alexametrics
26.9 C
Probolinggo
Friday, 1 July 2022

Mengunjungi Kampung Muslim di Lereng Gunung Bromo

Warga Tengger di lereng Gunung Bromo sangat dikenal dengan kerukunan dan keguyubannya. Tidak hanya antarwarga Hindu Tengger. Namun, juga dengan warga muslim yang jadi minoritas di sana. Bulan Ramadan pun menjadi bulan yang makin menempa kerukunan itu.

ARIF MASHUDI, Sukapura, Radar Bromo

Jarum pendek menunjuk ke angka empat, hari itu. Cahaya matahari sore masih terang bersinar. Namun, udara mulai terasa dingin.  Suasana lengang mengiringi perjalanan Jawa Pos Radar Bromo menuju Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura.

Sampai di Desa Wonokerto, langkah kaki ini berhenti di Musala Al Ikhlas Wal Barokah, di tengah desa. Pemandangan di dalamnya langsung bikin adem.

Bukan karena bangunan musala yang unik. Struktur dinding bangunan memakai kayu cemara. Dengan lapisan dinding dari gedek atau anyaman bambu di bagian dalamnya. Bentuk musala seperti kubus, menyerupai bentuk bangunan Kakbah. Nuansa cokelat pun mendominasi. Makin membuat suasana terasa teduh.

Musala itu dibangun dengan cara swadaya oleh warga sekitar. Sedangkan lahannya wakaf dari keluarga almarhum Sumarjono, warga setempat.

Di musala itu, puluhan anak usia SD sampai SMP tengah khusyuk mengaji. Di sini pula, mereka menghabiskan waktu senja saat Ramadan. Sambil menunggu azan Magrib tiba, canda tawa terdengar dari mereka yang sudah mendapat giliran mengaji.

Di depan mereka, ada Ustad Muhammad Muhibbin yang membimbing tiap anak mengaji. Warga asal Pasuruan yang juga alumni Pesantren Sidogiri Pasuruan itu sudah sekitar 7 tahun bermukim dan mengajar ngaji di desa setempat.

“Dengan mengaji di musala ini, kami berharap anak-anak menjadi pionir suri tauladan bagi generasi berikutnya. Terutama dalam menyampaikan siar Islam yang rahmatan lil alamin,” kata Ustad Muhibbin.

Seperti itulah suasana di Kampung Muslim di Dusun Krajan, Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura. Kampung yang berdiri di antara mayoritas warga Hindu Tengger di Sukapura.

Desa Wonokerto sendiri ada di antara Desa Ngadirejo dan Ngadas. Warganya 100 persen umat muslim. Sedangkan warga Desa Ngadirejo dan Ngadas, merupakan penganut agama Hindu. Sama dengan desa-desa lain di Sukapura.

Meski menjadi minoritas, hubungan warga muslim dan Hindu di Sukapura sangat terjaga. Terutama hubungan warga Muslim di Desa Wonokerto dengan warga Hindu di desa-desa sekitar. Mereka saling menghormati, menghargai, dan menjaga keharmonisan satu sama lain.

Nyaris tidak ada gesekan antarwarga, meski menganut agama berbeda. Bahkan saat memperingati sejumlah hari besar keagamaan, warga yang berbeda agama bekerja sama untuk memeriahkan peringatan agama saat itu.

Selama bulan Ramadan, nilai perikehidupan khas suku Tengger yang rukun dan guyub pun makin kuat ditempa. Tiap sore anak-anak di Desa Wonokerto mengaji di musala, sambil menunggu waktu berbuka.

Namun, selepas mengaji mereka tidak pulang. Menjelang azan Magrib, anak-anak itu menuju rumah seorang warga. Bukan untuk main, melainkan untuk berbuka.

Ya, buka bersama diadakan di rumah warga secara bergantian selama Ramadan. Sudah ada jadwal yang mengatur buka bersama tiap harinya.

“Mereka selepas mengaji langsung buka bersama di rumah warga yang telah dijadwal. Karena buka bersama para santri itu diadakan di rumah warga secara bergantian bukan di musala,” kata Sugeng Laksono, salah satu wali santri di musala tersebut.

Menurut Sugeng, masyarakat lebih senang dan mendukung anak-anaknya mengaji di musala. Sehingga, tiap sore dipastikan mereka mengaji di musala.

Selepas buka bersama, salat tarawih dilaksanakan di Masjid Al Hidayah di Wonokerto. Kemudian, anak-anak itu kembali ke Musala Al Ikhlas Wal Barokah untuk tadarus.

“Meskipun muslim di sini termasuk minoritas, kegiatan ibadah ataupun kegiatan lain berjalan damai,” ujarnya.

Menurutnya, guyub dan rukun sudah menjadi nilai perikehidupan bagi warga Tengger. Apapun agamanya. Baik Hindu yang merupakan mayoritas atau muslim sebagai minoritas.

Saat warga Hindu Tengger memperingati Hari Raya Nyepi atau Karo, keluarga muslim di kampung tersebut pun memberikan dukungan. Sebaliknya, saat Ramadan dan Idul Fitri, umat Hindu Tengger pun menghormati.

