alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Cerita di Balik Situs Watu Banteng di Petungasri Pandaan

Bentuknya menyerupai sapi, namun hanya terdiri atas badan dan kaki. Tidak ada bagian kepala. Bagi warga di Lingkungan Macanan, Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, batu ini disebut Situs Watu Banteng. Sebuah benda cagar budaya yang berasal dari Kerajaan Majapahit.

———————-

Situs Watu Banteng berada di tengah tegalan di Lingkungan Macanan, Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Situs ini terbuat dari batu andesit.

Lalu di sebelah utara dan selatan situs, terdapat dua pilar berbentuk balok dengan bagian atasnya bulat. Terbuat dari batu andesit pula. Dan di sebelah timurnya terdapat benda cagar budaya lain, yaitu yoni tanpa linggo.

Teguh Hariawan, pemerhati sejarah asal Prigen menjelaskan, Situs Watu Banteng adalah arca nandi atau sapi. Warga sekitar menyebutnya dengan Situs Watu Banteng. Sebab, bentuknya menyerupai banteng tanpa kepala.

Berdasarkan bentuk situs itu, posisi sapi sedang duduk. Kemudian kaki depan ditekuk ke belakang, dan kaki belakang ditekuk ke depan. Lalu, ekornya terlihat, tapi kurang begitu jelas. Sedangkan bagian kepalanya tidak ada.

Sayangnya, situs ini telah dicat warna merah. Bekas cat itu bahkan masih menempel. Entah siapa yang mengecatnya.

“Nandi itu kendaraan Dewa Brahma dalam mitologi Hindu. Diduga kuat situs ini dari kerajaan Majapahit. Selama ini, belum pernah ada ekskavasi di lokasi areal situs ini,” tuturnya.

Bentuknya menyerupai sapi, namun hanya terdiri atas badan dan kaki. Tidak ada bagian kepala. Bagi warga di Lingkungan Macanan, Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, batu ini disebut Situs Watu Banteng. Sebuah benda cagar budaya yang berasal dari Kerajaan Majapahit.

———————-

Situs Watu Banteng berada di tengah tegalan di Lingkungan Macanan, Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Situs ini terbuat dari batu andesit.

Lalu di sebelah utara dan selatan situs, terdapat dua pilar berbentuk balok dengan bagian atasnya bulat. Terbuat dari batu andesit pula. Dan di sebelah timurnya terdapat benda cagar budaya lain, yaitu yoni tanpa linggo.

Teguh Hariawan, pemerhati sejarah asal Prigen menjelaskan, Situs Watu Banteng adalah arca nandi atau sapi. Warga sekitar menyebutnya dengan Situs Watu Banteng. Sebab, bentuknya menyerupai banteng tanpa kepala.

Berdasarkan bentuk situs itu, posisi sapi sedang duduk. Kemudian kaki depan ditekuk ke belakang, dan kaki belakang ditekuk ke depan. Lalu, ekornya terlihat, tapi kurang begitu jelas. Sedangkan bagian kepalanya tidak ada.

Sayangnya, situs ini telah dicat warna merah. Bekas cat itu bahkan masih menempel. Entah siapa yang mengecatnya.

“Nandi itu kendaraan Dewa Brahma dalam mitologi Hindu. Diduga kuat situs ini dari kerajaan Majapahit. Selama ini, belum pernah ada ekskavasi di lokasi areal situs ini,” tuturnya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/