alexametrics
28 C
Probolinggo
Monday, 17 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Cerita Sanewan, Muslim yang 24 Tahun Menjadi Penjaga GKJW Kraksaan

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

Kerukunan umat beragama haruslah tetap dijaga. Agar kehidupan berbangsa dan bernegara bisa damai dan tenteram. Itulah yang terlihat di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Gereja itu dijaga seorang muslim yang taat beribadah.

MUKHAMAD ROSYIDI, Kraksaan, Radar Bromo

Sore itu (22/8) sekitar pukul 15.00, Sanewan melakoni pekerjaan rutinnya. Membersihkan rumput yang ada di halaman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan. Rumput itu dicabuti dan dibuang ke tempat sampah yang ia bawa dengan becaknya.

Sesekali, ia menghela napas karena kecapekan. Maklum, usianya telah menginjak 61 tahun. Meskipun begitu, ia tetap bersemangat untuk bekerja.

Setelah selesai mencabut rumput, ia lantas menutup semua pintu gereja. Sebelum itu dilakukan, ia memastikan semua area gereja telah bersih dari sampah. Setelah yakin, baru kemudian ditutup. Terakhir, pagar depan gereja ditutupnya.

Itulah yang dilakoni ayah tiga anak itu setiap harinya. Meskipun seorang muslim, ia melakoni pekerjaan sebagai penjaga dan tukang bersih di tempat ibadah umat Nasrani itu. “Saya di sini bekerja. Saya Alhamdulillah muslim,” katanya memulai pembicaraan.

Meski raut mukanya telah keriput, ia tampak bersemangat dalam bekerja. Menurutnya, selama kurun waktu 24 tahun dia menjadi waker di GKJW. Dan Newan –panggilannya- mengaku menikmati pekerjaannya itu. Meskipun berbeda keyakinan, pekerjaannya itu ia anggap sebagai wujud kebhinnekaan dan keberagaman. Baginya, sesama umat beragama harus saling menjaga.

Itulah yang menjadi motivasinya menjadi waker. Karena itu, ia sanggup bertahan dan menjalani aktivitas itu selama 24 tahun. Selain itu, menurutnya, semua warga yang biasa beribadah di GKJW orang-orang yang baik.

Bahkan, tidak pernah sedikitpun ada yang menghina atau mengajaknya untuk berpindah keyakinan. Malahan, mereka mendukungnya ketika dirinya beribadah. Seperti salat Jumat. Ketika ia bekerja, ia diminta untuk pulang lebih awal di hari Jumat agar bisa salat tepat waktu. Begitupun saat Ramadan.

“Kalau Ramadan saat saya bekerja selalu diingatkan. Agar tidak terlalu capek atau disuruh istirahat. Mereka sangat perhatian,” ujarnya sembari mengusap peluh yang mengucur dari dahinya.

Peran Newan pun cukup penting. Melalui Newan, pihak gereja bisa bersosialisasi dengan warga sekelilingnya. Bahkan, setiap ada kegiatan gereja selalu mengundang warga sekitar. “Kalau diundang pasti makanan dibedakan. Mereka memahami kami,” tuturnya.

Newan memceritakan, selama bekerja ia banyak belajar. Yaitu belajar untuk menghormati agama lain. Saling menghormati katanya, merupakan hal yang patut dijaga. “Cara saya menghormati yaitu bekerja dengan ikhlas,” jelasnya.

Wahyu, salah seorang jamaah gereja mengatakan, pihaknya sangat terbantu dengan totalitas Newan. Semua pekerjaan di gereja selalu diselesaikan olehnya.

“Pak Newan ini bekerja sebelum saya masuk gereja. Jadi, lama sekali. Dan keberadaan Pak Newan sangat membantu sekali,” katanya.

Adanya waker dan sekaligus tukang bersih-bersih gereja seorang muslim tidak membuatnya risih. Begitu pun jamaat lain. Mereka menganggap Newan sebagai keluarga.

