Soegeng, Kepala Rupbasan Kelas II Pasuruan yang Sebelumnya Jabat Karutan

Sejak 18 Januari 2020, pucuk pimpinan Rupbasan Kelas II Pasuruan berganti. Soegeng resmi menggantikan pimpinan sebelumnya, Zonni Andra yang promosi sebagai Kepala Rupbasan Kelas I Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

——————

Ramah dan bersahaja. Itulah kesan yang muncul saat Jawa Pos Radar Bromo mendatangi ruang Kepala Rupbasan Pasuruan Soegeng untuk bersilaturahmi. Berulang kali ia tersenyum simpul setiap kali hendak menjawab pertanyaan yang diajukan.

“Ini pertama kalinya saya berdinas di luar Kabupaten Probolinggo. Selama hampir 30 tahun, saya hanya berdinas di Rutan Kraksaan,” katanya mengawali pembicaraan.

Soegeng mengungkapkan, pilihannya mengabdi di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) tidak terlepas dari keaktifannya di Pramuka saat bersekolah. Dari sini ia terpikir untuk berbuat sesuatu yang baik pada pelaku kriminal.

Namun, karena tidak terlalu menyukai profesi polisi ataupun tentara, ia pun memilih menjadi polisi penjara. Ia lantas mendaftar ke Kantor Wilayah (Kanwil) Surabaya pada 1989 dan lulus.

Selang satu tahun kemudian, ia diminta berdinas di Rutan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Selama lima tahun, lulusan S-1 Institut Zainul Hasan (Inzah) Genggong, Probolinggo, ini menjadi anggota jaga. Dan pada 1995, ia naik promosi dan dipercaya menjabat Kasubsi Pelayanan dan Keamanan serta Ketertiban (Kamtib) selama lima tahun hingga 2000.

Soegeng lantas menjabat sebagai Kasubsi Pengelolaan selama 19 tahun. Hingga akhirnya ia promosi dan menjabat sebagai Kepala Rupbasan Pasuruan Kelas II Pasuruan. Promosi ini adalah pertama kalinya Soegeng dinas di luar wilayah Probolinggo setelah mengabdi hampir 30 tahun di Rutan Kraksaan.

Selama berada di Rutan Kraksaan, berbagai prestasi berhasil diukir oleh lulusan S-2 jurusan Hukum Universitas Islam Malang (Unisma) ini. Di antaranya membantu Rutan Kraksaan menjadi rutan terbaik pada 2009.

KEMENKUM HAM: Soegeng pernah berdinas di Rutan Kraksaan selama puluhan tahun. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Saat itu dirinya menjadi ketua tim Rutan Kraksaan. Salah satu upaya yang dilakukannya saat itu adalah peningkatan pelayanan dan kebersihan sarana serta prasarana (sarpras) di rutan setempat.

“Saya juga kerap membantu warga binaan yang putus asa karena tidak punya keluarga. Banyak yang bangkit dan bisa menjadi pengusaha yang cukup sukses di desanya,” jelasnya.

Pria kelahiran September 1968 ini mengaku, dirinya harus melakukan pendekatan yang berbeda selama berdinas di Pasuruan. Sebab, di Rupbasan ia tidak lagi mengamankan manusia, namun barang sitaan. Pengamanan dan perawatan barang yang disimpan di sini menjadi perhatiannya.

Untuk itu, pria yang tinggal di Desa Muneng, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, ini berencana berkoordinasi dengan Polres maupun Kejaksaan untuk selalu tertib administrasi tentang barang sitaan.

Bagi perkara yang sudah inkracht, maka barang tersebut harus dikembalikan ke pihak terkait. Sehingga, tidak terjadi penumpukan barang di Rupbasan Pasuruan.

Sebab, selama ini pengembalian barang sitaan sering macet dan dibiarkan menumpuk bertahun-tahun di gudang. Barang sitaan ini bukan hanya berasal dari wilayah Kota dan Kabupaten Pasuruan saja, namun ia juga ada yang berasal dari Kota Malang. Dan kondisinya saat ini sudah rusak karena terkena hujan dan panas.

“Salah satu caranya, harus rutin inventarisasi barang dan langsung koordinasi dengan pihak terkait. Minimal sebulan sekali harus ada pendataan agar selalu tertib,” sebutnya.

Pria kelahiran Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, ini menerangkan, banyak kondisi yang berbeda antara Rutan Kraksaan dan Rupbasan. Salah satunya, jumlah personel di Rupbasan minim sekali. Hanya lima orang. Karena itu, ia harus ikut turun tangan melakukan pengecekan dan inventarisasi barang sitaan setiap harinya.

Menurut suami dari Evi Indah Verawati ini, dirinya sudah mulai beradaptasi dengan posisi barunya. Ia tetap akan melakukan pendekatan yang humanis. Pihaknya mengedepankan semangat kekeluargaan dalam kerja sama tim. Sehingga, seluruh personel di Rupbasan Pasuruan betah dan semangat bekerja dengan ikhlas.

“Alhamdulillah, kultur Probolinggo dan Pasuruan tidak jauh berbeda. Sama-sama agamis. Sementara anak dan istri tetap di Probolinggo,” tutur bapak dua putra ini. (riz/hn/fun)