) pernah melakukan audiensi ke gedung DPRD Kabupaten Probolinggo.

“Di sana kami meminta solusi perihal nasib para seniman yang ada di Probolinggo. Sebab, pada masa pandemi ini para seniman sangat tergangu lahan pendapatannya. Selain lagu percintaan dan nilai kehidupan. Lagu-lagu saya juga ada yang mengkritik pemerintah. Intinya semua lagu yang saya ciptakan itu murni dari apa yang terjadi, baik pada pemerintahan dan masyarakat,” ujarnya. (mu/fun)

Tak sedikit seniman yang berkreasi saat wabah Covid-19 berlangsung. Termasuk Tatok Jenny Hanggara, seniman musik di Kotaanyar. Pencipta lagu ini baru saja mengeluarkan lagu menggellitik, yang menggambarkan realita tentang vaksin Covid-19.

————————

SETIYAH griduh vaksin. Vaksin eyanggep din dedin. Gub bedeh kaber suntigen, pas dulien notop labeng,”

Begitu penggalan lagu berjudul ‘Griduh Vaksin’ ciptaan Tatok Jenny Hanggara. Pria 30 tahun yang kerap disapa Raden Hanggara ini menciptakan lagu yang bertemakan soal vaksin Covid-19, dengan lirik bahasa Madura. Kini lagu tersebut cukup populer di Probolinggo.

Saat berkunjung ke rumahnya di RT 2/RW 1, Desa Triwungan, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo, Senin (25/1) lalu, kebetulan sedang hujan. Saat itu di dalam rumah, terlihat seorang lelaki sedang ngobrol di teras. Tak lama kemudian, dia masuk ke dalam rumah dan mengambil gitar. Dialah Tatok Jenny Hanggara.

Dia lantas menggenjreng gitar kesayangannya. Syair dalam bahasa Madura pun mengalun lancar. Jenaka namun mengena di hati.

Tatok Jenny Hanggara sejatinya sudah bertahun tahun menggeluti dunia tarik suara dan penulis lagu. Salah satu lagunya yang berjudul “Tak Nyaman” bahkan pernah dibawakan salah satu artis bintang pulau garam Madura, Fatim Zain. Lagu itu beraliran genre dangdut.

Tak hanya itu, Boby Berliandika, salah satu peserta X Factor Indonesia yang masuk 14 belas besar pada 2015 silam, juga pernah membawakan lagunya yang berjudul “Korban Keegoisan.”

Saat ditanya, apakah dia mendapat royalti dari lagu-lagu tersebut, dia hanya tertawa. Sebab rata-rata lagu ciptaannya yang dinyanyikan, hanya dibayar harga teman. Meskipun itu dinyanyikan oleh artis.

PENCIPTA LAGU: Gaya Atok saat menyanyi sambil menggenjreng gitarnya. (Foto: Istimewa)

“Lebih dari 50 lagu sudah saya ciptakan. Sebagian sudah dibawakan oleh beberapa artis,” ujar lelaki yang akrab dipanggil Atok tersebut.

Bakat menyanyi Atok muncul dari saat masih belia. Melihat potensi terbut, almarhum ayahnya Suparman, mendukung bakat yang dimiliki oleh anaknya tersebut.

Pada 1995, Atok yang memakai anting di telinga kanannya ini, pernah didatangi salah satu produser dari Jakarta. Produser tersebut sempat ingin membawa dirinya untuk dibina agar dapat fokus bergelut di dunia tarik suara tersebut. Tapi waktu itu karena dia masih kecil, orang tuanya tak mengizinkan.

Baru di tahun 2012-2013, Atok kembali mencoba peruntungan. Dia bersama salah seorang teman untuk ke Jakarta untuk mencari produser. Iapun berangkat ke Jakarta. Di ibukota, dia ditampung oleh salah atu Banom Organisasi Kemasyarakatan NU, Yakni Ansor Pusat.

Saat berada di Jakarta, biaya hidup Atok di sana ditanggung oleh rekan-rekan Ansor. Namun nasibnya tak mujur. Berbulan bulan di sana ia tak kunjung menemukan produser yang mau untuk mempromosikan atau merilis lagu-lagunya. Alhasil untuk memenuhi kebutuhan lainnya ia harus mencari pekerjaan di Jakarta. Mulai dari, menjadi satpam sampai pekerjaan lainnya dilakukan. Hingga pada tahun 2013 ia kembali pulang ke kampung halaman.

