Inilah Cerita Komunitas Influencer Probolinggo yang Baru Terbentuk Hitungan Bulan

Media sosial bukan lagi sekadar tempat untuk update status atau untuk mem-posting foto. Namun, juga bisa menjadi tempat menyajikan banyak informasi. Karenanya, bermunculan akun-akun influencer, termasuk di Probolinggo.

————–

Media sosial bukan barang baru bagi masyarakat. Hampir setiap orang yang memiliki smartphone, pasti telah memiliki dan menggunakan media sosial.

Seiring dengan maraknya penggunaan media sosial, muncullah sejumlah istilah. Seperti, selebgram, influencer, maupun buzzer. Termasuk di Probolinggo. Sejauh ini, banyak influencer yang memberi pengaruh kepada warganet di wilayah Probolinggo.

Salah satu bentuk pengaruh ini terlihat ketika beberapa waktu lalu sempat ramai dibicarakan kegiatan Ngarit Bersama di Alun-alun Kota Probolinggo. Berawal dari spontanitas admin akun media sosial melihat kondisi Alun-alun Kota Probolinggo yang berantakan memunculkan ide untuk membersihkan alun-alun sekaligus bakti sosial kepada peternak di Kota Probolinggo.

Postingan ini mampu memantik ratusan komentar warganet. Bahkan, beragam komunitas tertarik untuk bergabung dalam acara yang akhirnya gagal dilaksanakan itu.

Pekan lalu, Jawa Pos Radar Bromo bertemu dengan Komunitas Influencer Probolinggo. Komunitas ini baru terbentuk dalam hitungan bulan. Tepatnya sekitar Desember 2019, saat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengumpulkan sekitar 300 influencer se-Jawa Timur.

“Kalau diperkirakan, ya baru terbentuk 3-4 bulanan lah. Di Kota Probolinggo, ada sekitar 20 akun, tapi kalau orangnya sekitar 15 orang. Karena ada satu admin pegang dua akun juga,” ujar Admin Akun Probolinggo Syauban Anas.

Kebetulan saat itu, Anas yang hadir dalam pertemuan dengan gubernur. Saat itu yang diundang pemilik akun yang berafiliasi dengan kota-kota di Jawa Timur. “Ada yang pakai akun facebook, Instagram, yang penting berafiliasi dengan kota di Jawa Timur. Setiap akun memiliki tipe-tipe informasi yang berbeda yang disampaikan kepada follower-nya,” ujarnya.

Anas mencontohkan, akun facebook miliknya cenderung membagikan informasi. Ada juga akun-akun Probolinggo yang menyampaikan informasi tentang kuliner maupun tempat wisata. “Influencer ini orang yang bisa memberikan pengaruh kepada follower melalui postingan-postingan yang dikirimkan,” ujarnya.

Salah satu postingan yang memancing perhatian adalah postingan foto tempat parkir Terminal Bayuangga. Namun, komentar warganet banyak mengarah pada aktivitas kucing di dekatnya. “Postingan itu banyak mendapat perhatian dari netizen,” terangnya.

Anas juga melihat bahwa antara follower di facebook dengan Instagram, memiliki tipikal berbeda. Di facebook, orang berkomentar sekenanya dan cenderung asal. “Kalau di Instagram, komentar itu lebih cerdas. Selain itu, follower di Instagram lebih menyukai postingan yang sifatnya seperti wisata dan kuliner. Kalau di facebook yang menjadi minat postingan peristiwa,” ujar warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran ini.

Selain Anas, ada juga Fauzi Rahmadani. Warga Kelurahan Kareng Lor, Kota Probolinggo, ini merupakan admin dengan jumlah follower mencapai 20 ribu. Sayangnya, yang aktif tidak sebanyak jumlah follower-nya. “Rata-rata follower aktif ini hanya sekitar 10 ribu setiap hari. Ini menunjukkan akses internet di Probolinggo belum merata,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini jauh berbeda dibandingkan daerah lain, dimana follower aktif bisa sampai 3-4 kali lipat dari jumlah follower. Di Probolinggo ada daerah-daerah yang sinyal internet masih belum begitu baik. “Di Probolinggo ini ada kantong-kantong sinyal internet bagus. Yang besar itu di Kota Probolinggo dan Kraksaan,” ujarnya.

Fauzi menjelaskan, influencer sebenarnya buzzer juga. Tetapi, lebih memberikan pengaruh pada follower-nya. Sekarang istilah buzzer cenderung dinilai negatif, terdampak politik. “Buzzer itu sebenarnya sudah ada sejak 2014 dan ada macam-macam buzzer. Terutama untuk event itu biasanya ada buzzer. Ketika pemilu kemarin, juga bermunculan buzzer-buzzer politik. Padahal, buzzer juga tidak selamanya jelek,” ujarnya. (put/rud/fun)