Melihat Keberangkatan Perdana Kapal Guru ke Pulau Gili Ketapang

Sedikitnya ada 24 guru SD Negeri dan SMP Negeri di Gili yang harus menyeberang lautan supaya bisa mengajar di Pulau Gili Ketapang. Beragam suka duka dirasakan oleh mereka. Mulai biaya perjalanan setiap harinya, sampai cemas dan was-was saat berada di lautan.

ARIF MASHUDI, Sumberasih

Sekitar pukul 05.30, kapal-kapal pengangkut penumpang ke Gili berjejer. Mereka menunggu penumpang yang rutin ke Gili setiap hari. Mereka adalah guru. Pada salah satu kapal, tampak sebuah banner yang dipasang di dinding kapal. Pada banner itu terpampang sebuah tulisan.

Pemberangkatan perdana, kapal guru ke Pulau Gili Ketapang. Tak berselang lama, sejumlah laki-laki dan perempuan berdatangan. Sebagian dari mereka tampak seragam. Merekalah guru-guru yang mulai dipetakan untuk memberi pengalaman pada pejabat.

Sabtu (26/1), menjadi penanda program pemkab melalui Dispendik yang diresmikan. Yakni, kapal penyeberangan bagi guru, agar segera tiba ke sekolah. Kapal penyeberangan itu lebih besar dari biasanya. Dengan adanya fasilitas tersebut, mereka tak perlu lagi menceburkan ke laut.

Dispendik me-launching pemberangkatan para guru ke Pulau Gili menggunakan perahu yang disediakan oleh pemkab tersebut. Kini, puluhan guru itupun tidak lagi harus merogoh kantongnya untuk membayar ongkos kapal tiap kali. Karena berangkat dan pulang mengajar di Pulau Gili Ketapang.

Raut wajah para guru yang hendak berangkat mengajar ke Pulau Gili Ketapang, tampak ceria dan semringah. Meskipun, mereka memiliki banyak cerita suka duka selama mengajar di Pulau Gili Ketapang. Sebab, mereka yang berdomisili di luar pulau Gili, tiap harinya harus menyeberangi lautan sejauh sekitar 25 kilometer.

Mislan, salah satu guru yang paling lama mengajar di SDN Gili Ketapang 3, mengatakan. Pria asal Kelurahan Kebonsari Wetan Kecamatan Kanigaran Kota Probolinggo itu sudah 21 tahun mengabdikan dirinya menjadi pengajar di Gili Ketapang. ”Saya sejak tahun 1998, ditugaskan menjadi guru di Gili Ketapang. Waktu itu, saya sudah diangkat menjadi PNS sejak tahun 1987,” katanya.

Ia yang sehari-harinya menjadi guru kelas itu mengatakan, suka duka menjadi guru di Pulau Gili Ketapang banyak. Ia berangkat dari rumah sekitar pukul 06.00. Dengan menggunakan perahu jasa penyeberangan, ia bertolak menuju Pulau Gili Ketapang.

Sekitar 45 menit dirinya menempuh perjalanan di atas laut. Cerita duka paling banyak dan sering dirasakan selama perjalanan di atas laut. Betapa tidak, cuaca yang tidak mendukung selama perjalanan menyeberangi lautan, paling menghantui. Sebab, ada tiga ombak yang sering terjadi di Probolinggo.

Yaitu ombak karena angin gending, angin selabung dan angin muson barat. Saat ketiga angin ini terjadi, pasti ombak laut besar. Sehingga, dirinya selama perjalanan diombang ambingkan oleh ombak. “Kalau cerita diterjang ombak besar, terus hujan udah biasa dirasakan kami. Karena sudah terbiasa, rasa takut perlahan berkurang. Tapi, tetap ada rasa khawatir,” katanya.

Selain itu dikatakan Mislan, dirinya juga harus mengeluarkan ongkos tiap harinya. Mulai dari parkir motor Rp 2 ribu, sampai ongkos naik perahu penyeberangan Rp 10 ribu tiap kali berangkat dan Rp 10 ribu untuk pulang. “Belum lagi, kami harus menunggu perahu berangkat menyeberang, karena penumpang belum penuh,” ujarnya.

Dengan program Bupati Probolinggo diakui Mislan, sangat membantu. Sebab, dirinya tiap harinya tidak lagi harus memikirkan ongkos jasa penyeberangan ke pulau gili ketapang. Selain itu, dirinya juga bisa hadir ke sekolah lebih cepat. Sebab, perahu yang dinaiki tidak menunggu lama untuk berangkat.

Alhamdulillah, ada perahu khusus guru menyeberang ke Gili Ketapang. Kami jam 06.30 bisa langsung berangkat menyeberang dan sampai lebih cepat,” ungkapnya.

Dirinya merasakan bangga dan senang saat jumlah siswa yang sekolah terus semakin banyak. Dulu, saat tahun 1998 mengajar, jumlah siswa tidak terlalu banyak. Bahkan, jumlah siswa kelas VI hanya ada 1 orang. ”Alhamdulillah, sekarang sudah ada hampir 80 siswa di kelas VI saja,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan April Iriani. Guru asal Dringu itu mengaku, dirinya baru mendapatkan amanah mengajar di pulau Gili Ketapang sekitar 1,5 tahun lalu. Sejak itu, dirinya harus membiasakan diri berangkat pagi dan menyeberang lautan untuk bisa mengajar.

“Wah kalau cerita, Rabu kemarin saya hampir mati. Waktu mau berangkat ngajar, cuaca mendung dan ombak besar. Sampai ombaknya itu hampir naik ke atas kapal. Untung kami diberi selamat,” ungkapnya.

April mengaku, dirinya sudah mulai terbiasa untuk menyeberangi lautan. Meskipun, terkadang harus menginap di Pulau Gili Ketapang, saat kondisi cuaca tak mendukung untuk pulang. Sebab, saat dipaksakan pulang menyeberang, sangat bahaya dan rawan digulung ombak. ”Kalau memang mendesak harus pulang, ya saya pulang. Kalau tidak, saya menginap,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Mursidi, kepala SMP satu-satunya di Gili. Menurutnya, upaya ke lokasi saat ini semakin mudah. “Ini memudahkan mobilisasi teman-teman guru,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Dewi Korina mengatakan, kebijakannya itu menyesuaikan program Bupati Probolinggo, Nawa Cerdas. Pihaknya menyediakan perahu khusus guru untuk menyeberang ke Gili, saat berangkat ataupun pulang mengajar. Sehingga, mereka bisa lebih cepat tiba di sekolah dan para siswa cepat mendapatkan pelajaran dari para guru. ”Ada sekitar 20 guru lebih dari luar pulau Gili. Tiap hari harus menyeberang dan kami berikan subsidi transportasinya,” ujarnya. (rf)