alexametrics
25.8 C
Probolinggo
Monday, 23 May 2022

Inilah Kerajinan Batik Tulis Kali Gembong Khas Kota Pasuruan yang Punya Motif Sirih dan Kepodang

DUA perempuan sibuk membentangkan kain di depannya. Sesekali diselingi senda gurau, meski kedua tangan mereka tak beranjak mewarnai kain putih di hadapannya.

Kesibukan itu tersaji di ruang tamu rumah Ana Fitriyah di Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo. Dia adalah salah seorang perajin batik di Kota Pasuruan.

TERUS DIKEMBANGKAN: Batik kali Gembong ini memiliki motif sirih dan kepodang. (Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Pagi itu, Fitri –sapaan akrab Ana Fitriyah- tengah menyelesaikan pewarnaan kain batik pesanan. Atau dalam istilah umumnya disebut nyanting. Demi mempercepat garapan, dia juga dibantu seorang tetangganya yang belum lama belajar nyanting.

Kecintaannya dengan batik boleh dibilang sebuah kebetulan. Betapa tidak, Fitri dulunya hanya tahu kain batik yang sudah jadi. Sama sekali tak mengerti bagaimana proses pembuatannya yang rumit.

Pada 2012, ia tergerak mengikuti pelatihan membatik yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pasuruan. Pelatihan yang diikuti mulai dari tingkat kelurahan itu, kemudian mengantar Fitri berkunjung ke Balai Besar Kerajinan Batik di Jogjakarta.

Fitri menjadi salah satu dari delapan orang yang berangkat ke sana. Hasil cantingan batik yang cukup rapi menjadi alasan Fitri terpilih mewakili kotanya. Meski saat itu, Fitri butuh waktu lama untuk nyanting. Jika perajin umumnya bisa nyanting empat lembar kain dalam seminggu, Fitri hanya mampu menyelesaikan dua lembar kain saja.

“Karena memang masih baru. Prinsip saya tidak apa meski agak lama. Yang penting hasilnya memuaskan. Karena nyanting itu harus telaten dan sabar,” katanya membuka percakapan dengan media ini.

Lambat laun Fitri semakin serius nyanting kain batik. Ia yang kini menjadi anggota Koperasi Batik Tulis Kali Gembong itu bisa nyanting enam lembar kain batik dalam sepekan. “Mungkin sudah terlalu sering. Jadi saat nyanting mengikuti gambar pensil di kain itu tangan saya tergerak sendiri,” ujarnya.

Ya, proses nyanting memang harus sesuai dengan motif yang digambar halus menggunakan pensil di lembaran kain. Namun, coraknya kebanyakan tak begitu gamblang. Nah, tugas Fitri untuk menajamkan karakter dari motif yang digambar itu.

Misalnya saja, ada beberapa motif batik pesanan dengan desain serupa. Corak yang dihasilkan saat nyanting tentu akan berbeda. Yang paling sering dijumpai yakni motif daun karena batik Kali Gembong memang menonjolkan daun sirih dan burung kepodang sebagai ciri khas Kota Pasuruan.

“Kalau di gambarnya kan hanya daun saja. Tapi saat nyanting harus ada serat-seratnya di tengah, itu tiap orang pasti beda-beda hasilnya. Ada yang lengkungannya halus atau kaku,” bebernya.

Setelah nyanting selesai, lembaran kain itu diserahkan ke perajin lain untuk disolet atau diwarnai detailnya. Selanjutnya, mewarnai dasar kain.

Prosesnya juga tak sembarangan. Motif batik yang telah dicanting dan diwarnai secara detail, ditutup menggunakan malam. Lalu kain dicelupkan dalam cairan pewarna.

Ketua Koperasi Batik Tulis Kali Gembong Isbandi mengaku anggotanya kini telah berkisar 15 orang. Dulu sempat mencapai 20 orang, namun sebagian telah memproduksi batik sendiri.

Semua batik Kali Gembong memang tak akan menghilangkan motif daun sirih dan burung kepodang. Sebab, dirinya juga berharap Kota Pasuruan dapat dikenal khalayak melalui batik yang dihasilkan.

Selama proses pembuatannya, batik Kali Gembong juga disebut ramah lingkungan. Sebab, limbah dari cairan pewarna dinilai tak berbahaya meskipun dibuang ke permukaan tanah. Bahkan ke tanaman.

“Kami pakai warna indigozol, remazol, dan warna alam. Jadi, limbahnya aman ketika dibuang ke tanaman juga tidak bahaya,” jelasnya.

Disematkannya nama Kali Gembong dalam batik yang diproduksi Isbandi dan perajin lainnya, bukan tanpa alasan. Isbandi sendiri mengaku dirinya sempat berpikir untuk memberi nama Batik Harmoni. Merujuk nama gedung peninggalan kolonial di Jalan Pahlawan. Namun, niatnya diurungkan.

“Teman saya budayawan, almarhum Sukarno menyarankan agar pakai nama Kali Gembong,” ucapnya. Kali Gembong merupakan sungai yang membentang di pusat Kota Pasuruan dari ujung selatan hingga ke muara samudera.

“Akhirnya kami sepakat pakai nama Kali Gembong. Dengan harapan, rezeki perajinnya juga terus mengalir seperti air,” bebernya.