“Seperti keluarga. Kami sama-sama saling menghormati. Kami tidak pernah mengganggu keyakinan Pak Newan, begitu juga dia pada kami,” terangnya. (hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

Kerukunan umat beragama haruslah tetap dijaga. Agar kehidupan berbangsa dan bernegara bisa damai dan tenteram. Itulah yang terlihat di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Gereja itu dijaga seorang muslim yang taat beribadah.

MUKHAMAD ROSYIDI, Kraksaan, Radar Bromo

Sore itu (22/8) sekitar pukul 15.00, Sanewan melakoni pekerjaan rutinnya. Membersihkan rumput yang ada di halaman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan. Rumput itu dicabuti dan dibuang ke tempat sampah yang ia bawa dengan becaknya.

Mobile_AP_Half Page

Sesekali, ia menghela napas karena kecapekan. Maklum, usianya telah menginjak 61 tahun. Meskipun begitu, ia tetap bersemangat untuk bekerja.

Setelah selesai mencabut rumput, ia lantas menutup semua pintu gereja. Sebelum itu dilakukan, ia memastikan semua area gereja telah bersih dari sampah. Setelah yakin, baru kemudian ditutup. Terakhir, pagar depan gereja ditutupnya.

Itulah yang dilakoni ayah tiga anak itu setiap harinya. Meskipun seorang muslim, ia melakoni pekerjaan sebagai penjaga dan tukang bersih di tempat ibadah umat Nasrani itu. “Saya di sini bekerja. Saya Alhamdulillah muslim,” katanya memulai pembicaraan.

Meski raut mukanya telah keriput, ia tampak bersemangat dalam bekerja. Menurutnya, selama kurun waktu 24 tahun dia menjadi waker di GKJW. Dan Newan –panggilannya- mengaku menikmati pekerjaannya itu. Meskipun berbeda keyakinan, pekerjaannya itu ia anggap sebagai wujud kebhinnekaan dan keberagaman. Baginya, sesama umat beragama harus saling menjaga.

Itulah yang menjadi motivasinya menjadi waker. Karena itu, ia sanggup bertahan dan menjalani aktivitas itu selama 24 tahun. Selain itu, menurutnya, semua warga yang biasa beribadah di GKJW orang-orang yang baik.

Bahkan, tidak pernah sedikitpun ada yang menghina atau mengajaknya untuk berpindah keyakinan. Malahan, mereka mendukungnya ketika dirinya beribadah. Seperti salat Jumat. Ketika ia bekerja, ia diminta untuk pulang lebih awal di hari Jumat agar bisa salat tepat waktu. Begitupun saat Ramadan.

“Kalau Ramadan saat saya bekerja selalu diingatkan. Agar tidak terlalu capek atau disuruh istirahat. Mereka sangat perhatian,” ujarnya sembari mengusap peluh yang mengucur dari dahinya.

Peran Newan pun cukup penting. Melalui Newan, pihak gereja bisa bersosialisasi dengan warga sekelilingnya. Bahkan, setiap ada kegiatan gereja selalu mengundang warga sekitar. “Kalau diundang pasti makanan dibedakan. Mereka memahami kami,” tuturnya.

Newan memceritakan, selama bekerja ia banyak belajar. Yaitu belajar untuk menghormati agama lain. Saling menghormati katanya, merupakan hal yang patut dijaga. “Cara saya menghormati yaitu bekerja dengan ikhlas,” jelasnya.

Wahyu, salah seorang jamaah gereja mengatakan, pihaknya sangat terbantu dengan totalitas Newan. Semua pekerjaan di gereja selalu diselesaikan olehnya.

“Pak Newan ini bekerja sebelum saya masuk gereja. Jadi, lama sekali. Dan keberadaan Pak Newan sangat membantu sekali,” katanya.

Adanya waker dan sekaligus tukang bersih-bersih gereja seorang muslim tidak membuatnya risih. Begitu pun jamaat lain. Mereka menganggap Newan sebagai keluarga.

“Seperti keluarga. Kami sama-sama saling menghormati. Kami tidak pernah mengganggu keyakinan Pak Newan, begitu juga dia pada kami,” terangnya. (hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2