Dari Kain Bekas, Warga Kepulungan Ini Buat Pot Tanaman Bernilai Rupiah

Apa yang dilakukan Ruslan Ibrahim cukup kreatif. Warga Kepulungan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, ini memanfaatkan kain bekas untuk dijadikan pot tanaman. Dari kreasinya, ia bisa menambah penghasilan keluarga.

——————–

Beberapa pot bunga berjejer rapi di sebuah rak di depan rumah. Pot-pot itu sengaja dipajang untuk menarik minat pembeli. Bentuknya beragam. Mulai dari persegi, bundar, dan berbagai bentuk lainnya.

Pot berbahan baku pasir dan semen itu merupakan kreasi dari Ruslan Ibrahim. Menariknya, selain menggunakan bahan campuran semen dan pasir, ada pula yang menggunakan kain. Pot itulah yang dinamainya pot kain.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di rumahnya, Ruslan sedang sibuk mengecat pot kain buatannya. Pot kain itu sengaja dicat untuk mempercantik penampilannya. “Butuh waktu tak sampai satu jam kalau untuk pengecatan,” kata Ruslan.

Lelaki 51 tahun ini mengaku menekuni kerajinan pembuatan pot kain setahun belakangan. Idenya bermula dari banyaknya kain bekas yang dimilikinya. Selama ini, kain-kain dari kaus, baju, dan berbagai kain lainnya itu kerap dibuangnya. Jika pun digunakan, maka hanya untuk lap.

Hingga pada 2019, ada temannya di Bandung membuat pot dari kain. “Hasilnya bagus. Saya kemudian tertarik untuk membuatnya juga,” ujar lelaki yang sebelumnya tinggal di Jakarta sejak 1982 itu.

Berangkat dari situlah, ia mencoba berkreasi sendiri. Kreasi itu mulai ditekuninya saat berada di Kepulungan, Kecamatan Gempol, tempat tinggalnya saat ini.

Mulanya, memang tak mudah. Ia sempat gagal dua kali saat uji coba. Kegagalan terjadi karena kain yang digunakan cenderung licin. Sehingga, tidak bisa menyatu dengan campuran semen dan pasir yang telah diaduknya.

“Saya memang tinggal di Jakarta. Dan setahun terakhir saya pulang ke Pasuruan. Awal membuat kerajinan pot kain ini sangat susah. Dua kali gagal lantaran campuran semen dengan pasirnya merotol saat disatukan dengan kain,” kenang bapak enam anak ini.

Kegagalan itu tak membuatnya patah arang. Ia kemudian mengganti kain yang digunakan dengan kain handuk. Kain tersebut tidak licin, sehingga diyakininya bisa lebih baik.

Rupanya, perhitungannya benar. Rontoknya campuran semen yang semula digunakan, tidak lagi terjadi. Karena kain handuk yang direndamnya dengan campuran semen bisa padat.

“Campuran semennya tidak rontok saat dijemur. Selama 24 jam dijemur, pot kain itu akhirnya padat dan jadi,” sambung lelaki yang bekerja sebagai pedagang makanan tersebut.

Dari situ, ia semakin bersemangat. Sehari dia bisa membuat 10 pot kain. Pot-pot kain buatannya itu dipasarkannya ke wilayah Gempol.

Setiap pot dihargai Rp 30 ribu hingga Rp 45 ribu. Tergantung besar kecilnya pot yang dibuat. “Pasarnya baru sekitaran Gempol. Dua bulan, saya bisa menjual 40 unit,” beber suami dari Lilis ini.

Untuk membuat pot kain, sebenarnya tidak begitu susah. Tinggal mencampurkan semen dan pasir disertai air. Selanjutnya, rendam kain pada campuran semen tersebut. Begitu terendam, kain kemudian diangkat dan dicetak pada timba, ember, atau barang lainnya.

Butuh waktu 24 jam untuk pengeringan. Setelah kering, baru cetakan pot yakni ember atau timba diambil. “Selanjutnya tinggal perapian dan pengecatan,” ulas Ruslan yang dulunya bekerja sebagai pengawas bangunan di Jakarta ini.

Kini, usahanya dikembangkan tidak hanya membuat pot bunga kain. Ia juga membuat pot bunga dari semen dengan berbagai model yang lain. “Tidak hanya pot kain yang kini saya buat. Tetapi pot semen dengan model lain,” beber dia. (one/hn/fun)