Kini, batik-batik yang diproduksi perajin itu telah sampai di beberapa daerah. Mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, hingga Kalimantan. “Sempat ada yang tanya seolah tak percaya. Apa Pasuruan punya batik?” kata Isbandi menirukan ucapan seseorang yang kini telah menjadi pelanggannya itu. (tom/fun)

DUA perempuan sibuk membentangkan kain di depannya. Sesekali diselingi senda gurau, meski kedua tangan mereka tak beranjak mewarnai kain putih di hadapannya.

Kesibukan itu tersaji di ruang tamu rumah Ana Fitriyah di Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo. Dia adalah salah seorang perajin batik di Kota Pasuruan.

TERUS DIKEMBANGKAN: Batik kali Gembong ini memiliki motif sirih dan kepodang. (Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Pagi itu, Fitri –sapaan akrab Ana Fitriyah- tengah menyelesaikan pewarnaan kain batik pesanan. Atau dalam istilah umumnya disebut nyanting. Demi mempercepat garapan, dia juga dibantu seorang tetangganya yang belum lama belajar nyanting.

Kecintaannya dengan batik boleh dibilang sebuah kebetulan. Betapa tidak, Fitri dulunya hanya tahu kain batik yang sudah jadi. Sama sekali tak mengerti bagaimana proses pembuatannya yang rumit.

Pada 2012, ia tergerak mengikuti pelatihan membatik yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pasuruan. Pelatihan yang diikuti mulai dari tingkat kelurahan itu, kemudian mengantar Fitri berkunjung ke Balai Besar Kerajinan Batik di Jogjakarta.

Fitri menjadi salah satu dari delapan orang yang berangkat ke sana. Hasil cantingan batik yang cukup rapi menjadi alasan Fitri terpilih mewakili kotanya. Meski saat itu, Fitri butuh waktu lama untuk nyanting. Jika perajin umumnya bisa nyanting empat lembar kain dalam seminggu, Fitri hanya mampu menyelesaikan dua lembar kain saja.

“Karena memang masih baru. Prinsip saya tidak apa meski agak lama. Yang penting hasilnya memuaskan. Karena nyanting itu harus telaten dan sabar,” katanya membuka percakapan dengan media ini.

Lambat laun Fitri semakin serius nyanting kain batik. Ia yang kini menjadi anggota Koperasi Batik Tulis Kali Gembong itu bisa nyanting enam lembar kain batik dalam sepekan. “Mungkin sudah terlalu sering. Jadi saat nyanting mengikuti gambar pensil di kain itu tangan saya tergerak sendiri,” ujarnya.

Ya, proses nyanting memang harus sesuai dengan motif yang digambar halus menggunakan pensil di lembaran kain. Namun, coraknya kebanyakan tak begitu gamblang. Nah, tugas Fitri untuk menajamkan karakter dari motif yang digambar itu.

Misalnya saja, ada beberapa motif batik pesanan dengan desain serupa. Corak yang dihasilkan saat nyanting tentu akan berbeda. Yang paling sering dijumpai yakni motif daun karena batik Kali Gembong memang menonjolkan daun sirih dan burung kepodang sebagai ciri khas Kota Pasuruan.

“Kalau di gambarnya kan hanya daun saja. Tapi saat nyanting harus ada serat-seratnya di tengah, itu tiap orang pasti beda-beda hasilnya. Ada yang lengkungannya halus atau kaku,” bebernya.

Setelah nyanting selesai, lembaran kain itu diserahkan ke perajin lain untuk disolet atau diwarnai detailnya. Selanjutnya, mewarnai dasar kain.

Prosesnya juga tak sembarangan. Motif batik yang telah dicanting dan diwarnai secara detail, ditutup menggunakan malam. Lalu kain dicelupkan dalam cairan pewarna.

Ketua Koperasi Batik Tulis Kali Gembong Isbandi mengaku anggotanya kini telah berkisar 15 orang. Dulu sempat mencapai 20 orang, namun sebagian telah memproduksi batik sendiri.

Semua batik Kali Gembong memang tak akan menghilangkan motif daun sirih dan burung kepodang. Sebab, dirinya juga berharap Kota Pasuruan dapat dikenal khalayak melalui batik yang dihasilkan.

Selama proses pembuatannya, batik Kali Gembong juga disebut ramah lingkungan. Sebab, limbah dari cairan pewarna dinilai tak berbahaya meskipun dibuang ke permukaan tanah. Bahkan ke tanaman.

“Kami pakai warna indigozol, remazol, dan warna alam. Jadi, limbahnya aman ketika dibuang ke tanaman juga tidak bahaya,” jelasnya.

Disematkannya nama Kali Gembong dalam batik yang diproduksi Isbandi dan perajin lainnya, bukan tanpa alasan. Isbandi sendiri mengaku dirinya sempat berpikir untuk memberi nama Batik Harmoni. Merujuk nama gedung peninggalan kolonial di Jalan Pahlawan. Namun, niatnya diurungkan.

“Teman saya budayawan, almarhum Sukarno menyarankan agar pakai nama Kali Gembong,” ucapnya. Kali Gembong merupakan sungai yang membentang di pusat Kota Pasuruan dari ujung selatan hingga ke muara samudera.

“Akhirnya kami sepakat pakai nama Kali Gembong. Dengan harapan, rezeki perajinnya juga terus mengalir seperti air,” bebernya.

Kini, batik-batik yang diproduksi perajin itu telah sampai di beberapa daerah. Mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, hingga Kalimantan. “Sempat ada yang tanya seolah tak percaya. Apa Pasuruan punya batik?” kata Isbandi menirukan ucapan seseorang yang kini telah menjadi pelanggannya itu. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/