“Saat hari raya Idul Fitri warga Hindu Tengger ikut bersilaturahmi ke rumah warga muslim sebagai bentuk menghormati Idul Fitri. Jadi, warga muslim walau minoritas tetap merasa nyaman dan tenang,” katanya. (hn)

Warga Tengger di lereng Gunung Bromo sangat dikenal dengan kerukunan dan keguyubannya. Tidak hanya antarwarga Hindu Tengger. Namun, juga dengan warga muslim yang jadi minoritas di sana. Bulan Ramadan pun menjadi bulan yang makin menempa kerukunan itu.

ARIF MASHUDI, Sukapura, Radar Bromo

Jarum pendek menunjuk ke angka empat, hari itu. Cahaya matahari sore masih terang bersinar. Namun, udara mulai terasa dingin.  Suasana lengang mengiringi perjalanan Jawa Pos Radar Bromo menuju Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura.

Sampai di Desa Wonokerto, langkah kaki ini berhenti di Musala Al Ikhlas Wal Barokah, di tengah desa. Pemandangan di dalamnya langsung bikin adem.

Bukan karena bangunan musala yang unik. Struktur dinding bangunan memakai kayu cemara. Dengan lapisan dinding dari gedek atau anyaman bambu di bagian dalamnya. Bentuk musala seperti kubus, menyerupai bentuk bangunan Kakbah. Nuansa cokelat pun mendominasi. Makin membuat suasana terasa teduh.

Musala itu dibangun dengan cara swadaya oleh warga sekitar. Sedangkan lahannya wakaf dari keluarga almarhum Sumarjono, warga setempat.

Di musala itu, puluhan anak usia SD sampai SMP tengah khusyuk mengaji. Di sini pula, mereka menghabiskan waktu senja saat Ramadan. Sambil menunggu azan Magrib tiba, canda tawa terdengar dari mereka yang sudah mendapat giliran mengaji.

Di depan mereka, ada Ustad Muhammad Muhibbin yang membimbing tiap anak mengaji. Warga asal Pasuruan yang juga alumni Pesantren Sidogiri Pasuruan itu sudah sekitar 7 tahun bermukim dan mengajar ngaji di desa setempat.

“Dengan mengaji di musala ini, kami berharap anak-anak menjadi pionir suri tauladan bagi generasi berikutnya. Terutama dalam menyampaikan siar Islam yang rahmatan lil alamin,” kata Ustad Muhibbin.

Seperti itulah suasana di Kampung Muslim di Dusun Krajan, Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura. Kampung yang berdiri di antara mayoritas warga Hindu Tengger di Sukapura.

Desa Wonokerto sendiri ada di antara Desa Ngadirejo dan Ngadas. Warganya 100 persen umat muslim. Sedangkan warga Desa Ngadirejo dan Ngadas, merupakan penganut agama Hindu. Sama dengan desa-desa lain di Sukapura.

Meski menjadi minoritas, hubungan warga muslim dan Hindu di Sukapura sangat terjaga. Terutama hubungan warga Muslim di Desa Wonokerto dengan warga Hindu di desa-desa sekitar. Mereka saling menghormati, menghargai, dan menjaga keharmonisan satu sama lain.

Nyaris tidak ada gesekan antarwarga, meski menganut agama berbeda. Bahkan saat memperingati sejumlah hari besar keagamaan, warga yang berbeda agama bekerja sama untuk memeriahkan peringatan agama saat itu.

Selama bulan Ramadan, nilai perikehidupan khas suku Tengger yang rukun dan guyub pun makin kuat ditempa. Tiap sore anak-anak di Desa Wonokerto mengaji di musala, sambil menunggu waktu berbuka.

Namun, selepas mengaji mereka tidak pulang. Menjelang azan Magrib, anak-anak itu menuju rumah seorang warga. Bukan untuk main, melainkan untuk berbuka.

Ya, buka bersama diadakan di rumah warga secara bergantian selama Ramadan. Sudah ada jadwal yang mengatur buka bersama tiap harinya.

“Mereka selepas mengaji langsung buka bersama di rumah warga yang telah dijadwal. Karena buka bersama para santri itu diadakan di rumah warga secara bergantian bukan di musala,” kata Sugeng Laksono, salah satu wali santri di musala tersebut.

Menurut Sugeng, masyarakat lebih senang dan mendukung anak-anaknya mengaji di musala. Sehingga, tiap sore dipastikan mereka mengaji di musala.

Selepas buka bersama, salat tarawih dilaksanakan di Masjid Al Hidayah di Wonokerto. Kemudian, anak-anak itu kembali ke Musala Al Ikhlas Wal Barokah untuk tadarus.

“Meskipun muslim di sini termasuk minoritas, kegiatan ibadah ataupun kegiatan lain berjalan damai,” ujarnya.

Menurutnya, guyub dan rukun sudah menjadi nilai perikehidupan bagi warga Tengger. Apapun agamanya. Baik Hindu yang merupakan mayoritas atau muslim sebagai minoritas.

Saat warga Hindu Tengger memperingati Hari Raya Nyepi atau Karo, keluarga muslim di kampung tersebut pun memberikan dukungan. Sebaliknya, saat Ramadan dan Idul Fitri, umat Hindu Tengger pun menghormati.

“Saat hari raya Idul Fitri warga Hindu Tengger ikut bersilaturahmi ke rumah warga muslim sebagai bentuk menghormati Idul Fitri. Jadi, warga muslim walau minoritas tetap merasa nyaman dan tenang,” katanya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/