Siswa SMPN 5 Probolinggo Raih Perak dalam OSN IPA Nasional

BERPRESTASI: Ahmad Fathur Rohman didampingi Kepala SMP Negeri 5 Kota Probolinggo Subaidah (jilbab kuning) dan dua guru pembimbingnya, Yuli Astuti (paling kanan) dan Anjas Setyaningsih, paling kiri. (Ridhowati Saputri/Radar Bromo)

Related Post

Mengikuti kegiatan ekskul olimpiade sejak kelas 7 di SMP Negeri 5 Kota Probolinggo, Ahmad Fathur Rohman meraih buahnya saat ini. Dia berkesempatan mengikuti olimpiade IPA tingkat internasional di Qatar, setelah meraih medali perak di OSN IPA tingkat nasional di Jogjakarta.

RIDHOWATI SAPUTRI, Kanigaran, Radar Bromo

Jangan pernah meremehkan kemampuan anak-anak yang berasal dari wilayah pedesaan. Mereka pun mampu meraih prestasi, bahkan sampai tingkat nasional.

Ahmad Fathur Rohman, 14, membuktikannya. Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo itu meraih medali perak dalam olimpiade sains nasional (OSN) IPA tingkat nasional di Jogjakarta pada 30 Juni – 6 Juli 2019.

Karena prestasinya itu, Fathur –sapaannya- kini memiliki kesempatan mengikuti olimpiade sains tingkat internasional di Qatar. Meskipun Fathur harus ikut seleksi lagi. Yaitu, berkompetisi dengan pemenang medali emas dan perunggu di OSN tingkat nasional Jogjakarta itu.

“Ada kesempatan untuk mengikuti olimpiade internasional. Namanya International Junior Science Olympic bagi peraih medali emas, perak, dan perunggu. Tapi, ini pun harus melewati seleksi lagi,” terang Fathur yang kini duduk di kelas 9.

Fathur sendiri harus mengikuti proses panjang sebelum akhirnya bisa ikut OSN IPA tingkat nasional di Jogjakarta. Bahkan, proses itu dilaluinya sejak kelas 7 di SMPN 5 Kota Probolinggo.

“Saya ikut kelas olimpiade di sekolah. Waktu kelas 7, saya pilih di Fisika,” ujarnya.

Anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku tidak memiliki alasan khusus memilih fisika. Meskipun ada pilihan lain, seperti Biologi dan Matematika.

“Mungkin karena Fisika tidak banyak hafalan ya,” ujarnya sambil tertawa.

Sebelum mengikuti OSN tingkat nasional, Fathur telah mengikuti OSN IPA tingkat Kota Probolinggo dan Jawa Timur. Untuk tingkat Kota Probolinggo, putra pasangan Tumar dan Sri Wahyuni ini meraih juara pertama.

Kemudian di tingkat Jawa Timur, Fathur meraih posisi delapan besar dan berhak mewakili Jawa Timur dalam OSN ke tingkat nasional bersama tujuh rekannya yang lain.

Dalam OSN tingka nasional, ada dua tahapan yang harus diikuti peserta. Yaitu, ujian tulis dan praktikum.

“Ujian praktikum itu satu alat dipakai dua orang. Saya pakai alat bersama perwakilan dari Sumatra barat,” ujarnya.

Dalam ujian praktikum, ada beberapa hal yang harus dilakukan Fathur. Seperti praktikum mengenai senyawa, mengukur suhu, mengukur volume gas, dan menyelesaikan beberapa soal. “Ndak sempat lihat-lihat tim lain lagi,” ujarnya.

OSN IPA tingkat nasional sendiri, diikuti 136 peserta. Pelaksanaannya dilakukan pada 30 Juni 2019 sampai 6 Juli 2019.

Fathur mengaku, sebenarnya tidak menaruh harapan besar untuk meraih medali. Apalagi melihat rekan-rekannya satu tim dari Jawa Timur telah pulang dengan membawa medali perunggu.

“Ya sempat pesimis. Waktu diumumkan teman-teman saya sudah dapat perunggu, tapi saya belum ada namanya. Ya pasrah sudah,” ujarnya.

Bahkan, Fathur sempat tidak mau makan. Dia memilih untuk menunggu pengumuman disampaikan panitia.

“Sampai disuruh makan tidak mau dia. Nunggu pengumuman selesai,” ujar Yuli Astutik, salah satu guru pembimbing Fathur dalam kelas olimpiade di SMPN 5.

Karena itu, begitu disebut meraih medali perak, Fathur bersyukur. Prestasi itu langsung dikabarkan oleh sekolah ke orang tuanya di Bantaran, pasangan suami-istri yang berprofesi sebagai petani. Namun, Fathur sendiri baru menyampaikan prestasi yang diraihnya itu ke orang tuanya saat sudah di rumah.

Saat ditanya tentang cita-citanya, Fathur mengaku ingin menjadi seorang tenaga pendidik. “Ingin jadi dosen suatu saat nanti,” ujarnya.

Sementara itu, Subaidah, kepala SMPN 5 Kota Probolinggo menjelaskan, pada 2018 Fathur sudah mengikuti OSN tingkat Kota dan Provinsi Jawa Timur.

“Untuk OSN tingkat kota meraih juara pertama. Tapi saat di untuk tingkat Jawa Timur, Fathur belum masuk dalam perwakilan OSN tingkat nasional. Baru pada tahun 2019 dia mewakili Jatim ke tingkat nasional,” ujarnya.

Subaidah menjelaskan, kelas olimpiade di SMPN 5 merupakan salah satu kegiatan ekskul. Kegiatan ini dibuka bagi siswa kelas 7 sampai kelas 10.

“Biasanya saat awal banyak yang mendaftar di Kelas Olimpiade. Tapi, ada seleksi dan lama-lama akhirnya berkurang. Sampai tinggal anak-anak yang memang betul-betul berminat di sana,” ujarnya.

Materi pelajaran di Kelas Olimpiade pun jauh berbeda dibandingkan di kelas biasa. Jauh lebih sulit, sehingga tidak sedikit anak-anak yang mundur. (*/hn)