alexametrics
28.6 C
Probolinggo
Sunday, 29 November 2020

Inilah Rebana Klasik Nurudh Dholam yang Membuat Santri Makin Cinta Salawat

Bagi para pecinta salawat, bersalawat tanpa iringan alat musik tidak ada masalah. Namun, dengan adanya iringan instrumen musik seperti rebana, bersalawat terasa makin asyik dan khusyuk. Cara kedua ini yang digunakan santri Pesantren Salafiyah Nurudh Dholam, dalam mengajak jamaah gemar bersalawat.

—————-

Kegiatan dibakan menjadi rutinitas santri Pesantren Salafiyah Nurudh Dholam, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Setiap Kamis malam atau malam Jumat, mereka kerap melantunkan salawat dengan iringan rebana.

SENI: Santri yang memainkan rebana. (Rebana Klasik Nurudh Dholam For Jawa Pos Radar Bromo)

Semula, kegiatan ini hanya melantunkan salawat tanpa iringan tabuan intrumen musik. Namun, akhirnya kesenian albanjari masuk hingga membuat para santri makin asyik bersalawat. Bahkan, sering tampil di hadapan masyarakat luas dalam berbagai hajatan.

Salah satunya dalam kegiatan imtihan Pesantren Salafiyah Nurudh Dholam, pada April 2019. Belasan santri pesantren di Kelurahan Kiduldalem, Kecamatan Bangil, ini tampil di atas panggung. Sebagian ada yang menabuh rebana, sebagian yang lain tampak merdu melantunkan salawat.

Kegiatan imtihan hanya satu dari sekian sajian yang menampilkan keterampilan para santri Pesantren Salafiyah Nurudh Dholam dalam bersalawat menggunakan rebana. Selain kegiatan imtihan, mereka sering dapat undangan ke berbagai daerah.

Tak hanya di wilayah Pasuruan, mereka juga sering tampil di luar kota, seperti Malang dan Surabaya. Bahkan, sampai ke luar pulau Jawa, seperti Kalimantan dan Sulawesi. Dalam setiap kegiatan itu, mereka mengajak bersalawat dengan iringan rebana. “Selain imtihan, santri-santri kami juga sering diundang berbagai hajatan. Tidak hanya di Pasuruan, tapi juga luar daerah,” ujar Pengasuh Ponpes Salafiyah Nurudh Dholam, Kiai Muhammad Zainudin Anwar.

Kiai Zain -sapaannya Kiai Muhammad Zainudin Anwar- mengatakan, sejatinya kegiatan salawatan di pesantrennya sudah ada sejak 1968. Semula hanya salawatan biasa, tanpa iringan tabuan alat musik.

Pada 1993, seni albanjari mulai diperkenalkan. Saat itu ada alumnus ponpes setempat yang bersilaturahmi. Dialah yang mengenalkan alat musik rebana kepada santri Ponpes Salafiyah Nurudh Dholam. “Selain mengenalkan, juga mengajarkan kepada santri. Dari situlah cikal-bakal albanjari muncul di sini,” ujarnya.

Adanya alat musik rebana, menuru Kiai Zain, memang berdampak positif bagi santri yang menyukai musik. Mereka bertambah semangat untuk bersalawat. “Efeknya terasa bagi yang suka musik. Bagi yang tidak, biasa saja. Kami pengasuh dan pengurus pondok rata-rata tidak menyukai musik. Tapi, tidak melarang santri untuk menggunakan alat musik, seperti rebana,” ujarnya.

Pelan tapi pasti, seni permainan alat rebana mulai dikenal para santri. Mereka menggunakan rebana untuk berbagai kegiatan. Tak hanya kegiatan salawatan rutin di pondok, tapi juga ketika ada undangan di luar pondok. Hal itulah yang kemudian melahirkan Rebana Clasik Nurudh Dholam (RCND). “Kami memang lebih banyak menggunakan alat-alat klasik, seperti rebana,” ujar Kiai Zain.

Kiai Zain mengatakan, para santri Ponpes Nurudh Dholam, memiliki keterampilan berbeda-beda. Pihaknya pun tak melarang mereka menekuni hobi masing-masing. Seperti bermain musik. “Kami tidak melarang, tapi lebih mengarahkan. Misalnya mengarahkan bermain rebana. Supaya kemampuan santri lebih terasah,” ujarnya.

Dengan adanya iringan rebana, diharapkan bisa mendorong kecintaan para santri untuk bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW. “Yang terpenting mereka bisa lebih cinta bersalawat,” ujarnya. (one/rud)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Pendaftar Anugerah Kampung Hebat Membeludak

Antusiasme Rukun Tetangga (RT) di Kota Pasuruan, mengikuti Anugerah Kampung Hebat Tahun 2020, sangat terasa.

Karena Sukai Istri Korban, Tersangka Mau Bantu Gorok Leher Suami

Andik mau jadi eksekutor bukan hanya karena diminta oleh istri korban. Lebih dari itu, tersangka Andik memiliki perasaan suka pada Silvia.

Pencarian Hari Ketiga, Temukan Mayat di Perairan Gili, Diduga Wahyu

Pihak keluarga masih ragu itu jasad dari Wahyu Ibrahim, sebab kondisinya sudah agak susah dikenali. Tetapi, ada satu ciri fisik yang sama. Yakni, ada bekas jahitan di paha sebelah kanan.

Hujan Deras, Dua Dapur Warga Pakuniran Tergerus Longsor

Hujan deras disertai angin kencang terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Probolinggo. Salah satunya mengakibatkan longsor di Kecamatan Pakuniran dan Kecamatan Lumbang.

Hindari Sepeda, Bus Masuk Sungai, Pesepeda Asal Wonorejo Meninggal

Malang nasib Sujono. Kakek berusia 65 tahun itu meninggal setelah tertabrak bus saat hendak menyeberang jalan, Sabtu (28/11).