“Sempat di minggu-minggu terakhir di Jakarta, saya dikenalkan dengan Farhat Abas (lawyer yang juga produser musik, Red). Saya menawarkan lagu-lagu ke beliau. Rencananya sudah mau ke dapur rekaman, namun pada saat itu Farhat Abas sepertinya memiliki masalah dan ya tidak jadi pada akhirnya. Saya tidak masalah pada waktu itu, dan memilih pulang,” ujarnya

Walau begitu, Atok tak patah arang. Dia tetap menulis lagu. Sebab menjadi seniman sudah menjadi pekerjaan baginya. Dalam perjalanan hidupnya ia sudah merasakan banyak sekali pengalaman.

Namun begitu, pekerjaan yang dilakoninya tidak pernah sampai lama. Misal seperti menjadi tukang bangunan, ikut proyek di salah satu perusahaan sebagai tenaga kasar, dan menjadi seorang nelayan.

“Dari sejak Madrasah Aliyah (MA) memang sudah sering ngamen untuk mengisi kesenggangan dan menambah uang jajan pasa saat itu. Sebab ayah pada saat itu sudah meninggal. Beberapa kali mencoba untuk bekerja namun tidak lama. Pekerjaan itu tak seirama dengan jiwa seniman saya,” ujar alumni MA Baitul Muttaqin desa Glagah, Kecamatan Pakuniran tersebut.

Lagu telah yang ditulis dan dinyanyikannya sendiri telah di-posting sebagian di channel YouTube miliknya. Atok sendiri membuat channel-nya terbilang masih baru. Yakni saat dia banyak nganggur selama pandemi.

Puluhan lagi yang ia ciptakan itu mayoritas diambil dari kisah nyata. Bahkan, lagu Griduh Vaksin itu sendiri diambil di dalam desanya. Saat itu warga di desanya menutup pintu saat hebohnya kabar vaksin telah tiba di Indonesia.

“Pembuatan lirik dan lagu Griduh Vaksin hingga selesai videonya itu sekitar 3 hari. Videonya diambil di rumah tetangga desa. Jadi memang benar terjadi,” ujarnya.

Atok mengakui, di setiap lagu yang diciptakannya, dia sematkan guyonan dan edukasi. Hal itu juga diberikan pada lagu Griduh Vaksin. Misal pada lirik lagunya yang berbunyi,”Rakyat riah eyobu, tak epateknah tak epebuduh (Rakyat ini diperhatikan, tidak mau dibunuh, bukan mau dibodoh-bodohi, Red).”

Selain itu, lirik lainnya yang meminta kepada pemerintah agar menjelaskan dengan jelas perihal vaksinasi ini. Meminta pemerintah untuk menerangkan sejelas-jelasnya soal vaksin. “Buatlah masyarakat mengerti, vaksin ini bertujuan untuk mencegah penyebaran virus korona,” beber dia.

Di lirik lainnya Atok juga menekankan untuk tidak mendengarkan berita-berita hoax di media sosial dan dari mulut ke mulut. Sebab hoax banyak menyesatkan.

“Saya ambil bahasa Madura sebab mudah dipahami oleh khalayak umum, khususnya warga Jawa Timur. Dalam syairnya, lagu ini diharapkan bisa mengedukasi masyarakat tentang vaksin.

Hingga akhir bulan ini, Atok berencana akan kembali memposting dua lagu lainnya. Salah satunya berjudul Oreng Probolinggo.

Genre musik yang saya geluti adalah pop, dangdut dan slow rock. Hingga akhir Januari akan ada lagu yang akan rilis lagi. Nanti bisa di lihat di channel YouTube saya langsung,” ujarnya.

Selain bergeliat di dunia musik, Atok juga aktivis di berbagai lembaga swadaya masyarakat. Dia juga penggerak Komunitas Dangdut Probolinggo (KDP) pernah melakukan audiensi ke gedung DPRD Kabupaten Probolinggo.

“Di sana kami meminta solusi perihal nasib para seniman yang ada di Probolinggo. Sebab, pada masa pandemi ini para seniman sangat tergangu lahan pendapatannya. Selain lagu percintaan dan nilai kehidupan. Lagu-lagu saya juga ada yang mengkritik pemerintah. Intinya semua lagu yang saya ciptakan itu murni dari apa yang terjadi, baik pada pemerintahan dan masyarakat,” ujarnya. (mu/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/