Murdiono, Pelukis Spesialis Grafir Potret Granit yang Sering Dapat Pesanan untuk Makam

Melukis di atas media batu granit memiliki tantangan tersendiri bagi Mujiono, 36. Selain sulit, butuh ketelatenan saat membuatnya. Apalagi jika Mujiono mendapat request, seperti potret wajah seseorang.

RIZAL FAHMI SYATORI, Purwosari

Rumitnya melukis di atas batu ganit terlihat saat Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi kediaman Mujiono di Dusun Sumberyudo, Desa Cendono, Kecamatan Purwosari. Pelan-pelan dia menggambar wajah seseorang di atas batu yang permukannya licin tersebut.

BUTUH KETELATENAN: Mujiono saat menyelesaikan karya lukisannya. (Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Dengan sentuhan tangannya, sebuah batu granit yang permukaannya berwarna hitam mengkilat dan berbentuk persegi empat, begitu indah disulap menjadi lukisan. Objek berupa potret close up wajah seseorang, sangat mirip dengan foto kedua orang tuanya.

Foto itu Mujiono tampilkan bersamaan media ini berkunjung ke rumahnya Minggu pagi (27/1). “Barang yang saya buat ini lukisan grafir foto granit. Yakni, melukis dengan teknik grafir, objeknya foto orang, dilukis di atas batu granit sebagai medianya,” cetus Dion -sapaan akrabnya-.

Pria kelahiran Semarang, Jateng, yang kini tinggal di Desa Cendono tersebut sejak SD memang sudah gemar menggambar. Selepas lulus SMK, dia merantau ke Surabaya. Semenjak itulah dia menjadi pelukis profesional.

Semua lukisan tersebut, ia kerjakan dan buat di rumahnya. Mujiono mengaku, dia kerap melukis di salah satu kamar yang disulapnya menjadi studio.

Lukisan Mujiono tidak di atas kanvas. Melainkan di atas kertas dan kaca. Kemudian mulai 2010, beralih ke lukisan grafir potret granit yang ditekuninya hingga sekarang.

“Awalnya coba-coba, setelah dapat masukan dari salah seorang teman di Lawang, Malang. Ternyata asyik dan belum banyak orang yang tekuni lukisan semacam ini. Akhirnya fokus di lukisan ini,” beber suami Cahyanis Solihah tersebut.

Bapak satu anak ini menyebutkan, untuk lukisan grafir potret granit yang ia buat, tidak menggunakan alat mesin grafir pada umumnya. Tetapi, ia kerjakan manual dengan tangan dan alatnya pun sederhana. Berupa batangan baja yang ujungnya dilancipkan. “Baja ini berfungsi semacam sebuah pahat untuk kayu,” imbuhnya.

Bahan baku batu granit, ia beli dari pabrik yang ada di Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Saat membeli masih berupa lembaran. Sesampainya di rumah, granit itu dipotong-potong dibentuk ukuran yang sesuai diinginkannya.

“Melukisnya butuh ketelitian sekaligus kesabaran. Karena ini beda dengan lukisan tangan pada umumnya. Caranya buat titik kecil menggunakan batang baja yang sudah dilancipkan, hingga membentuk gambar atau objek,” cetusnya.

Selain lukis grafir potret granit, ia juga melukis gambar dewa-dewa, juga dilukisnya di atas granit. Umumnya lukisan dewa-dewa ini dibuat oleh pemesan untuk batu nisan di makam Tiongkok atau bong.

“Pemesan dan sekaligus pelanggannya selama ini dari beberapa jasa pemakaman. Seperti di Lawang, Beji, Purwosari. Juga Surabaya, Malang, hingga kota-kota di Kalimantan. Tinggal kirim potret foto objeknya sekaligus ukurannya. Baru membuatnya,” ucap penyuka masakan Padang ini.

Karena orderan tiap harinya ada, hampir tiap hari dia juga buat lukisan jenis ini. Ia pilih fokus menjadi pelukis grafir potret granit sebagai pekerjaan utamanya.

“Keluarga di rumah mendukung, utamanya istri. Apalagi juga menghasilkan. Saya menikmati dan enjoy menjadi pelukis spesialis grafir foto granit,” ujarnya. (fun)